Kenaikan Cukai Rokok Belum Tentu Tekan Prevalensi Perokok Anak

Nasional | jawapos | Published at Jumat, 28 Mei 2021 - 05:32
Kenaikan Cukai Rokok Belum Tentu Tekan Prevalensi Perokok Anak

JawaPos.com – Pemerintah telah memutuskan menaikkan cukai hasil tembakau tahun ini sebesar 12,5 persen. Soal ini, ekonom senior Indef Enny Sri Hartati menilai, jika kenaikan cukai rokok ditujukan untuk mengurangi angka prevalensi perokok, menurutnya langkah ini akan gagal.

Enny mencontohkan yang pernah terjadi. Berdasarkan data Bappenas, pada 2019 prevalensi merokok anak usia 10 hingga 18 tahun diharapkan turun jadi 5,4 persen. Namun yang terjadi, prevalensi perokok malah mengalami peningkatan hingga 9,1 persen.

“Dengan penerapan cukai yang eksesif malah produksi turun, namun prevalensi tetap tak berkurang,” kata Enny dalam webinar ‘Intervensi Rezim Kesehatan dan Ancaman Sektor Pertembakauan’ di Jakarta, Kamis (27/5).

Enny mengungkapkan, jika produksi rokok menurun sementara konsumsi rokok meningkat, yang terjadi rokok ilegal akan marak terjadi. Bahkan menurut penelitian Indef, kerugian akibat rokok ilegal pada 2020 sebesar Rp 4,38 triliun.

“Faktanya banyak rokok ilegal yang tidak ditindak. Kebijakan cukai yang terlalu eksesif berdampak lebih negatif dan tak sesuai tujuannya. Bahwa kita ingin mengintervensi harus instrumen tepat, ini saya rasa tidak tepat,” tuturnya.

Dalam kesempatan sama, Anggota Badan Legislasi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Firman Soebagyo meminta agar pemerintah mengutamakan keadilan dalam membuat peraturan terkait Industri Hasil Tembakau (IHT). Menurutnya, industri hasil tembakau selalu diklaim sebagai penyebab kematian terbesar menurut hasil riset yang dilakukan oleh kelompok antitembakau.

Namun di sisi lain, pemerintah juga menggunakan penerimaan cukai untuk kepentingan kesehatan. “Bahkan di dalam kebijakan Peraturan Menteri (Permen) Nomor 7 kami melihat sama sekali tidak ada keberpihakan kepada petaninya,” pungkasnya.

Artikel Asli