Merdeka Vokasi untuk Perkuat Link and Match dengan Industri

Nasional | republika | Published at Jumat, 28 Mei 2021 - 01:26
Merdeka Vokasi untuk Perkuat Link and Match dengan Industri

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset Teknologi, Wikan Sakarinto, mengatakan konsep program Kampus Merdeka Vokasi yang diluncurkan 25 Mei lalu, untuk memperkuat integrasi perguruan tinggi vokasi dengan dunia kerja. Fokusnya, kata Wikan, bukan hanya meningkatkan program studi D3 ke D4 atau pembukaan program SMK-D2 Jalur Cepat.

"Tapi untuk membuat link and match makin link dan macth dengan industri dan dunia kerja. Bukan sekadar upgrade saja tapi kita ingin bikin kelas kelas yang lebih link and match ," kata Wikan saat menjadi narasumber di Bincang Pendidikan secara virtual, Kamis (27/5).

Wikan mengungkapkan, kelas program kerja sama atau kelas industri akan ditingkatkan pada program ini. Ia mencontohkan pengembangan D4 teknik elektro antara Politeknik Elektronik Negeri Surabaya dengan vokasi UGM dan vokasi Undip, melibatkan industri dalam hal ini PLN mulai dari kurikulum, pengajar atau dosen, magang, hingga sertifikasi kompetensi

"Kurikulum dibikin bersama, dosen juga dari PLN rutin, magang di PLN, sampai sertifikasi kompetensi juga dirancangnya sama PLN, pokoknya ngelink and match, itu salah satu contoh," kata Wikan.

Wikan menyatakan, untuk mendorong link and match perguruan tinggi vokasi dan industri ini perlu diwujudkan dalam program yang lebih nyata. Karena itu, Ia meyakini salah satu bentuk melalui upgrading D3 menjadi D4 akan memperkuat kompetensi, kemampuan dan leadership para pekerja.
Sehingga industri dan dunia kerja nantinya lebih puas ketika menerima lulusan dari perguruan tinggi vokasi.

"Bayangkan materi training PLN yang ditraining saat masuk PLN, itu dipindah masuk ke kurikulum saja, jadi PLN nggak harus training ulang, sudah diajar bersama, magang juga di PLN. Jadi ketika lulus, otomatis kalan lulus sudah siap," ungkapnya.

Ia mengatakan, keuntungan tambahan lainnya dari upgrading D3 Ke D4 adalah, tidak perlu nantinya lulusan D3 melanjutkan ke S1 saat sudah bekerja. Sebab, biasanya para lulusan D3 yang sudah bekerja, pada akhirnya memilih untuk melanjutkan jenjang S1

"Anak anak D3 bekerja itu kebanyakan berapa tahun kerja itu mau ambil S1, industri yang rugi, karena dia akan meninggalkan kerjaannya padahal sudah ditraining, kenapa nggak D3 itu dinaikkan jadi D4, lalu dimatangkan di industri," kata Wikan.

Begitu juga dengan pembukaan pembukaan program SMK-D2 Jalur Cepat, menurutnya untuk mengisi kekosongan dari D3 ke D4. "Ketika D3 naik D4, siapa yg ngisi posisi ini sebagai teknisi ahli operator ahli, D2 fast track, nggak usah lama lama cukup SMK ditambah satu semester, itu bisa langsung magang di industri setahun, jadi industri diuntungkan karena mendapat tenaga kerja lebih technical," katanya.

Sebelumnya, Dua fokus utama dalam program Kampus Merdeka Vokasi adalah Dana Kompetitif Kampus Vokasi ( Competitive Fund Vokasi ) dan Dana Padanan Kampus Vokasi ( Matching Fund Vokasi ).

Fokus pertama Kampus Merdeka Vokasi adalah penawaran dana kompetitif untuk pembukaan program SMK-D2 Jalur Cepat. Program ini berbasis kerja sama antara SMK, dan kampus vokasi, dengan dunia kerja, untuk meningkatkan kualifikasi SDM yang terampil dan unggul dalam waktu yang lebih singkat.

“Lebih hemat masa studi, hemat biaya juga. Jadi, efisiensi ini yang kita ingin tekankan,” kata Mendikbudristek Nadiem Makarim.

Adapun syarat dalam program-program SMK-D2 Jalur Cepat adalah memiliki kemitraan serta kurikulum yang disusun bersama SMK-pendidikan tinggi vokasi-dunia kerja. Kemudian memiliki pengembangan sistem rekognisi pembelajaran lampau (RPL) bagi lulusan SMK, serta telah menyusun instrumen pengusulan SMK-D2 Jalur Cepat.

“Untuk memastikan kurikulum SMK itu memang baik, maka perguruan tinggi vokasinya akan memastikan mereka terlibat sedari awal untuk menyusun dan membantu meng-upgrade kurikulum di SMK-nya. Agar RPL ini sukses dan anak-anak ini mendapat prospek yang lebih tinggi, untuk mendapatkan pekerjaan yang baik pada saat mereka lulus dari perguruan tinggi vokasi. Mereka dapat ijazah D2, bukan hanya mendapatkan sertifikasi kompetensi dari SMKnya saja,” jelas Mendikbudristek.

Artikel Asli