Asia Pasifik Dihantui Pengangguran dan Inflasi

Nasional | koran-jakarta.com | Published at Jumat, 28 Mei 2021 - 00:04
Asia Pasifik Dihantui Pengangguran dan Inflasi

» Mayoritas anggota APEC baru memperoleh imunisasi secara luas pada pertengahan 2022.

» Pemerintah dan masyarakat telah belajar beradaptasi dengan cara-cara baru dalam bekerja.

JAKARTA - Ekonomi negara-negara kawasan Asia Pasifik pada tahun ini masih penuh ketidakpastian akibat perkembangan pandemi Covid-19. Kondisi tersebut menyebabkan negara-negara kawasan yang tergabung dalam forum kerja sama ekonomi regional Asia Pasifik atau APEC masih dihantui jumlah pengangguran yang terus meningkat serta ekspektasi inflasi yang lebih tinggi dan berpotensi menekan belanja konsumen.

Selain itu, pembatasan di berbagai negara membuat prospek investasi yang lemah diperkirakan berlanjut hingga akhir tahun, sehingga memengaruhi pertumbuhan ekonomi.

Dalam laporan Analisis Tren Regional APEC yang dikutip, Kamis (27/5), memperkirakan ekonomi kawasan Asia Pasifik bisa tumbuh 6,3 persen tahun ini atau lebih baik dibanding tahun 2020 lalu yang mengalami kontraksi 1,9 persen.

Direktur Unit Dukungan Kebijakan APEC, Denis Hew, mengatakan pertumbuhan ekonomi yang positif karena masyarakat mulai beraktivitas, meskipun masih terbatas.

"Ekonomi kawasan ini diperkirakan tumbuh 6,3 persen pada 2021 dengan perkiraan peningkatan kuat dalam aktivitas domestik dan global karena meningkatnya permintaan," kata Hew.

Laporan juga menyebutkan pemerintah di seluruh wilayah telah mempelajari cara-cara efektif untuk mengelola pandemi dan masyarakat juga telah belajar untuk beradaptasi dengan cara-cara baru dalam bekerja. Hal itu berdampak pada pembukaan kembali dan kegiatan ekonomi secara bertahap sehingga mampu meningkatkan konsumsi.

Di sisi lain, pengembangan dan produksi berbagai vaksin juga mampu meningkatkan optimisme untuk pemulihan ekonomi yang lebih tahan lama.

"Ketakutan terburuk dari tahun lalu tidak terjadi karena kami melihat pemulihan ekonomi yang lebih kuat pada paruh kedua tahun lalu dan ini kemungkinan akan berlanjut sepanjang 2021," katanya.

Namun demikian, laporan mengingatkan bahwa pemulihan yang tidak merata di wilayah tersebut terkait dengan perbedaan akses dan ketersediaan vaksin. Mayoritas negara anggota APEC baru dapat memperoleh imunisasi secara luas pada pertengahan 2022 dan seterusnya. Meski demikian, beberapa negara mengantisipasi dengan melakukan vaksinasi lebih awal yakni pada akhir 2021.

Dampak pandemi yang tidak proporsional juga disoroti dalam laporan tersebut, termasuk sebagian besar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang kekurangan modal dan keahlian teknologi untuk beralih ke bisnis online .

Kekurangan pada UMKM itu mengakibatkan kerugian dan penutupan serta meningkatkan kerentanan mata pencaharian dan kemiskinan.

Tidak Punya Akses

Sementara itu, Pakar Ekonomi Makro APEC, Rhea C Hernando, menambahkan orang-orang dengan keterampilan dan peralatan digital tidak mencukupi atau yang kurang akses internet berpotensi tidak memiliki kesempatan untuk melanjutkan pekerjaan dan studi mereka.

Akses yang tidak merata ke vaksin juga memperburuk perbedaan kecepatan dan kekuatan pemulihan ekonomi di wilayah tersebut.

"Pandemi telah menyebabkan kesenjangan dan ketidaksetaraan yang menjadi tantangan signifikan bagi pembuat kebijakan dan masyarakat," tegasnya.

Hernando menegaskan tidak boleh ada negara yang tertinggal dalam upaya pemulihan ekonomi sehingga kerja sama untuk mengatasi pandemi menjadi sangat penting.

"Reformasi struktural juga penting dilaksanakan untuk meningkatkan pengembangan sumber daya manusia dan melindungi lingkungan," kata Hernando.

Dalam kesempatan terpisah, Peneliti Ekonomi dari Centre for Strategist International Studies (CSIS), Fajar B Hirawan, mengatakan pemulihan di Asia Pasifik cukup beralasan jika dilihat dari kinerja sektor konsumsi dan produksi, khususnya Asean yang terus membaik sejak awal 2021.

"Kinerja industri manufaktur telah menunjukkan kondisi ekspansif sejak Januari 2021 yang ditunjukkan oleh nilai PMI Manufaktur di atas angka 50," kata Fajar.

Selain itu, mayoritas negara di kawasan itu sudah berpengalaman mengantisipasi krisis sejak 2020 yang menjadi modal utama untuk lebih siap lagi dalam penggunaan alokasi anggaran stimulus guna pemulihan ekonomi. n ers/SB/E-9

Artikel Asli