Tak Pernah Tahu sang Anak Ahli Torpedo

jawapos | Nasional | Published at 07/05/2021 14:42
Tak Pernah Tahu sang Anak Ahli Torpedo

Yang Hendak ke Italia, Yang Sudah Berencana Naik Gunung (9)

Yang satu ahli torpedo, satunya lagi perwira menengah. Kesederhanaan dan kesantunan mereka terus dikenang orang-orang yang ditinggalkan.

SEPTINDA AYU P.-FAJAR ANUGERAH T. , Surabaya, Jawa Pos

PASPOR telah dibuat. Suheri pun sudah mempersiapkan diri. Namun, rencana studi ke Italia itu berantakan gara-gara pandemi.

”Semestinya tahun lalu anak saya berada di Italia untuk belajar tentang persenjataan,” kata Untung, ayah Suheri, ketika Jawa Pos bertandang ke rumahnya di kawasan Bronggalan Sawah, Surabaya.

Masih di Surabaya, tetapi di waktu dan kawasan terpisah, Ady Setiawan juga mengingat benar janji yang dibuatnya bersama kawan dekatnya, Mayor Laut (E) Whilly Harsono Putra. ”Kami mau naik gunung,” ucap Ady.

Namun, nasib membawa dua non-anak buah kapal KRI Nanggala-402 itu ke kelokan lain.

*

Saat lulus SMP, sejatinya Suheri lebih tertarik masuk sekolah tata boga. Namun, lahir dari keluarga sangat sederhana, impian itu kandas. Gaji sang ayah tak cukup untuk membiayai sekolah yang dia inginkan. ”Biayanya kan mahal. Saya pengin anak saya masuk STM saja,” ujar Untung.

Ke sanalah akhirnya Suheri menuju. Dan, setelah lulus STM, dia menjajal peruntungan dengan mendaftar ke pegawai negeri sipil (PNS) di Arsenal Dinas Materiel Senjata dan Elektronika Angkatan Laut (Dissenlekal) Markas Besar Angkatan Laut (Mabesal) pada 1991. ”Kebetulan, saya juga kerja di Arsenal. Saya di kapal, sedangkan dia (Suheri, Red) di persenjataan,” ungkap pria 71 tahun tersebut.

Suheri yang terpaut usia 20 tahun dari sang ayah diterima dan mengabdi selama tiga dekade ini di sana. Namun, selama itu, tak pernah sekali pun Untung tahu bahwa sang anak adalah ahli torpedo.

Bagi Untung, Suheri tetaplah anak yang suka guyon. Sederhana dan mau menerima apa adanya. Tak neko-neko karena memang keadaan keluarga sejak kecil sangat sederhana. ”Sangat bangga sama anak saya. Satu-satunya PNS yang ada di kapal selam. Sebab, tidak semua orang bisa masuk sebagai personel di kapal selam,” jelas dia.

Suheri memang satu-satunya PNS di Nanggala saat menjalani latihan di perairan utara Bali dua pekan lalu. Dia tercatat sebagai non-ABK bersama Mayor Whilly, Kolonel Harry Setiawan, dan Letkol Irfan Suri.

Kesederhanaan dan kerendahan hati itu pula yang paling diingat Letkol Suherman tentang koleganya, Mayor Whilly. ”Sosoknya terkenal mudah bergaul, kerap ikut bakti sosial (baksos), dan taat beribadah,” paparnya.

Meski perwira menengah, lanjut Suherman, Whilly tak pernah memandang rendah siapa pun. Dia selalu hormat kepada bawahan yang usianya lebih tua.

Demikian pula yang dikenang Ady Setiawan. ”Dia sosok yang santun,” pujinya.

*

Dua kali Jawa Pos menyambangi kediaman keluarga Mayor Whilly di kompleks TNI-AL, Semolowaru Bahari Blok 3 Nomor 38, Kecamatan Sukolilo, Surabaya. Namun, duka masih demikian menggelayuti Danny Fortune, sang istri.

Saat dikunjungi Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dan Menteri Sosial Tri Rismaharini pada Minggu (2/5), Danny juga belum bisa diajak berkomunikasi. Dia hanya terbaring lemas. Risma pun tak kuasa menahan tangis saat melihat kondisi ibu tiga anak tersebut. Begitu pun Eri bersama istri. Mereka memberikan bantuan dan santunan kepada keluarga korban.

Risma juga ketika itu sempat mengunjungi keluarga kru Nanggala lain, Lettu (P) Muh. Imam Adi Aji K., di Kebraon, Surabaya. Di sana mantan wali kota Surabaya itu sempat menghibur Kafil Aska Rafasya, putra almarhum, dan mengganjarnya dengan hadiah.

”Anak saya itu baik, sayang kepada keluarga, perhatian ke orang tua. Dia selalu pamit kalau mau keluar rumah,” ungkap Edy Sujiyanto, ayah Lettu Imam, kepada Jawa Pos Radar Bromo yang menemuinya di Kraton, Pasuruan.

Suheri juga pamit ke ayah dan ibunya sebelum berangkat berlayar. ”Saya ingat, setelah saya selesai salat Duha pada pukul 07.30, anak saya pamit, ’Pak, saya mau layar, tolong doakan berhasil’,” kata Untung menirukan kalimat terakhir Suheri sebelum berangkat bertugas.

Sepulang sang anak, Rohmah, ibunda Suheri, merasa sang anak terlihat lemas. ”Entah sakit apa lemas, mungkin naluri seorang ibu,” ujarnya.

Sampai kemudian, kabar Nanggala hilang kontak sampai ke rumah sederhana di Bronggalan Sawah itu. Seperti semua keluarga kru yang lain, Untung tetap berharap ada mukjizat. Namun, ketika Nanggala resmi dinyatakan tenggelam dan semua kru gugur, Untung dan keluarga harus belajar ikhlas menerima.

”Saya sebenarnya masih ingin ada mukjizat, tetapi Allah berkehendak lain. Allah yang menentukan. Tidak boleh dilawan,” katanya penuh ketegaran.

Artikel Asli