Epidemiolog: Harus Disiplin Prokes Meski Sudah Divaksinasi

republika | Nasional | Published at 07/05/2021 12:00
Epidemiolog: Harus Disiplin Prokes Meski Sudah Divaksinasi

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Epidemiolog Universitas Gadjah Mada dr Riris Andono Ahmad meminta masyarakat tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan (prokes) pencegahan Covid-19 meski telah divaksinasi. Pasalnya, hingga saat ini belum ada vaksin dengan efikasi (kemanjuran) 100 persen.

"Jadi walau sudah divaksin tetap masih harus menjalankan prokes untuk melindungi orang-orang di sekitar kita, terutama yang belum divaksinasi," kata Riris Andono melalui keterangan tertulis di Yogyakarta, Jumat (7/5).

Ia menyebutkan vaksin Sinovac di Indonesia memiliki efikasi sebesar 65,3 persen. Sehingga dari 100 orang yang divaksinasi masih ada kemungkinan sebanyak 34,7 persen masyarakat yang bisa terinfeksi Covid-19.

Hanya saja orang yang telah divaksinasi memiliki risiko keparahan sakit akibat Covid-19 lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak divaksinasi. "Kita tidak tahu menjadi bagian yang 65 persen atau 35 persen Karenanya mau tidak mau harus tetap mematuhi protokol kesehatan 5M," kata dia.

Sementara pada vaksin Covid-19 lainnya memiliki efikasi yang berbeda. Misalnya, vaksin Pzifer memiliki efikasi 95 persen dan vaksin Moderna dengan efikasi 94,5 persen. Dengan efikasi yang lebih tinggi akan lebih memproteksi terhadap infeksi Covid-19.

"Memang akan lebih memproteksi, tetapi dengan durasi imunitas yang terbatas jika tidak mampu meng- cover 70 persen populasi dalam waktu durasi imunitasnya maka penularan akan tetap terjadi," kata dia.

Seperti diketahui kekebalan kelompok atau herd immunity baru dapat tercapai apabila 70 persen populasi telah memiliki kekebalan dalam jangka waktu durasi imunitas. Riris kembali menyampaikan sampai sekarang belum ada satupun vaksin dengan efikasi 100 persen. Dengan begitu masyarakat tetap diminta untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

"Kalau ada vaksin dengan kemanjuran 100 persen dengan durasi imunitas yang panjang selama ini bisa menjadi teknologi ideal menghentikan pandemi," ujar dia.

Artikel Asli