Mobil Pemudik Menumpuk di Pintu Penyekatan

jawapos | Nasional | Published at 07/05/2021 10:52
Mobil Pemudik Menumpuk di Pintu Penyekatan

JawaPos.com – Hari pertama pemberlakuan larangan mudik kemarin (6/5) berlangsung relatif lancar. Namun, kemacetan panjang dan penumpukan kendaraan terjadi di titik-titik penyekatan. Aparat kepolisian pun terpaksa meloloskan beberapa kendaraan.

Pantauan Jawa Pos , arus mudik di tol Jakarta–Cikampek pada Rabu malam (5/5) sampai Kamis dini hari (6/5) relatif normal. Kemudian, pada Kamis pukul 21.18 WIB, lalu lintas arah Cikampek dilaporkan padat karena ada penyekatan di Km 31.

Jasa Marga dan kepolisian memang mendirikan sejumlah pos penyekatan. Antara lain, di Km 31 Cikarang Barat dan Km 48 Karawang Barat. Pada Kamis sekitar pukul 07.00, di pos penyekatan Km 31 terjadi penumpukan kendaraan yang mengangkut pekerja menuju arah Jakarta.

Corporate Communication & Community Development Group Head Jasa Marga Dwimawan Heru mengungkapkan, kepadatan terjadi akibat penutupan akses Cikarang Barat (dari Cikampek menuju Jakarta) yang dilakukan atas diskresi kepolisian. Tujuannya, pengguna jalan dari Jakarta yang diputar balik (karena tidak membawa persyaratan) tidak terganggu dengan arus dari Cikampek yang akan keluar Cikarang Barat. Dengan begitu, arus dari Cikampek diarahkan keluar setelah gerbang Cikarang Barat, yaitu gerbang Cibitung.

”Mempertimbangkan kondisi di lapangan, akhirnya atas diskresi kepolisian, pada pukul 10.50 akses keluar Cikarang Barat dari Cikampek kembali dibuka. Saat ini kondisi di titik tersebut menuju arah Jakarta dalam keadaan lancar,” papar Heru.

Jasa Marga mencatat, selama periode H-3 sampai H-1 peniadaan mudik atau sampai Rabu, 5 Mei, terdapat 414.774 kendaraan yang meninggalkan wilayah Jabotabek. ”Total volume lalin yang meninggalkan wilayah Jabotabek ini naik 8,9 persen jika dibandingkan lalin normal,” jelas Heru.

Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya mencatat, terjadi penurunan volume kendaraan jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Larangan mudik yang berlaku pukul 00.00 kemarin menjadi salah satu penyebabnya. Apalagi, sejak jauh hari aparat kepolisian menyampaikan bakal menyekat arus lalu lintas keluar Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

’’Memang malam ini (Rabu malam dan Kamis dini hari, Red) terjadi penurunan volume lalu lintas yang melewati tol Jakarta–Cikampek. Khususnya kendaraan pribadi,’’ terang Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Sambodo Purnomo Yogo. Sambodo memimpin langsung penyekatan kendaraan di gerbang tol Cikarang Barat. Tepatnya di Km 31.

Sampai Kamis pagi, jumlah kendaraan yang diputar balik sudah mencapai 317 unit. Angka itu dipastikan makin tinggi. Dari pantauan Jawa Pos, kepadatan kendaraan menjelang titik-titik penyekatan mulai tampak sekitar pukul 06.00.

Selain menjelang Km 31, antrean kendaraan tampak di Km 43. Persis beberapa kilometer sebelum lokasi penyekatan di Km 46–Km 48. Sambodo tidak menampik kondisi tersebut. Dia menyatakan bahwa ekor kemacetan dari lokasi penyekatan mencapai 5 sampai 8 kilometer. ’’Itu sebabnya saat ini (arus kendaraan) sedang kami los (buka, Red),’’ kata dia kemarin siang. Keputusan itu diambil untuk mengurai kemacetan.

Sambodo menegaskan lagi, pihaknya akan terus berusaha melaksanakan penyekatan sesuai rencana. Namun, diskresi akan diambil sesuai kondisi di lapangan. Kalaupun harus dibuka karena antrean panjang, dia memastikan masih ada titik penyekatan berikutnya yang tidak akan membiarkan kendaraan tanpa surat resmi lolos. ’’Selama 24 jam pemeriksaan akan kami lakukan tanpa berhenti sampai 17 Mei pukul 00.00,’’ bebernya.

Penyekatan juga tampak di area keluar Pulau Jawa menuju wilayah Sumatera kemarin. Sejak pukul 00.00 WIB, petugas Polda Banten berjaga mulai gerbang keluar pintu tol Merak. Kendaraan roda empat atau lebih yang keluar dari gerbang tol Merak menuju Pelabuhan Merak diperiksa.

Hasil Survei

Sementara itu, larangan mudik tidak menyurutkan keinginan sebagian masyarakat untuk pulang ke kampung halaman. Selain fakta di lapangan, hal itu tergambar dari hasil survei yang dilakukan Rekode Research Center (RRC).

’’Ada 27,1 persen warga yang akan mudik meskipun ada larangan,’’ ujar Project Manager RRC Lisdiana Putri dalam rilis hasil survei secara virtual kemarin (6/5). Angka tersebut setara dengan 6,2 juta warga jika total pemudik mencapai 25 juta orang.

Lisdia menjelaskan, masih tingginya masyarakat yang tetap ingin mudik sejalan dengan sikap terhadap kebijakan tersebut. RRC mencatat, 54,6 persen responden menyatakan tidak setuju dengan kebijakan itu dan hanya 44 persen yang setuju. ’’Mengingat jumlah responden yang tidak setuju lebih banyak, ada sejumlah warga yang akan tetap nekat mudik,’’ imbuhnya.

Keluhan Para Sopir Bus

’’Apa tidak ada koordinasi dari pemerintah pusat ke daerah?’’ gerutu Pranca Budianto setelah bus PO Pahala Kencana yang dikemudikannya diminta putar balik oleh polisi di pos penyekatan exit toll Solo–Kertosono (Soker) di Grudo, Ngawi, kemarin dini hari. Bus dari Jakarta yang mengangkut 33 pemudik itu dilarang melanjutkan perjalanan ke Madura.

Alasan petugas bahwa penumpang tidak memenuhi syarat perjalanan tidak bisa diterima Pranca. ’’Ini bus resmi,’’ katanya sembari menunjuk stiker yang tertempel di kaca depan bus. Tertulis Angkutan AKAP Terbatas Tahun 2021 dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19 disertai logo Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Pranca menyesalkan tiadanya konsistensi regulasi ihwal larangan mudik kali ini. Jika larangan berlaku, semestinya bus diputar balik sejak dari Jakarta. ’’Seharusnya tidak usah ada stiker resmi dari pemerintah pusat,’’ keluhnya.

Bukan hanya Pranca yang uring-uringan. Ada puluhan sopir bus AKAP lain yang juga diminta putar balik sejak pukul 01.00 hingga 02.30. Mereka memprotes Dirlantas Polda Jatim Kombespol Latif Usman yang memimpin operasi penyekatan pada hari pertama larangan mudik itu.

Kombespol Latif Usman menerangkan, bus memang mempunyai surat jalan resmi dari Kemenhub. Namun, pihaknya tetap meminta putar balik karena penumpang yang diangkut bukan termasuk pengecualian perjalanan. Berdasar Permenhub 13/2021, angkutan berstiker resmi itu juga harus mengangkut penumpang khusus. ’’Jadi, tidak semua penumpang. Ada ketentuan yang harus dipenuhi,’’ jelasnya kepada Jawa Pos Radar Madiun.

Penumpang khusus yang dimaksud adalah yang mengantongi surat tugas atau dalam keadaan darurat. Juga harus bisa menunjukkan surat keterangan bebas Covid-19. ’’Jika tiga syarat itu tidak terpenuhi, kami putar balikkan walau di bus ada stiker khusus,’’ jelasnya.

Di Sragen, mobil travel bernopol Jakarta dihentikan petugas di exit toll Sragen kemarin. Mobil yang membawa rombongan pengantin dari Klaten menuju Ngawi tersebut diketahui melanggar protokol kesehatan. Saat petugas sedang melakukan pengecekan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tepat berhenti di posko penyekatan pemudik itu. Seusai mengobrol dengan petugas dan memastikan persiapan penyekatan pemudik berjalan lancar, Ganjar mendatangi mobil travel yang terparkir di bahu jalan. ’’Ini dari mana? Dari Jakarta ya? Mau mudik ke mana?’’ tanya Ganjar. ’’Ini dari Klaten Pak, mau ke Ngawi. Mau acara pernikahan,’’ jawab sopir.

Artikel Asli