Tazkiyatun Nafs

harianhaluan | Nasional | Published at 07/05/2021 09:50
Tazkiyatun Nafs

“Tidak ada manusia yang tidak berdosa, manusia adalah makhluk yang tak sempurna, Tazkiyatun Nafs adalah jalan terbaik menuju kemuliaan Manusia yang ditampakkan dengan Akhlakul Karimah”.

Oleh:  Afri Yendra - Widyaiswara PPSDM Kemendagri Regional Bukittinggi

Tazkiyatun Nafs terdiri dari dua kata, yakni tazkiyah dan nafs. Tazkiyah berasal dari kata zakka yang artinya penyucian, pembinaan, serta penumbuhan jiwa menuju kehidupan spiritual yang lebih tinggi.

Kata Zakka ini terdapat pada banyak ayat dan surah dalam Alquran diantaranya surah Albaqarah 151 كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu, dan menyucikan(diri)mu, dan mengajarkan kepadamu Al kitab (Al Qur-an) dan Al Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui.”     Menurut Imam Al Ghazali dalam kitab ihya ulumiddin,  tazkiyatun nafs adalah proses penyucian jiwa dari perbuatan dosa, proses pembinaan akhlakul karimah (prilaku mulia) dalam diri dan kehidupan manusia. merupakan sebuah proses agar manusia memiliki prilaku mulia yang sebelum dikotori oleh perbuatan dosa.

Dalam hal Nafs, kita mengenal padanannya yaitu Hati, Jiwa, Qalbu, Ruh, Fikiran, Perasaan dan perbuatan. Semua dapat dijelaskan sebagai berikut:

Hati berfungsi sebagai yang “merasakan” dalam sistem manusia. Dikenal yang senang Hati, yang sakit hati, yang patah, hati, yang jatuh hati, dan lain sebagainya.    Inti hati atau hati yang paling itulah Jiwa. Jiwa ia memiliki kekuatan (power) dalam segala hal  dalam diri manusia, sehingga kalau manusia hidup dengan jiwanya maka ia takkan diliputi oleh keraguan, kegalauan,kegelisahan malahan sebaliknya ia memiliki kekuatan yang tak terhingga “unlimited power”, pintu masuk kedalam jiwa adahal “Mahabbah atau Cinta”    Jiwa kenderaannya adalah Qalbu, ini yang akan membawa jiwa kemana-mana sehingga kalau Qalbu membawa diri manusia baik atau tidak seperti Hadits Rasulullah Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Jiwa bisa bergerak kalau dihidupkan oleh “Ruh”. ruh berfungsi menghidupkan fisik manusia dan Qalbu, namun tidak semua qalbunya hidup dengan sempurna (Qalbun salim), namun ada Qalbu yang sakit (Qalbu Maridh), malahan ada Qalbu yang mati (Qalbu Mayyit) qalbu yang tak lagi mampu mendengar suaru kebenaran.

Kembali kejiwa, Jiwa yang baik akan menjadi fungsi otak akan melahirkan fikiran yang baik, fikiran bukan kerja otak tetapi kerja jiwa yang melibatkan otak. Begitu keadaan jiwa akan mempengaruhi perasaan, perasaan bukanlah kinerja hati tapi kerja jiwa yang melihatkan Hati.

Perasaan yang baik disatukan dengan fikiran yang baik maka akan membaikkan Perbuatan/prilaku manusia menuju “Akhlak Mulia”, maka dengan membersihkan jiwa maka akan memunculkan Prilaku sempurna. Maka membaikkan Akhlak dilalui jalan “Tazkiyatun Nafs”

Berkenaan dengan Prilaku manusia dapat dijelaskan sebagai berikut: Perilaku  adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2003). Sedangkan dalam pengertian umum perilaku adalah segala perbuatan atau tindakan yang dilakukan oleh makhluk hidup. Prilaku adalah salah satu syarat utama yang menentukan kebahagiaan seseorang, namun sebaliknya prilaku juga menentukan seseorang akan menderita. Bahagia atau sengsaranya manusia ditentukan bagaimana ia berprilaku. Kesempurnaan prilaku sekaligus menjadi kesempurnaan ia mencapai kebahagiaan hidup.

Tingkatan pertama prilaku manusia disebut dengan Baik (Khair). kebaikan syarat sekaligus tingkatan pertama prilaku seseorang ( menjadi ) Manusia. Manusia atau Insan dalam beberapa pendapat berasal dari kata “ Hasan “ atau Baik maka prilakunya mestilah Ihsan. Dengan demikian sesorang berprilaku baik seperti beribadah baik maghdob maupun ghairu maghdob sholat, Puasa, haji, zakat atau jujur, sopan, dan lain sebagainya  maka ia sedangkan menjalankan peran pertamanya sebagai manusia atau Insan.

Namun sebaliknya jika seseorang manusia tidak berprilaku baik (khair) maka ia sedang tidak berperan atau tidak berprilaku Manusia (Insan)  tetapi ia sedang memerankan berprilaku Syaitoniah (syetan), prilaku syetan selalu bertentangan dengan kebaikan seperti tidak mau beribadah, sombong, jahat, dan sebagainya.

Tingkatan kedua prilaku Manusia disebutkan dengan Benar (Siddiq), baik belumlah cukup menghantarkan  kita sebagai seorang manusia. Karena kebaikan belum tentu benar, maka benar adalah sesuatu rel atau arahnya kebaikan. Sebagai contoh prilaku kesehariaan di kantor pemerintah / atau perusahaan: Seorang pejabat melakukan perjananan dinas keluar daerah selama 2 hari, tetapi dalam surat perintah perjalanan dinas (SPPD) dibuat tiga atau empat hari. Setiap hari SPPD akan konsekwensi keuangan dari kantor atau perusahaan. Sang pejabat merasa kasihan terhadap staf atau pegawai kontraknya sehingga sisa dari SPPD itu diberikan kepada stafnya.

Dalam Pandangan manusia awam atau kita pada umumnya menganggap sang pejabat orang baik, Peduli terhadap staf atau orang bawahan. “Iya pejabat itu orang Baik..!, tetapi ingat dia tidak benar, karena berbeda dengan ketentuan yang belaku, maka kebaikannya akan salah kalau tidak benar.

Begitu dalam rangkaian ibadah juga seperti itu, Misalkan seseorang yang suka beribadah sholat sunnat dua rakaat itu perbuatan yang sangat amat baik, namun kalau sholat dua rakaat selepas subuh dan ashar, itu tidak benar. Kecuali ada peirtiwa/pengecualiaan  lainnya ( seperti tertinggal sholat fajar, tahyatul Masjid, dll) kalau tidak maka itu tidak dbolehkan.

Begitu juga puasa, kita istiqomah puasa Senin Kamis, ini amat baik tetapi kalau kita berpuasa hari yang diharamkan seperti dua hari Raya (Idul Fitri dan Idul Adha) maka ia akan mendapat dosa akibat kebaikan yang dilakukan dengan tidak nilai kebenaran. Yaitu Alquran dan Sunnah.

Tingkatan Ketiga atau tingkatan tertingi sebuah prilaku menuju manusia sempurna (paripurna) adalah Keindahan (Jamil) dalam keseharian disebut Etika atau Akhlak. Akhlakul Kariimah atau akhlak yang baik. Seperti hadits Nabi Muhammad SAW “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan orang yang paling dekat tempatnya dariku pada hari kiamat adalah orang yang paling baik Prilaku/ akhlaknya di antara kalian”.

Bagaimana Manusia memiliki Jiwa yang Selamat yang akan menjadikan Prialku Manusia yang baik, benar dan Berakhlakul Karimah. Keadaan Jiwa Manusia terbagi atas : annafs al-muthma'innah, an-nafs al-lawwa mah, dan an-nafs la'ammarat bis su'.

Al Ammarah bi suu’, atau Amarah, yaitu suka menyuruh kepada keburukan. Kata tersebut  bermakna bahwa jiwa pada dasarnya memiliki sifat yang cenderung melakukan keburukan. Maka dari itu, setiap orang pada dasarnya memiliki sifat untuk melakukan hal yang buruk.

Lawwamah, yaitu menyesali diri. Dalam sifat ini, manusia sangat diwajarkan ketika merasa menyesal atas diri sendiri dan cenderung mencela dirinya. Seperti yang dijelaskan dalam firman Allah dalam surah Alqiyamah: 2, “Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).”

Muthmainnah, yaitu sifat jiwa yang memperoleh ketenangan. Menurut Ibnu Qayyim dalam kitab Ighatsat al-Lahfan min Masyayidisy Syaithan, apabila jiwa merasa tenteram kepada Allah SWT tenang dengan mengingat-Nya, dan bertobat kepada-Nya, rindu bertemu dengan-Nya, dan menghibur diri dengan dekat kepada-Nya, maka ialah jiwa yang dalam keadaan muthmainnah. Seperti firman Allah dalam QS al-Fajr ayat 27-30.

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.”      Dengan menyadari tiga kondisi nafs itu, menurut Said Hawwa, dalam Tarbiyatuna ar-Ruhiyah, maka perlu adanya penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Menurut Said Hawwa, tazkiyatun nafs pada hakikatnya menjauhkan diri dari kemusyrikan, mengakui keesaan Allah SWT, serta meneladani akhlak Rasulullah SAW tercinta.

Proses yang dilaluinya adalah Proses Takhalli, adalah pembebasan diri dari sifat-sifat tercela. Tahalli, adalah tahapan mengisi dan berhias diri dengan sikap- sikap terpuji. Tajalli merupakan penghayatan rasa ke-Allahan atau dalam istilah Hamka, “Kelihatan Allah di dalam hati.

Disamping itu Tazkiyatun Nafs sempurna melalui tiga fase yang mesti dilalui, yaitu tathahhur,  tahaqquq, dan takhalluq. Tahap pertama tathahhur berarti memfokuskan hati dan pikiran hanya kepada Allah SWT. Kuncinya adalah dzikir, baik secara lisan, batin, maupun perbuatan.

Kepaduan dzikir ini digambarkan dalam surat Ali Imran ayat 191. “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Di dalamnya, Allah menyinggung orang-orang yang mengingat-Nya baik da lam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring. Mereka itu menyadari tanda-tanda kekuasaan Allah di langit dan bumi.Tahap kedua tahaqquq dapat diartikan sebagai perwujudan sifat-sifat Allah yang mulia dalam aktivitas seorang Muslim. Semboyannya adalah berakhlak sebagaimana akhlak Tuhan. Misalnya, salah satu sifat Allah adalah ar-Rahmaan dan ar-Rahiim.

Puncaknya Tahaqquq (Aktualisasi sikap)  Adalah merupakan suatu proses untuk mengaktualisasikan kesadaran dan kapasitas dirinya sebagai seorang mukmin – sebagaimana tercermin dalam proses takhalluq – untuk kemudian mengaplikasikannya dalam perilaku kehidupan sehari-hari. la merupakan proses terakhir dari pengejewantahan proses takhalluq untuk menuju manusia yang sempurna.

Demikian sekilas Tazkiyatun Nafs itu, tidak ada manusia yang tidak berdosa, manusia adalah makhluk yang tak sempurna, Tazkiyatun Nafs adalah jalan terbaik menuju kemuliaan Manusia yang ditampakkan dengan Akhlakul Karimah, Semoga. (*)

Artikel Asli