Jadikan Pancasila Mainstream Dalam Kebijakan Negara

republika | Nasional | Published at 07/05/2021 09:36
Jadikan Pancasila Mainstream  Dalam Kebijakan Negara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Pancasila adalah anugerah Tuhan kepada bangsa Indonesia. Agar masyarakat rukun, adil, dan makmur. Intisari ini mengemuka dalam 'Silaturahmi Ramadan' Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) di Graha Oikoumene PGI, Salemba, Jakarta Pusat, Kamis (6/5). Acara ini bagian kunjungan BPIP ke berbagai organisasi keagamaan di Tanah Air.

Mengawali sambutan, Kepala BPIP Yudian Wahyudi Yudian mengajak masyarakat bergotong royong mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila. Pasalnya, kebhinekaan berbentuk ragam suku, bangsa, agama, adalah bukti nyata anugerah Tuhan.

"Keadilan dalam Pancasila itu diulang dalam dua kali sila. Yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan kemanusiaan yang adil dan beradab. Itulah visi kita bermasyarakat dan bernegara," ujar Yudian.

Pria yang fasih banyak bahasa ini mengingatkan, para pendiri bangsa mewariskan dasar negara dan pandangan hidup bernama Pancasila. Tujuannya agar segala perbedaan keyakinan, sosial, hingga politik dapat disinergikan dengan baik. "Praktiknya berupa kehidupan yang toleran, mendukung persatuan dan kesatuan bangsa," tandas Yudian.

Pancasila adalah anugerah diamini oleh Ketua Umum PGI Pdt. Gomar Gultom. Diawali oleh kemerdekaan Indonesia yang bertujuan mewujudkan keadilan dan kedamaian bangsa. "Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa itu rumusan para pendiri bangsa," cetus Gomar.

Pihaknya merasa masih terjadi problem kebangsaan dalam berpancasila. Terkait primodialisme, agama, suku, kelompok tertentu, sampai penggumpalan kekuasaan yang menciderai demokrasi.

"Dalam konteks ini, kami mendukung penuh BPIP. Siap bekerja sama membumikan Pancasila secara konkret. Diberikan mandat, BPIP bisa menjadikan Pancasila mainstream dalam pengambilan keputusan," tutur Gomar.

Sementara itu, Anggota Dewan Pengarah BPIP Pdt. Andreas Anangguru Yewangoe ikut gembira atas silaturahmi BPIP dan PGI di Ramadan, bulan baik bagi umat Islam. "Kita berharap berkat dan rahmat mengalir dalam pertemuan ini," ucap Andreas.

Mantan Ketum PGI ini bilang, saat Indonesia sedang menuju 100 tahun kemerdekaan pada 2045. Pertanyaannya, apakah nanti Indonesia sesuai cita-cita The Founding Fathers? "Saya yakin kita akan tiba di sana. Jika kita tetap berpegang pada nilai-nilai Pancasila yang dinamis. Bukan hanya mampu menantang masa depan, juga memelihara identitas bangsa," beber Andreas.

Dukungan agar BPIP dan PGI bisa bekerja sama secara konkret juga disampaikan Anggota Dewan Pengarah BPIP Sudhamek Agoeng Waspodo Soenjoto.

Selain mereka, hadir pula antara lain; Deputi Pendidikan dan Pelatihan Baby Siti Salamah, Plt. Deputi Hukum dan Advokasi Ani Purwanti, Direktur Hubungan Antar Lembaga dan Kerjasama Elfrida Herawati Siregar, Sekretaris Umum Pdt. Jacklevyn F. Manuputty, dan Wakil Sekretaris Umum Pdt. Krise A. Gosal. Sementara jajaran lain mengikuti diskusi via daring.

Artikel Asli