Dokter Taufan dan Manggala, Kolaborasi Ciptakan Aplikasi Timang

jawapos | Nasional | Published at 07/05/2021 07:48
Dokter Taufan dan Manggala, Kolaborasi Ciptakan Aplikasi Timang

Kematian bayi secara mendadak di dalam kandungan masih sering terjadi. Padahal, hal tersebut bisa dicegah dengan cara rutin menghitung gerakan bayi. Karena itu, Dr drg Taufan Bramantoro MKes dan dr Manggala Pasca Wardhana SpOG (K) membuat aplikasi Timang. Salah satu cara mempermudah ibu hamil dalam menghitung gerakan bayi.

SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Surabaya

’’ JULI 2019, anak saya meninggal dalam kandungan usia 9 bulan,” kata drg Taufan membuka percakapan di ruang praktik drg Manggala SpOG (K) di kawasan Dharmahusada Selasa (4/5).

Saat itu, kehilangan anak kedua membuat Taufan dan istrinya begitu down. Bayi yang kelahirannya sudah dinantikan tidak terselamatkan.

’’Setelah saya runut ke belakang, ternyata ada beberapa tanda yang sebenarnya bisa disadari sejak awal,” lanjut dia.

Salah satunya, gerakan bayi saat masih di dalam kandungan di usia 9 bulan semakin lemah. Padahal, satu minggu sebelumnya kandungan diperiksa dan diultrasonografi (USG) 4 dimensi. Hasilnya, tidak ada potensi balutan tali pusar.

’’Semuanya normal,” ujarnya.

Karena itu, Taufan, dosen Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga (Unair), pun berdiskusi dengan Manggala, dosen FK Unair, terkait potensi bayi meninggal mendadak di dalam kandungan. Salah satu tanda yang bisa disadari oleh ibu hamil terhadap kondisi janin adalah gerakan. Jika gerakan bayi di dalam kandungan semakin lemah, harus segera dicek ke dokter.

’’Selama ini kita awam terhadap literasi gerakan bayi yang sebenarnya punya peran penting dalam mengetahui kondisi bayi di dalam kandungan,” jelasnya.

Dari situlah, Taufan dan Manggala menggagas pembuatan aplikasi Timang pada akhir 2019. Yakni, Fetal Diary on Movement and Activity Counting. Aplikasi tersebut merupakan catatan harian aktivitas bayi dalam kandungan trimester III.

’’Saya dan dokter Manggala berpikir perlu membuat aplikasi yang bisa menjadi solusi sederhana dan efektif untuk memantau kondisi dan kesehatan janin dalam keseharian. Tidak mungkin kan setiap hari harus memeriksakan diri ke dokter kandungan,” ujarnya.

Manggala menambahkan, kematian janin mendadak dalam kandungan menjadi tragedi bagi ibu, keluarga, dan tim dokter yang menangani. Dalam penelitian, sekitar 6 di antara 1.000 kelahiran atau 3,2 juta kematian janin terjadi setiap tahun.

’’Sekitar 55 persen kematian janin dalam kandungan didahului pergerakan janin yang menurun dan dirasakan oleh ibunya,” katanya.

Penurunan aliran darah plasenta dan gawat janin berhubungan dengan penurunan gerakan janin. Hal itu bisa diperiksa secara mandiri oleh ibu hamil di rumah. Caranya pun mudah. Yakni, ibu hamil tidur miring kiri. Kemudian, mulai menghitung gerakan janin hingga 10 gerakan dalam dua jam.

’’Jika terhitung 10 gerakan sebelum dua jam, sudah stop. Artinya, kondisi janin baik. Namun, jika kurang dari 10 gerakan dalam dua jam, ibu hamil harus waspada dan segera periksa ke dokter terdekat,” ujarnya.

Manggala mengatakan, cara tersebut memang sangat subjektif. Sebab, hal itu bergantung pada perasaan dan sensitivitas ibunya. Namun, itu bisa menjadi salah satu cara yang efektif untuk mengetahui kondisi janin dalam kandungan.

’’Teori ini sesuai dengan literatur. Jadi, aplikasi Timang ini memudahkan ibu hamil saat menghitung gerakan janin,” ujar dia.

Aplikasi itu juga telah disesuaikan dengan literatur agar tidak menyesatkan masyarakat.

’’Aplikasi Timang ini difokuskan sebagai alat penghitung gerakan janin. Ke depan, dalam pengembangannya akan dilengkapi dengan rujukan tempat praktik dokter terdekat dari lokasi pengguna aplikasi sehingga ibu hamil tidak bingung mau ke mana,” jelasnya.

Manggala menuturkan, hasil USG kandungan hanya melihat kondisi janin saat itu. Padahal, kondisi janin bisa berubah setiap hari. Jadi, menghitung gerakan adalah cara sederhana yang bisa dilakukan di rumah.

’’USG tetap bisa dilakukan. Namun, cek gerakan janin juga penting dilakukan sendiri di rumah,” katanya.

Taufan menambahkan, kasus kematian janin dalam kandungan sangat berdampak besar secara psikologis bagi ibu hamil dan keluarga. Apalagi, jika diketahui janin meninggal di usia kandungan sudah menginjak 9 bulan.

’’Saya yakin, bukan hanya saya yang merasa down. Banyak pasangan suami istri lainnya yang mengalami ini pasti akan down. Jadi, kami berusaha memberikan solusi dari masalah tersebut,” jelasnya.

Pengguna pun bisa langsung mengunduh di PlayStore. Dalam proses pembuatan aplikasi tersebut, drg Taufan dan dr Manggala didukung Kelola.net, Ruang Praktek, dan Indonesian Health Collaboration and Innovation Institute (IHCI). Aplikasi tersebut didesain cukup sederhana sehingga memudahkan pengguna.

Aplikasi itu juga dilengkapi dengan fitur-fitur menarik. Misalnya, reminder, grafik data, laporan harian, histori, hingga artikel-artikel terkait kehamilan. ’’Aplikasi ini juga sudah diuji coba ke sejumlah ibu hamil. Dan, responsnya sangat positif,” ujarnya.

Artikel Asli