Refleksi Ramadan, Direktur MI Ingatkan Sisi Negatif Gadget dan Sosmed

jawapos | Nasional | Published at 07/05/2021 07:04
Refleksi Ramadan, Direktur MI Ingatkan Sisi Negatif Gadget dan Sosmed

JawaPos.com – Direktur Eksekutif Maarif Institute (MI) Abdullah Darraz, mengajak umat Muslim Indonesia untuk berefleksi di bulan ramadan, hal ini terkait soal penggunaan gadget yang berlebihan. Sebab kondisi itu mendorong sikap individualisme yang menggerus sikap gotong royong yang menjadi dasar utama hidup orang Indonesia sejak dahulu kala.

“Sisi negatif adanya kemajuan teknologi, justru membuat semangat kebersamaan atau gotong royong di setiap masyarakat menjadi tergerus,” ujar Darraz saat mengisi acara ngabuburit Bersama Badan Kebudayaan Nasional Pusat (BKNP) PDI Perjuangan (PDIP), pada hari Kamis (6/5).

Dalam acara yang dipandu host Sekretaris BKNP PDIP, Rano Karno, yang juga Anggota DPR RI itu, Darraz juga mengingatkan bahwa jika melihat pada dakwah Walisongo, salah satu ajaran yang diperkenalkan dan ditularkan pada masyarakat Nusantara adalah semangat gotong royong.

Menurut Darraz, pengaruh negatif gadget yang kemudian memicu lahirnya sikap egoisme, sehingga cenderung terlalu memikirkan diri sendiri daripada memikirkan orang lain maupun bangsa.

“Dengan adanya gadget menjadi pegaruh buat kita sehingga terbiasa dengan egoisme dan indiviudalis, sehingga cenderung terlalu sibuk sendiri, memikirkan diri sendiri daripada memikirkan orang lain maupun bangsa Indonesia ini,” ujarnya.

Padahal, lanjutnya, semangat bergotong royonglah yang dapat menumbuhkan rasa empati, peduli lingkungan sekitar dan perhatian. Ini menjadikan pikiran kritis dan tanggap terhadap lingkungan sosial.

Baca Juga: Reformasi ASN, Naik Pangkat Tiap Dua Tahun dan Usia Pensiun Ditambah

Baca Juga: KRI Nanggala-402 Tenggelam, AHY: 1 Nyawa Prajurit TNI Sangat Berharga

“Justru kan, gotong royong itu meniscayakan kita punya rasa empati dan peduli, mempunyai perhatian terhadap orang lain, ketika orang lain sedang mengalami kebutuhan tertentu, ya kita semua harus melakukan kepedulian itu,” urainya.

Baginya, sikap peduli dan gotong royong yang terkikis akan punya dampak bahaya. Karena inilah yang kemudian akan menimbulkan masalah baru seperti disintegritas dalam kehidupan masyarakat. Dan bila sudah pada tahap itu, menurut Darraz, lebih jauhnya bisa membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kalau hal seperti ini sampai terjadi, akan memicu disintegrasi dan kerekatan sosial kebangsaan kita semakin terkoyak, kalau kita terbiasa meninggalkan semangat yang biasa dulu kita jalani, terutama anak muda,” imbuhnya.

Karena itu, Darraz menilai, perlu adanya perhatian khusus akan pentingnya semangat gotong royong, sehingga tumbuh kesadaran lagi. Terutama di kalangan anak muda saat ini. Dia mendorong adanya pelopor yang menarasikan dan menyebarkan semangat gotong royong, terutama menyebarkan melalui sosial media.

“Ada hal positif dari sosial media dan kita harus membangun narasi-narasi ini dan menyebarkannya di seluruh media sosial. Kita harus memperkaya narasi melalui gadget yang selama ini dipakai,” pungkasnya.

Artikel Asli