Potensi Zakat Rp 327,6 Triliun, Menko PMK Sebut Dapat Pulihkan Ekonomi

jawapos | Nasional | Published at 05/05/2021 10:56
Potensi Zakat Rp 327,6 Triliun, Menko PMK Sebut Dapat Pulihkan Ekonomi

JawaPos.com – Umat islam memiliki kewajiban untuk menunaikan zakat. Zakat adalah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang yang beragama Islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya.

Zakat terbagi menjadi dua jenis, yakni zakat fitrah dan zakat mal atau zakat harta. Sebagai salah satu rukun islam, zakat ditunaikan untuk diberikan, utamanya kepada golongan fakir miskin yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.

Untuk itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menyebutkan bahwa zakat bisa turut berperan dalam upaya penanganan kemiskinan di Indonesia.

“Kalau kita bicara soal zakat itu sebetulnya yang harus disasar adalah orang miskin dulu. Jangan terus berpikir untuk yang lain,” ujar dia dalam keterangan resminya, Rabu (5/5).

Dia menjelaskan, berdasarkan outlook data zakat 2021 Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Total potensi zakat di Indonesia, sebesar Rp 327,6 triliun. Besar potensi tersebut dirinci berdasarkan ragam jenisnya yakni zakat pertanian Rp 19,9 triliun, zakat peternakan Rp 19,51 triliun, zakat uang Rp 58,78 triliun, zakat penghasilan dan jasa Rp 139,7 triliun dan zakat perusahaan Rp 144,5 triliun.

“Karena itu, zakat sangat berpotensi untuk membantu pemulihan ekonomi nasional dan membantu mereka yang tergolong miskin. Data BPS menunjukkan, jumlah penduduk miskin per September 2020 sebesar 27,55 juta orang, dan itu kemungkinan terus meningkat sampai saat ini,” tuturnya.

Berdasarkan riset Baznas, dari potensi zakat yang mencapai Rp 327,6 triliun, yang terealisasi baru mencapai Rp 71,4 triliun atau sekitar 21,7 persen. Dari jumlah ini Rp 61,2 triliun tidak melalui organisasi pengelola zakat (OPZ) resmi yakni Baznas, dan hanya Rp 10,2 triliun yang melalui OPZ resmi.

Karena itu, Muhadjir meminta kepada lembaga pengumpul zakat, khususnya Lazisku KBPII dan lembaga lainnya agar bisa berperan lebih aktif dalam menggerakkan orang yang wajib mengeluarkan zakat (muzakki) untuk menunaikan zakat.

“Tenaga pengumpul zakat juga harus profesional terlatih dengan prasyaratan yang diperlukan. Kemudian harus juga optimalisasi pendistribusian dan daya guna zakat untuk mereka yang benar membutuhkan,” tandasnya.

Artikel Asli