Ketua KPK soal 6 Tersangka Kasus Suap Ditjen Pajak: Ini Belum Berakhir

limapagi.com | Nasional | Published at 05/05/2021 01:14
Ketua KPK soal 6 Tersangka Kasus Suap Ditjen Pajak: Ini Belum Berakhir

LIMAPAGI – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan enam tersangka terkait kasus dugaan suap pemeriksaan perpajakan tahun 2016-2017, di Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Ketua KPK Firli Bahuri mengatakan, pihaknya tak menutup kemungkinan bakal menetapkan tersangka lainnya.

“Yang hari ini kami ungkap dengan menetapkan enam tersangka, ini belum berakhir. Jadi ini bukan panggung terakhir, pertunjukannya belum tuntas. Ini baru awal daripada apa yang sudah ditemukan oleh penyidik,” tegas Firli di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Selasa, 4 Mei 2021.

Enam tersangka itu adalah eks Direktur Pemeriksaan dan Penagihan Ditjen Pajak tahun 2016-2019 Angin Prayitno Aji dan Dadan Ramdani selaku eks Kepala Subdirektorat Kerjasama dan Dukungan Pemeriksaan Ditjen Pajak.

Selanjutnya, tiga konsultan pajak yakni Ryan Ahmad Ronas, Aulia Imran Maghribi, dan Agus Susetyo, serta Veronika Lindawati selaku kuasa wajib pajak.

Firli mengatakan, Angin Prayitno dan Dadan Ramdani diduga menyetujui, memerintahkan, dan mengakomodir jumlah kewajiban pembayaran pajak yang disesuaikan dengan keinginan dari wajib pajak (WP).

Firli menjelaskan, Angin dan Dadan diduga memeriksa pajak dari tiga perusahaan. Di antaranya, PT Gunung Madu Plantations (GMP) untuk pajak tahun 2016, PT Bank PAN Indonesia (PT BPI Tbk) atau Bank Panin untuk pajak tahun 2016, dan PT Jhonlin Baratama (JB) untuk pajak tahun 2016 dan 2017.

“Terkait hasil pemeriksaan pajak untuk tiga wajib pajak dimaksud, APA (Angin) bersama-sama dengan DR (Dadan) diduga telah menerima sejumlah uang,” ungkap Firli.

Rinciannya, pada Januari-Februari 2018 Rp15 miliar diserahkan oleh Ryan Ahmad Ronas dan Aulia Imran Maghribi yang merupakan perwakilan PT Gunung Madu Plantations (GMP).

“Pertengahan tahun 2018, sebesar SGD 500 ribu yang diserahkan oleh VL (Veronika Lindawati) sebagai perwakilan PT BPI Tbk (Bank Panin) dari total komitmen sebesar Rp25 miliar,” beber Firli.

Jika menilik kurs rupiah saat ini, SGD 500 ribu setara dengan Rp5.408.146.815 atau Rp5,4 miliar. Selanjutnya, pada Juli-September 2019, Angin dan Dadan menerima SGD 3 juta dari PT Jhonlin Baratama, yang diserahkan Agus Susetyo.

Jika dirupiahkan, SGD 3 juta setara dengan Rp32.455.380.000 atau Rp32,4 miliar. Alhasil, jika dijumlahkan, total suap seluruhnya diduga mencapai Rp52,8 miliar.

“KPK memperingatkan baik kepada wajib pajak, pemeriksa pajak, dan pejabat di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak agar melakukan hak dan kewajibannya dengan integritas. Bukan dengan menjanjikan atau memberi dan menerima suap,” ucap Firli.

Atas perbuatannya, Angin dan Dadan disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUH Pidana.

Sementara Ryan, Aulia, Veronika, dan Agus, disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) hurufa atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 UU Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUH Pidana.

“Untuk kepentingan penyidikan, pada hari ini setelah dilakukan pemeriksaan terhadap 30 orang saksi, selanjutnya tim penyidik akan melakukan penahanan tersangka APA (Angin) untuk 20 hari ke depan terhitung sejak tanggal 4 Mei 2021 sampai dengan 23 Mei 2021 di Rutan KPK Gedung Merah Putih,” kata Firli.

Artikel Asli