Semrawut Tata Kelola Ternak Ayam di Indonesia

limapagi.com | Nasional | Published at 05/05/2021 06:22
Semrawut Tata Kelola Ternak Ayam di Indonesia

LIMAPAGI – Paguyuban Peternak Rakyat Nusantara (PPRN) menuding pemerintah tak serius dalam mengurus tata kelola peternakan ayam. Imbasnya, harga ayam hidup atau live bird di pasaran terus menurun sejak tahun 2018. Kondisi tersebut mengancam keberlangsungan usaha peternak rakyat.

Potret sederhananya, menu opor ayam yang biasanya wajib tersaji di setiap meja rumah saat Idul Fitri pun tidak dapat memberikan keuntungan maksimal bagi para peternak. Lalu, seperti apa keresahan para peternak?

Harga Jual di Bawah Harga Pokok Produksi

Sejak tahun 2018 para peternak resah lantaran harga jual live bird yang mulai turun. Padahal, ongkos produksi dirasa cukup tinggi. Setiap kilogram bibit ayam yang dibesarkan setidaknya membutuhkan modal sekitar Rp22.000. Sementara, harga jualnya hanya berkisar Rp19.000 hingga Rp20.500. Peternak terpaksa harus rugi sekitar Rp1.500 sampai Rp2.000 per kg.

Harga Bibit dan Pakan Terus Melambung

Kendala lain yang memperburuk keadaan peternak rakyat dengan modal pas-pasan adalah mahalnya harga bibit ayam di pasaran. Hingga sekarang, PPRN menyebut bibit ayam per ekor dihargai Rp8.000. Idealnya harga bibit ayam di kisaran angka Rp5.000 hingga Rp5.500.

Ada pula kendala berupa kurangnya pasokan jagung di Tanah Air yang masih mengandalkan impor. Sebab, jagung merupakan salah satu bahan baku pakan ayam yang sangat penting.

Sejatinya, pakan ayam kualitas premium yang diizinkan pemerintah hanya dihargai Rp7.000 sampai Rp7.500 per kg. Namun, sekarang harganya mencapai Rp8.000.

Peternak Rugi Rp5,4 Triliun

Sejak harga live bird bergerak fluktuatif pada tahun 2018, para peternak yang tergabung dalam PPRN mengklaim rugi sebesar Rp5,4 triliun. Perhitungan kerugian ini terhitung tahun dagang 2019-2020.

Nilai kerugian tersebut didapatkan dengan asumsi ada sebanyak 60 juta ekor produksi ayam di seluruh Indonesia tiap minggunya. Dari jumlah tersebut, 20 persennya diproduksi oleh peternak mandiri. Kondisi ini diperkeruh dengan tidak adanya bantuan dari pemerintah, hingga menyebabkan ratusan ribu peternak rakyat di seluruh Indonesia gulung tikar.

Artikel Asli