Loading...
Loading…
Ketika Perkembangan Peradaban Memaksa Manusia untuk Melawan Kecerdasan Buatan

Ketika Perkembangan Peradaban Memaksa Manusia untuk Melawan Kecerdasan Buatan

Nasional | minangkabaunews.com | Kamis, 29 April 2021 - 15:32

Oleh: Sukma

Sejak diluncurkannya standar nirkabel seluler generasi pertama (1G) di Jepang tahun 1979, perkembangan teknologi jaringan seluler terus berkembang. Pada tahun 1991, Finlandia meluncurkan standar nirkabel seluler generasi kedua (2G) dan memulai era digital. Teknologi mulai berkembang pesat di berbagai sektor kehidupan. Era digital perlahan mulai menggusur manusia, lihatlah di pabrik-pabrik milik industri besar. Tenaga manusia mulai tergantikan dengan penggunaan teknologi, semuanya dilakukan otomatis dengan pengawasan dari operator mesin yang bekerja.

Pada Desember 2018, Korea Selatan meluncurkan standar nirkabel seluler generasi kelima (5G), yang diikuti oleh China dan Amerika serikat. Lalu pada bulan Maret 2020, anak perusahan BBK elektronik bernama Vivo yang berasal dari Dongguan, Guangdong, Tiongkok, memulai pengembangan riset standar nirkabel seluler generasi keenam (6G). Di saat dunia masih berproses untuk menerapkan 5G, mereka sudah melangkah lebih awal untuk mengembangkan teknologi 6G.

Semua ini merupakan bagian dari perkembangan revolusi industri 5.0 yang diperkenalkan dirumuskan sejak 2017 oleh Perdana menteri Jepang dan diresmikan awal tahun 2019 lalu. Sekalipun perkembangan revolusi 5.0 menitik beratkan peran manusia, tetap sajakita tidak bisa mencegah perkembangan 6G yang mendorong kecerdasan buatan menyingkirkan manusia dari berbagai sisi dunia kerja.

Jika bulan Maret 2020 Tiongkok melalui Vivo sudah memulai riset 6G, delapan bulan kemudian, tepatnya November 2020, Tiongkok dikabarkan sudah meluncurkan satelit baru untuk melakukan ujicoba penggunaan teknologi generasi terbaru yaitu 6G.

Kemampuan 6G digadang-gadang bisa membantu manusia untuk mengembangkan kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang lebih hebat dari kemampuan otak manusia. Manusia yang bekerja sebagai operator alat-alat yang bekerja otomatis di pabrik-pabrik milik industri besar tidak akan dibutuhkan lagi. Digantikan dengan kecerdasan buatan yang bisa meng-handle semuanya tanpa melakukan sedikit pun kesalahan.

Teknologi lain yang tengah dikembangkan adalah mobil otonom yang dipadukan dengan kecerdasan buatan. Di masa akan datang, kendaraan di jalanan tidak akan lagi dibawa secara manual, tetapi berjalan otomatis, kita hanya perlu men-set up tujuan kita, lalu kendaraan tersebut akan otomatis membawa kita ke tujuan. Perusahaan BMW dan Zoox bahkan sudah meluncurkan produk mobil otonom mereka, atau di Indonesia ada mobil rintisan ITS yang juga berjenis mobil otonom.

Jauh dari itu, kecerdasan sosial akan mengganti kecerdasan manusia yang mengenyam pendidikan bertahun-tahun lamanya sejak kecil. Pengusaha tidak perlu merekrut banyak pegawai, ribuan buruh atau tenaga kerja out sourcing yang sering ribut minta tambahan gaji.Mereka hanya perlu membayar ahli untuk membuat sistem suatu pekerjaan menggunakan tenaga listrik, membayar beberapa orang untuk melakukan maintenance dan mengawasi pekerjaan. Elon Musk pengusaha besar dunia sudah paham betul tantangan manusia di masa depan. Ia mengembangkan perusahaan Neuralinksejak tahun 2017 lalu untuk membuat chip yang bisa ditempatkan di otak manusia. Chip tersebut diharapkan nantinya bisa meningkatkan kemampuan manusia untuk dapat bersaing dengan kecerdasan buatan yang menurutnya dapat menghancurkan umat manusia.

Elon Musk tidak main-main, ia melalui perusahaan Neuralink-nya telah melakukan uji coba kepada seekor babi yang dipasangkan chip untuk membaca cara otak babi tersebut bekerja. Itu sebagai bagian risetnya dalam menyiapkan chip yang nantinya dipasangkan di otak manusia agar bisa bekerja menyaingi kecerdasan buatan di masa yang akan datang.

Apa yang dilakukan Elon Musk merupakan bagian dari kekhawatirannya tentang peradaban manusia di masa akan datang. Ini juga yang seharusnya kita persiapkan untuk pemuda kita, remaja kita dan juga anak-anak kita. Mereka yang akan bersaing nantinya dengan kecerdasan buatan untuk mendapatkan pekerjaan. Jika dua puluh tahun lalu, tepatnya sekitar tahun 2000-an, tidak akan ada yang memprediksi di tahun 2021 ini kita akan berkomunikasi secepat sekarang ke berbagai belahan dunia. Bahkan dengan menggunakan smartphone di tangan kita bisa tahu apa yang tengah terjadi di belahan dunia lain.

Sebagian kegiatan kita sekarang yang telah beralih ke dunia kecerdasan buatan.Kita tidak perlu lagi ke bank untuk mengirim uang, cukup menggunakan smartphone dengan layanan e-banking mereka. Kita bahkan ke kantor pemerintah untuk mengurus surat-surat kependudukan kita, mengurus jaminan kesehatan, atau melaporkan kerusakan jalan, jaringan listrik atau air. Cukup bukan smartphone, lalu buat laporan, pemerintah sudah mendapatkan laporan dari kita. Tidak ada juga yang menduga bahwa di tahun 2020 dan 2021 ini semua anak-anak kita akan belajar secara online dari rumah, tidak perlu capek-capek ke sekolah.

Kemajuan yang terjadi 20 tahun ini sangatlah cepat, kita tidak bisa menduga dengan pasti kemajuan sepesat apa yang akan terjadi 20 tahun ke depan. Semuanya hanya bisa diperkirakan atau diramalkan.Apa yang dipersiapkan Elon Musk tentu harus kita cermati. Saat 6G benar-benar sudah diterapkan di seluruh dunia, terus berkembang menjadi 7G, 8G dan seterusnya, saat teknologi terus berkembang pesat, diikuti oleh kemajuan kecerdasan buatan serta otomatisasi berbagi lini kehidupan, saingan manusia sesungguhnya bukan manusia lagi, tapi kecerdasan buatan yang dibuat manusia sendiri.

Orang-orang yang tak punya kemampuan apa-apa, tidak akan bisa bersaing untuk mendapatkan pekerjaan. Jika era kita ini orang-orang dengan kemampuan terbatas masih banyak yang bisa bekerja dengan memanfaatkan jaringan, atau istilah kerennya orang dalam pada masa kecerdasan buatan menguasai dunia, istilah itu tidak akan berguna lagi. Orang-orang yang tidak punya kemampuan akan tersingkirkan secara alami dari persaingan. Luntang lantung cari kerja sana sini, tapi tidak diterima. Bahkan yang bekerja pun bisa kehilangan pekerjaannya, karena pekerjaannya tersebut sudah bisa digantikan oleh kecerdasan buatan.

Sopir-sopir tidak akan digunakan lagi jika kendaraan otonom sudah mendapatkan tempatnya melalui kebijakan pemerintah. Para kasir, resepsionis, petugas kantorpemerintah juga akan tersingkirkan, semuanya sudah berganti dengan kecerdasan buatan. Hanya perlu smartphone di tangan semua bisa selesai, tanpa perlu ribet ke kantor yang tempat mengurus pelayanan. Bahkan smartphone yang masih kita gunakan sekarang juga akan berkembang jauh lebih pesat lagi.

Masa itulah yang tengah menanti kita, menanti para anak-anak kita dan menyingkirkan mereka dari area persaingan. Persis sama seperti saat tukang pos pengantar surat kehilangan pekerjaan saat munculnya e-mail. Seperti saat pemilik wartel kehilangan pelanggan saat munculnya telepon seluler.Juga seperti saat sopir taksi konvensional kehilangan pekerjaan saat munculnya taksi online. Semuanya akan terjadi tanpa bisa kita cegah. Cukup satu negara saja sebagai pemantiknya, maka negara lain akan mengikuti. Jika kita dan para generasi selanjutnya tidak siap dengan persaingan tersebut, maka kita akan tersingkir, menjadi pengangguran yang harus serabutan untuk mengumpulkan pendapatan. (*)

/* Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik, FISIP, Universitas Andalas. Email:

Original Source

Topik Menarik