Muslimah Tak Perlu Emansipasi?

Nasional | republika | Published at Kamis, 22 April 2021 - 12:30
Muslimah Tak Perlu Emansipasi?

Oleh: Uttiek M Panji Astuti, Penulis dan Traveller.

Tersebutlah nama Rabi’ah Adawiyah (717-801 M), seorang muslimah berilmu yang menjadi guru bagi Malik bin Dinar, Raba al Rais, Sheikh al Balkhi, dan banyak lagi.

Dalam sejarahnya, guru Muslimah bukan hanya Rabi’ah Al Adawiyah. Ibnu Hajar al-'Asqalani, belajar pada 53 guru Muslimah. Imam as-Sakhawi mempunyai 68 guru Muslimah. Imam as-Suyuti  belajar pada 33 guru Muslimah, yang berarti itu seperempat dari jumlah gurunya.

Muslimah dan pendidikan adalah kelindan tak terpisahkan. Universitas tertua di dunia yang menawarkan gelar kesarjanaan diinisiasi oleh seorang Muslimah bernama Fatimah Al Fikri.

Anak saudagar kaya yang mendermakan sebagian hartanya untuk mengongkosi univesitas yang sampai sekarang masih berdiri kokoh di kota Fez, Maroko.

Di Andalusia, tersebut nama Lubna of Cordoba. Ia cendekiawan Muslimah yang ditugaskan Khalifah untuk mengepalai perpustakaan Cordoba yang waktu itu hanya bisa dikalahkan oleh Bait Al Hikmah di Baghdad. Tak kurang 500 ribu kitab dikumpulkannya dari Baghdad, Mesir, Damaskus, hingga Timbuktu di Afrika

Kehebatan Muslimah juga terjejak di Nusantara.  Adalah Rahmah El Yunusiyah, pendiri Diniyah Putri Padang Panjang. Idenya yang luar biasa, mendirikan sekolah khusus perempuan, membuat Universitas Al Azhar Kairo mengadopsi gagasannya  dan mendirikan Kulliyatul Lil Banat pada 1962, kampus khusus untuk akhwat.

Atas jasanya itu, di tahun 1957 ia diundang ke Mesir untuk mendapat gelar kehormatan “Syehkhah”. Ia adalah perempuan pertama yang mendapat gelar itu.

Buya Hamka dalam bukunya “Ayahku”  menggambarkan sosok Rahmah El Yunusiyah sebagai Muslimah revolusioner  yang pantang menyerah.

“Boleh dikatakan bahwa sebelum itu, belumlah ada kaum perempuan yang belajar agama, nahwu dan sharaf, fiqih, dan ushul-nya. Sebelum itu, kaum perempuan baru belajar dalam pengajian umum, mendengar tabligh dari guru-guru,” tulisnya.

Tak kalah hebat, dari Yogya ada Nyai Walidah Ahmad Dahlan. Muslimah cerdas yang mengentaskan perempuan dari kebodohan, melalui ribuan sekolah yang didirikan.

Dari satu sekolah, Froebel Kindergarten Aisyiyah, yang didirikan tahun 1919, kini berkembang menjadi  5.865 TK Aisyiyah Bustanul Athfal, 280 rumah bersalin, balai pengobatan dan posyandu, 459 rumah singgah, panti asuhan, 503 koperasi, Baitul Maal wa Tamwil, UMKM, dan banyak lagi.

Dari mana para Muslimah hebat itu mendapat inspirasi?  Tercatat para Umahatul Mukminin telah memulai. Seperti yang dilakukan Ibunda Aisyah RA. Tak hanya merawikan lebih dari 2.200 hadist, ia juga menjadi guru dan tempat para sahabat bertanya.

Bagi Muslimah, tak perlu lagi ide tentang emansipasi. Karena mulianya kedudukan wanita dalam Islam, itu sudah pasti. Sejarah telah banyak menyodorkan banyak bukti.

Jakarta, 21/4/2021

Artikel Asli