Kompleksitas Di Balik Mudik Lebaran

Nasional | ayosemarang | Published at Kamis, 22 April 2021 - 12:16
Kompleksitas Di Balik Mudik Lebaran

Mudik memang bukan merupakan kewajiban dalam Agama Islam. Namun, mudik yang waktunya berdekatan dengan berakhirnya Puasa Romadan, di Indonesia telah merupakan budaya masyarakat.

Salah satu indikatornya, yang melakukan mudik tidak hanya  muslim, namun  nonmuslim pun, secara berbondong- bondong pulang ke tempat kelahirannya.

Perilaku takzim kepada yang lebih tua, sekaligus sebagai ajang silaturahmi kepada handai taulan sesuai ajaran agama apa pun,tampaknya sudah mendarah daging, sehingga seolah seperti ada yang kurang bila tidak mereka lakukan.

Canggihnya media komunikasi pun ternyata tidak mampu menggantikan budaya mudik. Fitur Videocall misalnya, meski seakan kita berkomunikasi tatap muka, termasuk dengan sesepuh.

Perjumpaan fisik, termasuk sambil menikmati hidangan bersama diselingi dengan berbagi cerita sukses serta menarik lainnya, ternyata belum tergantikan bahkan oleh fitur Videocall.

Karena itu halangan apa pun, termasuk dampak Pandemi covid-19 yang jelas dan nyata seolah mereka abaikan. Larangan mudik tahun lalu pun, tetap mereka langgar meski harus kucing- kucingan dengan petugas sehingga dampaknya mereka yang terpapar pun meningkat tajam.

AYO BACA : Surat Negatif Covid-19 Tak Bisa Jadi Bukti Mudik Lebaran

Tahun ini pun pemerintah kembali melarang mudik. Tujuannya sebenarnya jelas, yaitu untuk.melindungi masyarakat itu sendiri.

Mulai turunnya jumlah yang terpapar, serta pengalaman pahit di India, yang tentu jangan sampai terjadi di Indonesia.

Demikian pula data adanya lonjakan setiap ada liburan, tentu menjadi pengalaman pahit yang jangan sampai terulang.

Pertanyaannya bagaimana menjadikan masyarakat cukup informasi ( well informed) , sehingga mereka akhirnya mengerti dan sadar serta mengikuti larangan mudik yang dikeluarkan pemerintah? Bagaimana pula merubah pola pikir budaya mudik yang kompleks dengan memberikan informasi yang logis, serta jelas sekaligus informatif, sehingga menyadarkan calon pemudik untuk menunda keinginannya mudik setidaknya tahun ini, atau setelah situasinya aman dan terkendali?

Satu KomandoMelihat di lapangan, saat inipun sudah ada sebagian masyarakat yang mudik. Alasannya, mumpung belum resmi dilarang 6-17 Mei yang akan datang.

Mereka tidak sepenuhnya salah, karena ada pernyataan pejabat publik yang menggunakan istilah pulang kampung, dan sejenisnya.

AYO BACA : Cara Mendapatkan SIKM untuk Mudik Lebaran 2021

Di sisi lain, mudik setahun sekali itu merupakan sesuatu yang sudah selama setahun mereka inginkan serta rencanakan. Karena itu kesempatan dalam kesempitan pun  mereka lakukan. Resikonya paling diputar balik dan masih bisa lewat jalan tikus.

Yang sudah terlanjur pulang kampung, yang penting menjaganya, agar tidak menyebabkan munculnya efek berganda. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana menyampaikan pesan yang jelas dan persuasif, sehingga mampu mengurungkan keinginan mudik mereka untuk tahun ini.

Pesan- pesan komunikasi yang menggunakan metode fear arrousing, bahkan cenderung coersive dengan menyampaikan beratnya sanksi bagi pelanggar, meski baik, namun tampaknya kurang efektif. Indikatornya jumlah penumpang kendaraan umum serta jumlah kendaraan pribadi yang mengarah mudik prosentasenya meningkat dibanding hari biasa.

Karena itu, mungkin akan lebih baik menggantinya dengan pesan yang logis namun mendidik sembari melakukan  koordinasi dengan pejabat daerah sampai ke tingkat kelurahan, dan merekalah yang nantinya akan berkoordinasi baik dengan kepala dukuh, RW, bahkan RT untuk mengajak dialog para sesepuh, utamanya yang memiliki keluarga di rantau.

Bila mereka mengerti dan akhirnya lansung mengingatkan keluarganya agar jangan mudik dulu, kemungkinan model ini lebih efektif.

Bukankah kita masih ingat bagaimana takzimnya kaum muda dengan para orang tua dan sesepuh lainnya.

Namun, kalau toh ini belum efektif sepenuhnya, setidaknya mereka akan saling mempersiapkan diri sekaligus saling menjaga, agar kenekatan mudik para kerabatnya tidak membawa efek ganda yang merugikan kepentingan masyarakat yang lebih luas. Semoga.

Penulis : Drs. Gunawan Witjaksana, M.Si, Dosen jurusan Ilmu Komunikasi USM

AYO BACA : Direvisi, Pengetatan Larangan Mudik Mulai 22 April - 24 Mei

Artikel Asli