Iran Pasang Mesin Pengayaan Uranium Canggih di Natanz

Nasional | republika | Published at Kamis, 22 April 2021 - 12:01
Iran Pasang Mesin Pengayaan Uranium Canggih di Natanz

REPUBLIKA.CO.ID,  TEHERAN -- Badan Energi Atom Internasional (IAEA) melaporkan, Iran telah memasang mesin pengayaan uranium atau sentrifugal canggih di pabrik pengayaan uranium bawah tanah (FEP) Natanz. Hal ini memperdalam pelanggaran Iran terhadap kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA) dengan negara-negara besar. Sebelumnya, pabrik pengayaan uranium bahwa tanah di Natanz mengalami ledakan dan pemadaman listik yang merusak mesin. Televisi pemerintah Iran telah menunjukkan bahwa mesin yang rusak itu telah diganti dengan mesin baru. Laporan IAEA tidak menjelaskan secara detail berapa jumlah sentrifugal yang dipasang. Badan tersebut mengatakan, mesin canggih yang dipasang memiliki spesifikasi lebih tinggi dari sebelumnya. Laporan tersebut tidak menyebutkan ledakan atau pengaruhnya terhadap aktivitas pabrik."Pada 21 April 2021, IAEA memverifikasi di FEP bahwa enam kaskade hingga 1.044 sentrifugal IR-2m dan dua kaskade hingga 348 sentrifugal IR-4 dipasang, di mana beberapa di antaranya telah digunakan," kata laporan IAEA kepada negara-negara anggota, mengacu pada Pabrik Pengayaan Bahan Bakar bawah tanah di Natanz.Menurut laporan sebelumnya, IAEA memverifikasi pada 31 Maret bahwa Iran menggunakan 696 mesin IR-2m dan 174 mesin IR-4 di FEP. Laporan pada Rabu (21/4) adalah bukti terbaru bahwa Iran terus melakukan pemasangan mesin-mesin canggih tersebut.Pemasangan itu memungkinkan Iran memproduksi uranium yang diperkaya di pabrik pengayaan bahan bakar bawah tanah (FEP) di Natanz dengan sentrifugal IR-1 generasi pertama, yang jauh kurang efisien daripada model-model canggih.

Dalam laporan itu juga disebut, Iran mengatakan kepada IAEA bahwa mereka berencana untuk memasang empat kaskade lagi, atau kelompok sentrifugal IR-4 di FEP, di mana kedua kaskade IR-4 yang direncanakannya sekarang telah terpasang.Amerika Serikat menarik diri dari perjanjian nuklir (pada 2018 dan memberlakukan kembali sanksi terhadap Iran di bawah Presiden Donald Trump, yang keberatan dengan kesepakatan itu dan berusaha untuk menghancurkannya. Iran menanggapi pada 2019 dengan melanggar banyak pembatasan kesepakatan pada aktivitas nuklirnya.

Artikel Asli