Meski Dilarang, Kemenhub Ungkap 7 Juta Orang Malah Nekat Siap-siap Mudik

Nasional | radartegal | Published at Kamis, 22 April 2021 - 07:20
Meski Dilarang, Kemenhub Ungkap 7 Juta Orang Malah Nekat Siap-siap Mudik

Ada sekitar 7 juta orang yang tetap ingin mudik Lebaran 2021. Padahal pemerintah sudah melarang mudik, karena berpotensi meningkatkan kembali kasus positif COVID-19 di Indonesia.

Juru Bicara Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Adita Irawati mengatakan ada sekitar tujuh juta orang yang tetap ingin mudik pada Lebaran 2021. Mereka tak peduli meskipun mudik telah dilarang pemerintah.

"Meskipun mudik sudah dilarang. Tapi, masih ada sekitar 7 juta orang yang masih berkeinginan untuk mudik," katanya dalam diskusi virtual di YouTube BNPB, Rabu (21/4).

Dia mengatakan temuan ini membuat potensi terjadinya mobilisasi warga yang sangat tinggi pada libur Lebaran. Karenanya, pihaknya akan mengantisipasi agar momentum situasi pengendalian COVID-19 kali ini tetap terjaga.

"Pertama harus kita sadari bahwa pandemi ini belum berakhir. Kita sudah sadar tentang itu meskipun angka dari hari ke hari sudah lebih baik dibanding beberapa bulan lalu. Tapi ini justru momentum yang harus kita jaga agar situasi tidak memburuk lagi," katanya.

Dia menyebut lonjakan kasus COVID-19 harus diantisipasi. Caranya dengan belajar dari pengalaman libur-libur panjang sebelumnya. Bahkan, pada libur Lebaran 2020, angka positif COVID-19 naik hingga 100 persen meskipun saat itu mudik juga dilarang.

"Ini yang seharusnya bisa jadikan pembelajaran untuk bagaimana caranya agar mudik ini tidak menjadi satu penyebab kasus baru atau lonjakan kasus. Akhirnya agar tidak terjadi lonjakan kasus, pemerintah akhirnya mudik tahun ini ditahan dulu, dilakukan peniadaan dan tentu diimbau masyarakat tidak bepergian atau mobilitas secara masif dulu," katanya.

Dia mengingatkan agar Indonesia harus belajar dari India yang kembali mengalami lonjakan kasus positif setelah COVID-19 di negara itu melandai. Dia menyebut Indonesia tidak boleh dulu melonggarkan protokol kesehatan agar penularan virus ini dapat segera berakhir.

"India yang sebelumnya sangat landai kasusnya kemudian membuka, melonggarkan banyak protokol, kemudian banyak juga ritual keagamaan yang mengumpulkan orang banyak, dan sekarang kita lihat kasusnya bahkan sehari bisa 200 ribu. Ini sebuah pembelajaran yang betul-betul harus kita jadikan rujukan," katanya. (gw/zul/fin)

Artikel Asli