Mualaf Hannah dan Pahit Getir Melawan Islamofobia

Nasional | republika | Published at Kamis, 22 April 2021 - 04:49
Mualaf Hannah dan Pahit Getir Melawan Islamofobia

REPUBLIKA.CO.ID, BIRMINGHAM -- Hannah Keeling paham seperti apa rasisme dan Islamofobia itu. Perempuan berusia 23 tahun ini tumbuh besar di Tamworth, Australia, dan telah menyaksikan penghinaan rasial sepanjang hidupnya dan xenofobia sejak sekolah dasar dari orang-orang sekitar.

"Tamworth tidak sebaik yang seharusnya. Menurutku tidak ada orang yang boleh memakai Niqab di Tamworth, tetapi menurutku tidak ada orang yang mau memakainya," katanya, seperti dilansir dari laman Birmingham Mail , Rabu (21/4).

Kemungkinan besar yang memakai niqab akan diteriaki oleh sebuah mobil. Seseorang dapat merobeknya dan berteriak teroris. Di sana tidak ada masjid atau daging halal. Setiap tempat yang memiliki daging halal yang dimasak di restoran mereka tidak akan mengiklankannya.

"Ketika saya tumbuh dewasa, ada dua anak kulit hitam dan dua anak Asia di sekolah SMA saya. Saya memiliki seorang teman yang mengatakan bahwa ayah mereka adalah bagian dari EDL (gerakan anti-Muslim di Inggris). Tetapi saya tidak mendengarkan mereka karena Muslim bisa dari kalangan mana saja. Itu agama damai," ungkapnya.

Hannah resmi memeluk agama Islam pada Januari 2019 lalu. Sejak itulah dia menghadapi berbagai tanggapan berisi kebencian, dan terpaksa merahasiakan keyakinannya di media sosialnya sendiri.

"Saya hanya tidak memposting dengan hijab saya karena saya tahu saya akan menerima kebencian," katanya.

Artikel Asli