Loading...
Loading…
Kisah Gurkha, Pusthun: Amerika Tergusur dari Afghanistan?

Kisah Gurkha, Pusthun: Amerika Tergusur dari Afghanistan?

Nasional | republika | Kamis, 15 April 2021 - 11:29

IHRAM.CO.ID, -- Membayangkan Taliban dan Afgahistan hari-hari ini menjadi hal yang tak terbayangkan. Apaagi terkait pernyataankomandan militer distrik Balkh, Baryalai yang mengatakan Taliban kini menguasai Afghanistan.

Dia memang berkata singkat dan tegas bila pasukan super porwer Amerika Serikat bersama sekutu dalam negeri dan Eropanya telah kalah. Mereka terkepung dan hanya tinggal menguasai perkotaan saja."Pasukan pemerintah ada di sana dekat pasar utama, tetapi mereka tidak dapat meninggalkan pangkalan mereka. Wilayah ini milik para mujahidin," kata komandan militer distrik Balkh, Baryalai.Seperti dikutip dariBBC, kondisi tersebut menjadi gambaran serupa di sebagian besar Afghanistan. Pemerintah mengawasi kota kecil dan kota-kota besar, tetapi Taliban mengepung dengan kehadiran di sebagian besar pedesaan.

Peryataan ini mengingatkan kunjungan saya dua kali ke perbatasan Afganistan dan sempat bertemu dengan petinggi militer Pakistan di Lahore beberapa tahun silam. Waktu setelah setelah naik kendaraan sekitar dua jam dari Islamabad pemendangan bila Taliban akan menang tak terlihat.

Jalanan memang masih ramai dan berdebu. Orang-orang lalu lalang. Tak jelas mana yang taliban mana yang tidak. Semua berwajah khas Afganistan dan Pakistan serba berjenggot lebat dan berjambang. Serban di kepala hal yang lazim.

Melihat itu seorang petinggi militer Pakistan pun sudah mengakui, bila membedakan mana Taliban dan bukan hal yang sulit. Mereka berwajah sama dan berperwakan tubuh yang sama.

\'\'Anda harus tahu, para pendukung Mujahidin di Afganistan adalah berbagai suku yang selama ini sangat tangguh berperang. Meski tanpa berlatih khusus, dari \'sononya kemampuan tempur mereka sangat tinggi dan berkualifikasi sebagai pasukan khusus. Mereka mempunyai bakat alam dan gen sebagai pasukan jempolan,\'\' ujarnya.

Salah satu contoh dari bakat alam tinggi sepagai pasukan tempur, terlihat pada kebiasaan keseharian mereka. Bayangkan mereka bisa tahan membawa sekedar air dan beberapa lipat roti sebagai makannya.

Mereka tahan berminggu-minggu, padahal kalau seorang pasukan khusus moderen harus bawa perbekalan yang banyak. Suplai juga harus mendukung, sedangkan mereka begitu saja apa adanya. Begitu sederhana, karna bisa tahan di pegunungan yang berbatu dan kerap menjumpai gumpalan es dan suhu udara super ekstem,\'\' ujarnya.

Selain itu, sejarah perang moderen juga mengenal suku-suku yang menjadi penyokong perlawanan Mujahidin di Afghanistan. Pasti semua kenal leguin Inggris, Gurkha, pada perang dunia kedua yang legendaris. Khusus untuk Indonesia sosok ini dikenal pada perlawanan 10 November Surabaya dengan komandannya yang kemudian menjadi salah satu Presiden Pakistan, Jendral Zia Ulhaq

Dan memang jarang yang tahu sosok Gurkha dengan komandannya Zia Ulhaq itu. Yang pasti, mereka yang bertempur dahulu bertempur di Surabaya akrab dengan Legiun Gurkha. Bahkan, ketika Zia Ulhaq jadi Presiden pada dekade 1980 awal, ketika berkunjung ke Indonesia sempat meminta izin ke Pak Harto agar bisa datang ke Surabaya untuk kunjungan nostalgia.

Keterangan foto : Pasukan Gurkha di Surabaya pada tahn 1945.

---------

Dan bila melihat keliatan mental para pendudukung Mujahidin juga kini terbukti tak beda dengan Legiun Gurkha. Selain penunya kemampun fisik alami yang tanggung sebegai tentara kelas satu, mereka juga akar sejarah sebagai suku penempur nomor wahid dunia.

Apa sejarah yang tercatat dan terwariskan itu? Jawabnya, para suku-suku itulah yang pada zaman Romawi dulu berhasil menahan gempuran tentara Iskandar Zulkarnain (Alexander The Great) pulang dan mengakhiri petualangan ekspansinya di India.

Nah, ketika mereka akan melawati suku yang kini dikenal dengan sebutan \'Pusthun\' mereka harus balik ke Eropa. Mereka akhrnya gigit jari, dan seabad silam ekpspansi Eropa juga sempat hadir kembali.

Pada abad moderen ini petualangan itu dicoba diulangi oleh Kaisar Jerman Adolf Hitler yang sibuk mengacak-acak wilayah anak benua Idoa itu untuk mencari ras Arya yang asli. Usaha ini pun gagal total. Hitler gigit jari.

***

Pada masa pandemi Covid-19 yang melanda dunia, tanda-tanda kesentosaan suku-suku penempur di perbatasan Afghanistan dan Pakistan, muncul kembali. Tentara sekutu pimpinan Amerika Serikat ternyata lunglai. Keloyoan mereka seperti mengulang kisah tragis kala di bantai tentara Vietkong di perang Vietnam pada dekade 1970-an. Amerika tampaknya akan menyusul nasib Uni Sovyet yang secara hina terusir dari Afghanistan di tahun akhir 1980-an.

Fenomena ini jelas menjadi bukti, bila bla tentara Amerika Serikat terbukti hanya menang di film saja dan tumpul ketika berperang dalam masa panjang menghadapi perang gerilya. Keperkasaan dalam menyerbu secara kilat dengan merontokkan Sadam Husein di kawasan itu tak terbukti. Mereka hanya mampu efektif berperang secara keroyokan.

Dan menmang sama dengan perang di Vietnam, bala tentara Amerika Serikut dan barat pun mengalami frustasi berat. Rakyatnya mulai menentangnya karena para ibu mereka hanya bisa meratapi kepulangan putranya yang dipaketkan dalam peti mati sebagai mayat.

Keunggulan peralatan perang mereka terbukti takluk di tangan legiun yang mempunyai spirit tinggi, baik secara alami, spiritual dan bekal \'kegemilangan\' sejarah.

Original Source

Topik Menarik