Cerita WNI Korban Sandera Kelompok Teroris: Tak Makan Tiga Hari Hingga Terpaksa Berenang di Laut Lepas

Nasional | ayojakarta | Published at Senin, 05 April 2021 - 13:32
Cerita WNI Korban Sandera Kelompok Teroris: Tak Makan Tiga Hari Hingga Terpaksa Berenang di Laut Lepas

TEBET, AYOJAKARTA.COM – Kementerian Luar Negeri baru saja berhasil membebaskan empat WNI korban penyanderaan kelompok militan bersenjata yang berafiliasi dengan teroris asal Filipina, Abu Sayyaf Group (ASG).

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan, empat WNI yang diketahui bernama Arsyad, Arizal, Riswanto, dan Kairudin, telah menjadi korban sandera selama 427 hari atau lebih dari 1 tahun 3 bulan.

Salah satu sandera, Arizal, menceritakan kronologi dan keadaannya bersama tiga orang temannya ketika ASG mulai melakukan penyanderaan. Arizal mengungkap, dia dan tiga orang WNI lainnya bahkan harus menahan lapar selama dua hingga tiga hari.

Kejadian bermula pada 15 Januari 2020 tepat jam tujuh malam waktu setempat. Saat itu, keempat nelayan yang bekerja di kapal ikan milik Malaysia itu sedang menggulung pukat ikan di atas kapal yang sedang berlayar.

“Tiba-tiba Kelompok Abu Sayyaf naik ke atas kapal kami. Kami semua lari. Lalu kami semua dikumpulkan di depan kapal,” jelas Arizal di Kementerian Luar Negeri setelah melakukan prosesi penyerahan korban sandera ke keluarga masing-masing, Senin (5/3/2021).

Menurut penjelasan Arizal, ada total 7 orang dari kelompok senjata tersebut yang naik ke kapal ikan tempatnya bekerja. Lima orang anggota ASG berada di atas kapal, dan dua orang lainnya berada di boat kapal.

Setelah disandera, mereka dibawa ke suatu pulau yang terletak di Sulawesi Utara pada jam 8 malam waktu setempat dan sampai di sana pada pukul 3 subuh. Selain menceritakan situasi mencekam, Arizal juga membeberkan cerita tentang bagaimana dia dan tiga orang lainnya bisa kabur dari para perompak.

Suatu hari, ASG berencana untuk memindahkan empat WNI sebagai anak buah kapal itu ke Pulau Taytay yang berada di Filipina. Mereka berangkat dari Maimbung Filipina, pulau yang ditengarai sebagai markas ASG.

“Berangkat dari Maimbung jam 11 malam kami melakukan perjalanan menuju Pulau Taytay,” kata Arizal.

Namun, sebuah kecelakaan menerpa perjalanan empat nelayan bersama ASG ke Pulau Taytay. Kapal yang mereka tumpangi terbalik karena terjangan ombak di tengah perjalanan.

Kecelakaan tersebut lalu dimanfaatkan keempat WNI tersebut untuk melarikan diri. “Ada pulau di dekat-dekat sana. Kami berenang . Sampai jam 4 sore (waktu setempat) baru ada pertolongan,” jelasnya.

Sejak tahun 2016 hingga saat ini, Menlu Retno mencatat ada 44 WNI yang menjadi korban penyanderaan Kelompok Abu Sayyaf. Dengan pembebasan ini, maka tidak ada lagi WNI yang saat ini menjadi korban penyanderaan.

Dia menuturkan ke depannya, Pemerintah Indonesia harus memperkuat aspek pencegahan, meningkatkan pengamanan di perairan Sabah oleh Otoritas Malaysia, dan kerja sama dari Indonesia dan Otoritas Filipina.

“Selain itu kehati-hatian nelayan kita yang bekerja di kapal ikan Malaysia juga penting untuk terus ditingkatkan. Kita juga akan melakukan komunikasi yang lebih intensif kepada pemilik kapal di Malaysia. Dan tentunya pengembangan ekonomi di daerah asal juga penting untuk terus dikembangkan,” kata Retno.

Artikel Asli