2022, Dharmasraya Targetkan Kirim 100 Orang Tenaga Kerja Produktif ke Jepang

Nasional | harianhaluan | Published at Senin, 05 April 2021 - 11:02
2022, Dharmasraya Targetkan Kirim 100 Orang Tenaga Kerja Produktif ke Jepang

PULAU PUNJUNG, HARIANHALUAN.COM - Pemerintah Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, melalui Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Transnaker) setempat, menargetkan untuk mengirim 100 orang angkatan kerja produktif asal daerah itu untuk dipekerjakan di negara Jepang, pada 2020.

Simak Terus Berita Sumbar Hari ini di Harianhaluan.com

Kepala Dinas Transnaker Kabupaten Dharmasraya, Marten Yunus, di Pulau Punjung, Senin (05/04), mengungkapkan langkah itu merupakan bagian dari upaya memenuhi kebutuhan tenaga kerja bagi kelompok usia produktif dengan keahlian, sebagaimana tertuang dalam kesepakatan pemerintah Indonesia dan pemerintah Jepang untuk menjalin kerja sama di bidang penempatan tenaga kerja berketrampilan spesifik atau Spesified Skilled Worker (SSW) untuk bekerja di Jepang.

Simak Terus Berita Sumbar Terkini di Harianhaluan.com

"Dalam kesepakatan tersebut terungkap bahwa negara tujuan tersebut membutuhkan tenaga kerja terampil dari berbagai negara termasuk Indonesia sebanyak hampir 350 ribu orang, akibat adanya problem populasi  berupa shortage tenaga kerja dan aging society atau tingginya jumlah kelompok masyarakat lanjut usia di negara tersebut," tebutnya.

Akibatnya, lanjut Marten, pihak Pemerintah Jepang menerbitkan regulasi keimigrasian berupa residential status baru bagi tenaga kerja asing yang akan bekerja di negaranya. 

Dengan residential status tersebut, ulasnya, Pemerintah Jepang membuka peluang kerja pada 14 sektor bagi tenaga kerja asing SSW yang selama ini tidak dibuka penempatannya karena lebih mengutamakan serapan ketenagakerjaan secara lokal. 

Lebih jauh dijelaskan, untuk memenuhi target tersebut pihak Dinas Transnaker Dharmasraya mengupayakan untuk memberi pelatihan keterampilan berbahasa Jepang bagi angkatan kerja yang memiliki minat dan kemampuan untuk dipekerjakan. 

Untuk tahap pertama, terangnya, diproyeksikan bagi para angkatan kerja bidang kesehatan dan kuliner karena dua sektor tersebut dinilai lebih berpeluang untuk diisi sesuai dengan ketersediaan angkatan kerja di daerah itu. 

Ia mengatakan, kendala utama yang dihadapi pihaknya untuk mencapai target tersebut adalah mahalnya biaya pelatihan keterampilan berbahasa Jepang yang harus ditanggung oleh angkatan kerja. 

"Untuk satu paket pelatihan dibutuhkan dana sebesar Rp5 juta per orang, dengan masa pelatihan selama tiga bulan, " Ujarnya. 

Untuk menyiasati agar serapan materi pelatihan bisa maksimal, pihaknya mengutus satu orang instruktur bahasa asing di lingkungan Balai Latihan Kerja (BLK) setempat, untuk memperdalam keilmuan Sastra Jepang di Yogyakarta. 

Sehingga, tambahnya, instruktur tersebut bisa menularkan keilmuan yang dimiliki bagi angkatan kerja melalui paket pelatihan prakerja yang diselenggarakan pihaknya. 

Disinggung tentang pembiayaan pelatihan, ia menegaskan tidak bisa terlalu bergantung pada dana kas daerah dan pihaknya selama ini mengupayakan sumber pendanaan dari pihak kementerian terkait. 

"Khusus untuk penyiapan angkatan kerja yang diproyeksikan ke Jepang, kami berupaya untuk mencarikan dana talangan pelatihan dari beberapa elemen seperti Baznas dan Pemerintah Nagari melalui kegiatan peningkatan sumber daya manusia dengan sistem tanggung renteng dan akan dibayarkan bertahap setelah yang bersangkutan mulai bekerja di negara tujuan, " Sebutnya. 

Pola itu, lanjutnya, sangat mungkin dilakukan karena sistem penggajian para tenaga kerja tersebut dibayarkan oleh pemerintah melalui lembaga ditunjuk, sehingga bisa dilakukan pemotongan gaji dengan besaran tertentu tanpa mengorbankan hak-hak mereka sebagai pekerja. 

"Penghasilan yang diterima perbulan cukup besar yakni mencapai Rp40 juta perbulan, jika dibandingkan dengan penghasilan selama kontrak kerja tiga tahun dengan nilai segitu maka dana yang dipotong untuk biaya pelatihan tidak lah seberapa dan tidak akan menggangu hak pekerja untuk hidup sejahtera, " tutupnya.

Sebelumnya, Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Transnaker) Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, mengajak angkatan kerja asal daerah itu meningkatkan penguasaan kefasihan dalam menggunakan bahasa asing sebagai salah satu upaya meningkatkan peluang dalam memenangkan persaingan. 

Kepala Dinas Transnaker setempat, Marten Yunus, di Dharmasraya, Selasa (23/02), mengatakan jika ditilik dari iklim persaingan angkatan kerja dalam mendapatkan peluang pekerjaan, faktor tersebut merupakan salah satu penentu bagi institusi pengguna jasa tenaga kerja untuk difungsikan dalam kegiatan administrasi perkantoran atau usaha mereka. 

"Berdasarkan pengamatan selama ini banyak angkatan kerja asal daerah ini urung mendapatkan kesempatan karena kalah seleksi karena kurang mampu berbahasa asing meskipun secara kemampuan bidang lainnya cukup mumpuni," ungkapnya. (*)

Artikel Asli