Banjir Bandang NTT Jadi Bencana Nasional? Ini Kata Menko PMK

Nasional | inewsid | Published at Senin, 05 April 2021 - 09:43
Banjir Bandang NTT Jadi Bencana Nasional? Ini Kata Menko PMK

JAKARTA, iNews.id - Sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur dilanda banjir bandang pada Minggu 4 April 2021. Jumlah korban meninggal lebih dari 50 orang dan puluhan lainnya masih hilang.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Muhadjir Effendy mengatakan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan mengkaji apakah banjir bandang akan ditetapkan menjadi bencana nasional.

Menurut dia, penetapan suatu peristiwa menjadi bencana nasional ada kriterianya sendiri serta ada konsekuensinya. Karena itulah diperlukan pengkajian oleh BNPB.

"Penetapan suatu kejadian bencana sebagai bencana nasional itu ada kriterianya dan juga ada konsekuensi-konsekuensinya. Nanti BNPB akan mengkaji," kata Muhadjir kepada wartawan, Senin (5/4/2021).

Muhadjir menuturkan, yang lebih penting saat ini adalah respons cepat pemerintah untuk menemukan dan menolong warga terdampak. "Sekarang yang lebih mendesak perlu respon cepat untuk penemuan dan pertolongan kepada para korban," katanya.

Ketua PP Muhammadiyah itu mendapat informasi jumlah korban meninggal pada bencana banjir bandang di Flores Timur (Flotim) menjadi 50 orang, bertambah dari temuan sebelumnya. Informasi itu didapatnya dari Kepala BNPB Doni Monardo.

"Pak Doni barusan memberi tahu saya, korban meninggal ditemukan menjadi lima puluhan," kata Muhadjir.

Sebelumnya, BPBD setempat melaporkan data sementara yang menyebutkan 41 warga meninggal dunia, 9 luka-luka dan 27 hilang. BPBD terus melakukan pendataan dan memverifikasi data lapangan untuk pemutakhiran selanjutnya.

Banjir bandang melanda empat desa di tiga kecamatan, Kabupaten Flotim, Nusa Tenggara Timur. Wilayah terdampak antara lain Desa Nelelamadike di Kecamatan Ile Boleng, Kelurahan Waiwerang dan Desa Waiburak di Kecamatan Adonara Timur, Desa Oyang Barang dan Pandai di Kecamatan Wotan Ulumado serta Desa Waiwadan dan Duwanur di Kecamatan Adonara Barat.

Di samping korban jiwa, banjir bandang berakibat pada 5 jembatan putus dan puluhan rumah warga tertimbun lumpur, seperti di Desa Nelelamadike, dan puluhan rumah terendam banjir di Kecamatan Adonara Barat.

Berdasarkan laporan BPBD, insiden banjir bandang dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi.

Artikel Asli