Suami-Istri Penjual Sabu di Batulayar Diringkus

Nasional | lombokpost | Published at Senin, 05 April 2021 - 09:50
Suami-Istri Penjual Sabu di Batulayar Diringkus

MATARAM-Pasangan suami istri (Pasutri) asal Batulayar, Lombok Barat (Lobar), berinsial RA alias Aji dan DEA ditangkap tim khusus (Timsus) Ditresnarkoba Polda NTB di rumahnya di Dusun Presak, Desa Meninting, Jumat (2/4/2021) dini hari. Penangkapan pasutri ini merupakan pengembangan dari penangkapan yang dilakukan timsus yang dipimpin Danyon A Pelopor Satbrimob Polda NTB AKBP Denny Welly Wolter Tompunuh.

Awalnya mereka menangkap MFW alias Willy dan HHD alias Handal yang merupakan anak buah Aji. ”Kita tangkap anak buahnya di wilayah Monjok, Mataram,” kata Denny usai melakukan penangkapan, Sabtu (3/4/2021) lalu.

Timsus kali pertama menangkap Handal di wilayah Monjok. Saat melakukan penggeledahan badan, ditemukan satu poket sabu di kantong belakang sebelah kiri celananya. Juga uang Rp 320 ribu. Saat diinterogasi, Handal mengaku mendapat barang haram tersebut dari Willy. Timsus lantas mencari Willy di rumahnya, Lingkungan Monjok Kebon Jaya Barat, Kelurahan Monjok, Kecamatan Selaparang, Mataram. ”Saat kami tangkap Willy berusaha melarikan diri. Tetapi, berhasil kita tangkap,” tutur Denny.

Timsus menemukan beberapa peralatan menggunakan sabu saat menggeledah rumah Willy. Mereka juga menemukan tiga poket sabu di kloset dan bungkus rokok. ”Saat hendak melarikan diri, Willy berusaha membuang barang bukti ke kloset. Tetapi, tim yang sudah sigap berhasil mencegahnya,” ujarnya.

Dari mulut Willy, keluar pengakuan dia mendapatkan sabu dari pasutri Aji dan DEA. ”Kami langsung ke rumahnya di wilayah Meninting, Lombok Barat,” kata dia.

Timsus mengepung rumah yang ditempati Aji dan DEA. Saat pintu rumah diketuk, DEA membuka pintu. ”Aji sedang keluar dari tadi,” kata DEA kepada petugas dengan wajah sedikit pucat.

Setelah DEA membuka pintu, keluar orang tua DEA. “Ada apa ya?” tanya orang tua DEA.

Tak sempat dijawab polisi, terdengar suara kejar-kejaran di belakang rumah. Ternyata, Aji berusaha kabur. Namun berhasil ditangkap polisi. ”Diam kamu. Jangan lari,” pinta petugas.

Aji berusaha kabur bersama dua rekannya berinisial DB dan GN. ”Saya tidak tahu apa-apa ini,” kata Aji dengan nada tinggi melawan petugas.

Disaksikan aparat dusun setempat, timsus melanjutkan penggeledahan. Ditemukan beberapa sisa alat sabu di dapur rumah yang ditempati Aji dan DEA.

Semua sisi halaman rumah disisir. Ditemukan bungkusan rokok berisi sabu. Di dalamnya terdapat lima poket sabu.

Saat diberi tahu tentang bungkus rokok berisi sabu itu, Aji mengelak. Dia tidak mengakui barang haram tersebut miliknya. ”Tunggu dulu, itu bukan barang saya. Saya tidak tahu apa-apa,” kelit Aji.

Saat rumah orang tua DEA digeledah ditemukan beberapa sisa klip sabu berukuran besar. Serta isolasi berwarna kuning sebagai pengikat klip sabu. ”Jadi, sabu yang kita temukan ini memiliki kemiripan dengan isolasi kuning yang digunakan untuk membungkus sabu,” kata Denny.

Setelah diperlihatkan barang bukti tersebut, Aji tetap mengelak kalau barang tersebut adalah miliknya. ”Itu milik Willy, tadi dia datang ke rumah saya untuk nitip bekerja (memecah sabu, Red). Dia menggunakan klip. Saya hanya membantu,” bantah Aji.

Tetapi, polisi tetap tidak percaya. Bukti chat di handphone yang diperlihatkan membuat Aji tidak berkutik. Aji pun mengakui barang tersebut miliknya.  ”Ya, dah pak itu milik saya,” ujarnya.

Berdasarkan hasil penyidikan, ternyata Aji dan DEA kompak jualan sabu. Aji bertindak sebagai penerima dan penjual sabu. Sementara sang istri DEA bertindak sebagai pengatur keuangan. ”Terakhir, kita lihat chat-nya mereka memesan barang hingga 3 ons. Namun, sudah habis terjual,” kata Denny.

Timsus masih terus mengembangkan kasus tersebut. Siapa saja jaringan pasutri ini. ”Kita masih terus kembangkan,” kata Denny.

Dia mengingatkan seluruh pengguna untuk berhenti. Begitu juga dengan para pengedar dan bandar sabu. ”Jangan sampai kami datang ke tempat kalian. Kami pasti akan menangkap kalian,” peringatnya.

Sementara itu, Aji mengaku dirinya menjual sabu karena terlilit utang. Beberapa pembayaran sabu masih mandek di anak buahnya. Sehingga, Aji tidak bisa membayar utang ke bosnya. ”Uang saya mandek sekitar Rp 30 jutaan. Jadi, uang saya tidak bisa kembali. Itu masalahnya,” kata Aji. (arl/r1)

Artikel Asli