Perempuan Lebih Rentan Terpapar Paham Radikal

Nasional | koran-jakarta.com | Published at Senin, 05 April 2021 - 06:40
Perempuan Lebih Rentan Terpapar Paham Radikal

JAKARTA - Sejumlah aksi terorisme dan radikalisme melibatkan perempuan sebagai pelakunya. Ini membuktikan perempuan lebih rentan terpapar paham radikal, Sebagai contoh aksi teror di Gereja Kathedral, Makassar dan di Markas Besar (Mabes) Polri, Jakarta yang melibatkan perempuan sebagai pelakunya.

"Maraknya pelibatan perempuan dalam aksi radikalisme dan terorisme, membuktikan perempuan lebih rentan terjerumus dalam jerat persoalan tersebut," kata Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Ratna Susianawati, dalam siaran diskusi, di Jakarta, Sabtu (3/4).

Ratna menyebut faktor penyebab keterlibatan perempuan dalam paham radikal dan aksi teror yaitu faktor sosial, ekonomi, perbedaan pola pikir, serta adanya doktrin yang terus mendorong bahkan menginspirasi para perempuan.Menurutnya, perlu upaya pencegahan dari seluruh elemen masyarakat, khususnya melalui penguatan ketahanan keluarga sebagai unit terkecil dan pertahanan pertama dalam masyarakat.

"Keterbatasan akses informasi yang dimiliki dan keterbatasan untuk menyampaikan pandangan dan sikap, juga turut menjadi faktor pemicu," jelasnya.

Ketahanan KeluargaLebih jauh Ratna mengatakan pentingnya ketahanan keluarga dan strategi komunikasi yang baik untuk membangun karakter anak. Cara tersebut harus menginternalisasi nilai-nilai sesuai norma hukum, adat, agama, dan budaya.

Dia melanjutkan ketahanan keluarga sebagai pondasi dan filter atas kemajuan teknologi dan informasi, serta bervariasinya modus-modus kejahatan baru. Orangtua harus bisa menjalin hubungan baik dengan anak mengingat banyak perempuan yang tidak tahu apa saja risiko atas minimnya pengetahuan.

"Orang tua harus bisa menjalin hubungan baik dengan anak, mengawasi dan mengontrol anak, memberikan edukasi, menerapkan pola komunikasi yang terbuka dan mudah dipahami, menerapkan pola pengasuhan dengan kesiapsiagaan, dan mendeteksi risiko," imbuhnya.

Ratna menekankan pentingnya sinergi semua pihak, baik masyarakat sipil untuk bergerak secara masif dan berkelanjutan, khususnya dengan melakukan sistem deteksi dini. Persoalan terorisme dan radikalisme merupakan tantangan besar Indonesia dalam menghasilkan SDM berkualitas.

"Mari kita bersinergi lindungi perempuan dari bahaya terorisme dan radikalisme, demi mewujudkan generasi emas Indonesia pada 2045. Jika perempuan berdaya, anak terlindungi, saya yakin Indonesia pun akan maju," tandasnya.

Sementara itu, Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Akhmad Nurwakhid menyebut adanya anggapan perempuan memiliki perasaan yang lebih sensitif, peka, emosi labil, dan memiliki sikap taat pada suami. Anggapan tersebut cenderung membuat perempuan lebih mudah dipengaruhi dan dimanfaatkan teroris laki-laki dalam melakukan aksinya.

"Menindaklanjuti persoalan ini, BNPT berupaya menanggulanginya, di antaranya dengan membentuk Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) yang sudah dibentuk di 32 provinsi untuk melakukan sosialisasi kepada generasi muda, termasuk perempuan, dan anak," katanya.

Sejumlah tokoh lintas agama, menyerukan deklarasi damai yang dilaksanakan di kediaman Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Papua Pdt. Lipius Biniluk di Sentani.

Deklarasi damai yang ditandai dengan pembacaan pernyataan sikap dilaksanakan Sabtu malam itu (3/4) selain dihadiri tokoh lintas agama juga Waka Polda Papua Brigjen Pol Eko Rudi Sudarto, Danlanud Silas Papare Marsma TNI Budi Achmadi berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan.

Pernyataan sikap yang dibacakan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Papua, KH Syaiful Islam Al Payage. Mengutuk keras dan mengecam setiap aksi terorisme bom bunuh diri. Mengimbau dan mengajak seluruh komponen masyarakat dan umat beragama di Papua untuk tetap tenang dan mempercayakan sepenuhnya kepada aparat kepolisian.

Artikel Asli