Loading...
Loading…
Hukum 6 Hari Puasa Syawal Saat Masih Punya Utang Puasa Ramadhan

Hukum 6 Hari Puasa Syawal Saat Masih Punya Utang Puasa Ramadhan

Muslim | sindonews | Rabu, 04 Mei 2022 - 16:45

Para ulama berselisih pendapat dalam masalah, apakah boleh mendahulukan puasa sunnah (termasuk puasa enam hari di bulan Syawal) sebelum melakukan puasa qadha Ramadhan.

Imam Abu Hanifah, Imam asy Syafii dan Imam Ahmad, berpendapat bolehnya melakukan itu. Mereka mengqiyaskannya dengan sholat thathawu sebelum pelaksanaan sholat fardhu.

Adapun pendapat yang masyhur dalam madzhab Ahmad, diharamkannya mengerjakan puasa sunnah dan tidak sah, selama masih mempunyai tanggungan puasa wajib.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menetapkan, berdasarkan aturan syariat (masyru) mendahulukan puasa qadha Ramadhan terlebih dahulu, ketimbang puasa enam hari dan puasa sunnah lainnya.

Hal ini merujuk sabda Nabi SAW:

Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian diiringi dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, maka ia seperti puasa satu tahun. Barangsiapa mengutamakan puasa enam hari daripada berpuasa qadha, berarti belum mengiringkannya dengan puasa Ramadhan. Ia hanya mengiringkannya dengan sebagian puasa di bulan Ramadhan.

Mengqadha puasa hukumnya wajib. Sedangkan puasa enam hari hukumnya sunnah. Perkara yang wajib lebih utama untuk diperhatikan terlebih dahulu.

Baca Juga :
Puasa Syawal dan Utang Ramadhan, Bolehkah Digabung?

Pendapat ini pun beliau tegaskan, saat ada seorang wanita yang mengalami nifas pada bulan Ramadhan dan mempunyai tekad yang kuat untuk berpuasa pada bulan Syawal.

Beliau tetap berpendapat, menurut aturan syariat, hendaknya Anda memulai dengan puasa qadha terlebih dahulu. Sebab, dalam hadis, Nabi SAW menjelaskan puasa enam hari (Syawal) usai melakukan puasa Ramadhan. Jadi perkara wajib lebih diutamakan daripada perkara sunnah.

Sementara itu Abu Malik, penulis kitab Shahih Fiqhis Sunnah berpendapat, masih memungkinkan bolehnya melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal, meskipun masih memiliki tanggungan puasa Ramadhan. Dasar argumentasi yang digunakan, yaitu kandungan hadis Tsauban di atas yang bersifat mutlak.

Original Source