Mansa Musa Orang Terkaya Sepanjang Masa Punya Kekayaan Rp5.897 Triliun Keturunan Bilal bin Rabah?

Muslim | sindonews | Published at Kamis, 11 November 2021 - 08:35
Mansa Musa Orang Terkaya Sepanjang Masa Punya Kekayaan Rp5.897 Triliun Keturunan Bilal bin Rabah?

Bilal bin Rabah adalah sahabat Rasulullah SAW. Beliau muadzin pertama dalam Islam. Bilal bin Rabah lahir di Makkah pada tahun 580 M dan wafat pada tahun 638 M. Mansa Musa, orang terkaya sepanjang masa dengan pundi-pundi senilai USD400 miliar atau Rp5.897 triliun disebut-sebut sebagai keturunan Bilal bin Rabah.

Mo Barnes dalam tulisannya berjudul " Are Mandinkas Descendants Of Bilal? " dan dipublikasikan laman Kaironews menulis keturunan Bilal bin Rabah bermigrasi ke tanah Mali dan mendirikan klan Mandinka di Keita.

Mandinka kemudian membentuk Kekaisaran Mali yang kuat dan kaya. Kekaisaran ini menghasilkan orang kulit hitam terkaya yang pernah hidup, yakni Raja Mansa Musa.

Mansa Musa adalah orang terkaya sepanjang sejarah. Kekayaannya mencapai USD400 miliar atau setara dengan Rp5.897 triliun.

Dalam salah satu daftar peringkat 24 orang terkaya di dunia sepanjang masa, yang disusun oleh situs Celebrity Net Worth, mendudukkan Mansa Musa sebagai orang terkaya No. 1 sepanjang masa dengan total kekayaan sekitar USD400 miliar.

Independent.co.uk menggambarkan dengan tingkat inflasi yang disesuaikan dengan kekayaan sebesar USD400 miliar, Mansa Musa I akan jauh lebih kaya daripada orang terkaya di dunia saat ini.

Eamonn Gearon, dalam bukunya Turning Points in Middle Eastern History , menyatakan Mansa Musa tidak hanya kaya, lebih dari itu, ada masa ketika nama dan legendanya demikian kuat hingga mampu mempertemukan Eropa di Era Penemuan dengan kawasan Muslim di Utara dan Barat Afrika.

Kerajaan Mansa Musa termasuk Ghana, Timbuktu, dan Mali menghasilkan setengah dari garam dan emas di dunia pada waktu itu. Ketika dia pergi haji ke Makkah, dia memberikan begitu banyak emas sehingga harga emas turun di seluruh dunia. Meskipun sudah lebih dari 700 tahun sejak dia berjalan di bumi ini, beberapa monumen peninggalannya masih berdiri.

Bilal Keita

Di wilayah Afrika, nama Bilal bin Rabah juga dikenal sebagai Bilal Keita, yang dipercaya menjadi leluhur Para Mansa (Raja) di Benua Afrika.

Berdasarkan tutur kata turun-menurun, Bilal bin Rabah memiliki putera bernama Lawalo Keita. Kemudian Lawalo Keita berputra Latal Kalabi Keita. Salah seorang anak dari Latal Kalabi Keita, yang bernama Damul Kalabi Keita, merupakan ayah dari Lahilatoul Keita, yang merupakan pemimpin di wilayah Niani.

Melalui Lahilatoul inilah muncul sebuah dinasti yang sangat terkenal di Afrika, yang dikenal sebagai Dinasti Keita.

Dalam buku Historical Dictionary of Mali disebutkan Dinasti Keita memerintah Mali pra-kekaisaran dan kekaisaran dari abad ke-11 hingga awal abad ke-17. Ini adalah Dinasti Muslim, dan penguasanya mengklaim keturunan dari Bilal Keita, juga dikenal sebagai Bilal bin Rabah.

William Desborough Cooley dalam bukunya berjudul The Negroland of the Arabs Examined and Explained menyebutkan salah seorang anggota Klan Dinasti Keita, yang bernama Mansa Musa I (Penguasa Kerajaan Mali, lahir tahun 1280an), dikenal sebagai raja yang sangat dermawan dan sangat kaya raya.

Pada tahun 1324, Mansa Musa melakukan perjalanan haji dengan jarak tempuh 4800 km. Satu laporan mengatakan jumlah total kafilah Mansa Musa menuju ke Tanah Suci adalah 60.000 orang, termasuk 12.000 budak, yang masing-masing membawa empat pon emas (1,8 Kg) emas, di samping perbekalan lainnya.

Terdapat pula sekitar 80 unta yang berfungsi khusus untuk membawa emas. Eamonn Gearon memperkirakan, emas yang dibawa unta-unta ini sekitar 300 pound (136 Kg) per hewan, atau bila ditotalkan sama dengan 24 ton emas.

Jessica Smith dalam TED-Ed Original Leason, menyatakan tidak ada yang melakukan perjalanan dengan anggaran seperti Mansa Musa. Dia membawa kafilah yang membentang sejauh mata memandang.

Riwayat menggambarkan rombongan puluhan ribu tentara, warga sipil dan budak, 500 petarung membawa emas dan berpakaian dengan sutra halus, serta banyak unta dan kuda yang mengangkut banyak batangan emas.

Perjalanan yang ditempuh oleh kafilah Mansa Musa diperkirakan lebih dari 4800 km, melewati Gurun Sahara yang merupakan gurun panas terbesar di dunia.

Gurun Sahara adalah jalur yang paling populer di benua ini, dan sudah digunakan sekitar 6000 tahun yang lalu. Jalur ini merupakan urat nadi ekonomi benua Afrika yang menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya, seperti Jalur Sutra di Asia.

Artikel Asli