Loading...
Loading…
Cerita Sahrul si Petugas Pemusalaran Jenazah, Harus Belajar Mensholatkan Mayat

Cerita Sahrul si Petugas Pemusalaran Jenazah, Harus Belajar Mensholatkan Mayat

Muslim | okezone | Rabu, 29 April 2020 - 22:04

SEORANG petugas pemulasaran jenazah menceritakan pengalamannya mengurus jenazah positif COVID-19 atau yang meninggal dalam status Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Dialah Sahrul Ridha (40), petugas Instalasi Pemulasaran Jenazah (IPJ) di RSPI Sulianti Saroso, salah satu rumah sakit rujukan COVID-19 di Jakarta.

Dia mengatakan berharap tak ada lagi korban yang meninggal dalam status PDP, melihat kesedihan yang dialami keluarga yang ditinggalkan.

"Perasaan saya kadang trenyuh. Bagaimana jika itu terjadi sama saya? Sejak dirawat hingga meninggal, enggak ada satu pun anggota keluarga yang bisa melihat pasien" ujarnya kepada BBC Indonesia.

Sahrul, dan dua petugas pemulasaran jenazah lain, adalah orang terakhir yang dapat melihat dan mengurus pasien yang meninggal, baik dalam status positif COVID-19 maupun Pasien Dalam Pengawasan (PDP), yakni mereka yang bergejala COVID-19, tapi belum dites atau mendapat hasil tes swab PCR.

Sejak kasus COVID-19 diumumkan pemerintah di bulan Maret, Sahrul setidaknya sudah mengurus 30 jenazah, dengan puncaknya di bulan Maret, di mana ia pernah mengurus empat jenazah dalam sehari.

Menurut data pemerintah Provinsi Jakarta, hingga 20 April 2020, lebih dari 1.200 orang sudah dimakamkan dengan protap Covid-19. Dari jumlah itu, 331 orang meninggal dalam status positif Covid-19, sisanya belum diketahui apakah positif atau negatif (PDP).

Sahrul bercerita tugasnya dimulai saat seorang pasien dinyatakan meninggal. Dengan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap, Sahrul harus berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan pemulasaran jenazah dalam empat jam, sebagaimana ditetapkan kementerian kesehatan.

Hal pertama yang dilakukannya adalah memindahkan jenazah ke ruang pemulasaran untuk dimandikan atau jika tidak memungkinkan, sekadar dicipratkan air (tayamum).

"Prosesnya memang makan waktu. Kami harus betul-betul teliti, betul-betul sebersih mungkin. Jangan sampai ketinggalan ini-itu, desinfektan kurang atau apa," ujar Sahrul.

"Kami mengenakan masker N95, masker bedah, dalam waktu dua sampai tiga jam. Kami kekurangan cairan, oksigen, keringat semua bercucuran karena pakai apron panas sekali. Kami harus tahan itu sampai selesai. Kami harus kuat," ujarnya.

Original Source