Muhasabah Sudah Sampai Mana Koreksi Diri Dilakukan?

okezone | Muslim | Published at 09/09/2021 08:00
Muhasabah Sudah Sampai Mana Koreksi Diri Dilakukan?

MUHASABAH atau koreksi diri sangat tepat dilakukan pada pagi hari mengawali kegiatan. Perintah muhasabah diri pun banyak tertuang dalam hadis.

Di antara hadis-hadis yakni yang diriwayatkan dari Maimun bin Mihran, beliau berkata,

Hamba tidak dikatakan bertakwa hingga dia mengoreksi dirinya sebagaimana dia mengoreksi rekannya(HR. Tirmidzi no. 2459) dan dari Umar bin KhaththabRadhiyallahu anhu:

Lakukanlah muhasabah pada jiwa kalian sebelum kalian dihisab,karena hisab pada hari kiamat nanti akan menjadi ringan bagi orang-orang yang telah memuhasabah dirinya ketika didunia.(HR. At Tirmidzi no. 2459)

Ustadz Abu Ruwaifi Saryanto menjelaskan, muhasabah atau introspeksi diri dilakukan sebelum dan sesudah beramal. Sebelum beramal, hendaklah seseorang berhenti sejenak dan merenungkan sampai nampak baginya pilihan terbaik, antara yang dilakukan atau ditinggalkan. Perlu diketahui, introspeksi diri setelah beramal itu ada tiga jenis:

Pertama: Introspeksi diri atas ketaatan yang telah ia lakukan. Apakah ada kekurangannya? Apakah sudah sesuai keinginan Allah dan tuntunan Rasul-Nya?.

Misalnya, apakah shalat yang kita lakukan telah sesuai dengan tuntunan Rasulullah? Baik lahir maupun batin. Ataukah hanya sebatas lahiriyahnya saja? Jauh dari kekhusyuan bahkan ada unsur dunia di dalamnya? Sejak takbiratul ihram sampai salam.

Kedua: Introspeksi diri atas setiap amalan yang sebaiknya ditinggalkan.

Misalnya adalah kebiasaan sebagian orang yang merayakan malam tahun baru dengan bergadang semalam suntuk, membuat gaduh dengan suara petasan, serta berbagai bentuk gangguan terhadap orang lain, sampai akhirnya tidak bisa melaksanakan sholat Shubuh, karena terlalu letih. Dengan perbuatan seperti ini, sang pelaku minimal melakukan dua jenis dosa.

Pertama, dosa menzhalimi orang lain yaitu telah mengganggu orang lain. Dosa jenis ini tidak akan diampuni oleh Allah sampai orang yang terzhalimi memaafkannya.

Kedua, dosa kepada Allah, karena meninggalkan suatu yang diwajibkan, yakni shalat Shubuh berjamaah pada waktunya.

Ketiga, Introspeksi diri atas setiap amalan yang mubah dan suatu kebiasaan. Kenapa dia melakukannya? Apakah demi mencapai kesuksesan akhirat? Kalau ya, berarti dia telah beruntung. Ataukah demi kenikmatan dunia yang sesaat? kalau ini yang memotivasinya, maka alangkah ruginya.

Misalnya, makan dan minum kita. Apakah hanya sekedar untuk memuaskan nafsu? Ataukah supaya berbadan kekar lalu bangga dan sombong karenanya? Semua ini akan sirna bersama dengan datangnya ajal. Ataukah makan dan minum itu kita lakukan demi menjaga stamina tubuh kita agar bisa beribadah dengan kuat dan khusyu hanya kepada Allah.

Bersungguh-sungguh dalam muhasabah diri akan mendatangkan banyak sekali manfaat, dengan manfaat tersebut seseorang akan mendapatkan banyak faedah. Al Harits Al Muhaisiby berkata:

Barangsiapa yang bersungguh-sungguh (meluruskan) batinnya maka Allah akan mewariskan baiknya muamalah lahiriyah pada dirinya. Barangsiapa yang berusaha memperbaiki muamalah lahiriyahnya yang diiringi dengan usaha memperbaiki batinnya maka Allah akan mewariskan hidayah menuju jalan Nya. Karena AllahAzza wa Jallaberfirman,

Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam menempuh jalan Kami maka Kami akan memberikan petunjuk jalan lurus padanya. Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat kebajikan.(Q.S. Al-Ankabut 29: 69)

Artikel Asli