KH Hasyim Asy`ari Ulama Sekaligus Pejuang Terapkan 4 Strategi Jitu

okezone | Muslim | Published at 16/08/2021 11:00
KH Hasyim Asy`ari Ulama Sekaligus Pejuang Terapkan 4 Strategi  Jitu

KH Hasyim Asyari adalah salah satu ulama sekaligus pejuang yang dimiliki bangsa Indonesia. Saat genting menuju kemerdekaan Indonesia , KH Hasyim sangat intens memikirkan bangsa, termasuk menggembleng para mujahid Laskar Sabilillah dan Hizbullah.

Kiai Hasyim bahkan menghadapi sendiri kekejaman penjajah melalui penolakan tunduk atas mereka. Kiai dan ulama secara umum pada masa-masa itu, tidak bisa dipungkiri peran besarnya dalam perjuangan kemerdekaan. Bahkan Kiai dan santri berada dalam barisan depan melawan penjajah.

Bukan hanya untuk membela agama, tetapi juga membela tanah air, karena keduanya menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Itulah makna dari sikap Kiai Hasyim, bahwa negara dan agama adalah dua kutub atau dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, keduanya justru saling menguatkan.

Untuk itu, generasi muda bangsa ini harus mengetahui seberapa besar peran para kiai saat itu. Maka, mari mencoba merenungkan di momen HUT ke-76 RI ini betapa besar peran sosok Kiai Hasyim dan arti kehadiran beliau bagi bangsa ini.

Berikut ini 4 upaya yang dilakukanKH. Hasyim Asyari memperjuangkan Kemerdekaan RI

1. Menggembleng Hizbullah dan Sabilillah

Terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tak bisa dipisahkan dari peran para pejuang Muslim, atau lebih tepatnya kaum santri. Dalam masa 1943-1945, hampir semua pondok pesantren membentuk laskar-laskar dan barisan-barisan guna merengkuh kemerdekaan Tanah Air.

Dari sekian banyak laskar, Laskar Hizbullah dan Sabilillah merupakan yang paling tersohor kala itu. Laskar Hizbullah (Tentara Allah) didirikan menjelang akhir pemerintahan Jepang, tepatnya 8 Desember 1944. Laskar ini terdiri dari para pemuda Islam dan kaum santri dari seluruh daerah di Indonesia.

Awal mula didirikannya Laskar Hizbullah adalah untuk menjadi kekuatan cadangan dari pasukan PETA (Pembela Tanah Air). Sebab kala itu, Jepang, yang telah memberi restu pada tokoh-tokoh Muslim untuk membentuk kekuatan militer, sedang terdesak akibat berkonfrontasi dengan sekutu.

Melansir laman Tebuireng online pada Senin (16/8/2021) Kiai Hasyim Asyari yang saat itu menjadi pimpinan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) telah menjadi pioner utama penyemangat para pejuang kelaskaran. Bahkan beliau sendirilah yang memberikan wejangan dan penggemblengan kepada para pejuang laskar.

Setiap malam mereka digembleng di Pesantren Tebuireng dengan diberikan amalan-amalan, doa-doa, wirid-wirid, sampai ritual pemberangkatan yang sangat sakral. Bagi kaum pesantren barokah kiai macam Kiai Hasyim tentu merupakan motivasi yang besar.

Selain dilatih kemiliteran, Laskar Hizbullah juga dibekali pendidikan kerohanian oleh para kiai. Setelah mendapat pelatihan militer yang cukup, anggota Laskar Hizbullah kembali ke tempat masing-masing.

Di tempat mereka membentuk satuan militer. Tak kalah pula, para kiai-kiai pesantren pun membentuk satuan militer yang disebut Sabilillah. Mereka inilah yang berjuang mempertahankan kemerdekaan RI dari sekutu, termasuk pertempuran Surabaya pada 10 November 1945.

Sebelum dikirim ke medan pertempuran, para punggawa Laskar Hizbullah, khususnya di wilayah Jawa Timur, dididik langsung oleh Hadratussyaikh. Istilah yang dipakai adalah penggemblengan. Kiai Abu Bakar Diwek Jombang, dalam kesaksiannya soal penggemblengan itu, ada doa-doa khusus yang diberikan Kiai Hasyim, seperti wirid dan hizb.

Namun, sayangnya beliau enggan memberitahu kami bacaan itu. Dari tangan-tangan hangat Kiai Hasyim muncullah para pejuang hebat dan militan, di antaranya Kiai Munasir Mojokerto, Kiai Yusuf Hasyim (putra beliau), dan Kiai Ahyat Chalimi Mojokerto. Ketiganya adalah tiga serangkai pimpinan Laskar Hizbullah Jombang dan Mojokerto dalam pertempuran melawan sekutu di Surabaya dan sekitarnya.

Ada juga Kiai Hasyim Latief, paman Emha Ainun Najib, Kiai Nawawi Mojokerto, Kiai Masykur Malang, dan masih banyak lagi kiai-kiai muda saat itu yang menjadi komandan handal.

2. Mengeluarkan Fatwa Resolusi Jihad

Para pemimpin-pemimpin bangsa dan tokoh-tokoh militer, seperti Soekarno, Bung Tomo, dan Jenderal Soedirman meminta saran-saran kepada para kiai. Mereka datang untuk meminta pendapat, nasihat, bahkan fatwa tentang perjuangan melawan penjajah.

Sebelum keputusan soal Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945, Kiai Hasyim para 17 September 1945 beliau mengeluarkan fatwa jihad yang berisikan ijtihad bahwa perjuangan membela tanah air sebagai suatu jihad fi sabilillah. Fatwa ini merupakan bentuk jawaban dari pertanyaan Presiden Soekarno yang memohon fatwa hukum mempertahankan kemerdekaan bagi umat Islam.

Pada 21-22 Oktober 1945 PBNU menggelar rapat konsul NU se-Jawa dan Madura. Rapat digelar di Kantor Hofdsbestuur Nahdlatul Ulama di Jalan Bubutan VI No 2 Surabaya. Di tempat inilah setelah membahas situasi perjuangan dan membicarakan upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Di akhir pertemuan pada tanggal 22 Oktober 1945 PBNU akhirnya mengeluarkan sebuah Resolusi Jihad sekaligus menguatkan fatwa jihad Rais Akbar NU Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari.

Isinya adalah menyeru kepada bahwa wajib hukumannya berjuang mempertahankan NKRI. Yang gugur dalam medan perang dianggap sebagai syahid fi sabilillah.

Artikel Asli