Kisah Kiai Subchi Ulama Pejuang Memberikan Kekuatan pada Bambu Runcing

okezone | Muslim | Published at 16/08/2021 21:00
Kisah Kiai Subchi Ulama Pejuang Memberikan Kekuatan pada Bambu Runcing

KIAISubchi ulama sekaigus pejuang asal Parakan, Temanggung mempunyai jasa yang besar saat perang kemerdekaan Indonesia menghadapi penjajah Belanda. Pada zaman penjajahan dulu daerah Parakan terkenal dengan senjata bambu runcing , senjata yang digunakan pejuang rakyat saat itu.

Bambu runcing adalah sebuah tongkat dari bambu berwarna kuning yang bagian ujungnya dibuat runcing, sebagai senjata yang sederhana namun ampuh setelah diberi doa oleh para kyai untuk melawan penjajah Jepang sebelum kemerdekaan RI, di daerah Kabupaten Temanggung (Jawa Tengah) dan penjajahan Belanda setelah Kemerdekaan (1945 - 1948) di daerah Ambarawa dan wilayah lainnya.

Salah satu tokoh penggerak para pejuang pada masa itu adalah KH Subchi (nama aslinya Subuki) yang dijuluki Jenderal Bambu Runcing sedangkan tokoh-tokoh yang lain di antaranya Sahid Baidzowi, Ahmad Suwardi, Sumo Gunardo, Kyai Ali, H. Abdurrahman, Istachori Syam'ani Al-Khafidz dan masih banyak lagi yang lain.

Parakan juga merupakan tempat lahir tokoh perjuangan nasional Mohamad Roem, yang terkenal sebagai delegasi Indonesia dalam perundingan diplomasi Roem-Roijen.

Ulama pejuang yang berjasa dalam memberikan kekuatan pada bambu runcing ialah KH Subchi dari Parakan, Magelang, Jawa Tengah. Kiai Subchi menyepuh bambu runcing para pejuang dan laskar santri dari berbagai daerah, baik yang berasal dari Jawa Tengah maupun Jawa Timur.

Meski sudah berumur lanjut (90 tahun), gerakan Kiai Subchi disebut KH Saifuddin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren (2013: 349), masih sigap dan cekatan. Badannya tegap, besar dan tinggi. Pendengaran dan penglihatannya masih awas (jelas), bahkan gigi-giginya masih utuh dan kukuh.

Kisah penyepuhan bambu runcing yang dilakukan oleh Kiai Subchi ini dijelaskan oleh KH Saifuddin Zuhri dalam bukunya "Guruku Orang-Orang dari Pesantren".

Dijelaskan bahwa hampir bersamaan ketika terjadi perlawanan dahsyat dari laskar santri dan rakyat Indonesia di Surabaya pada 10 November 1945, rakyat Semarang mengadakan perlawanan yang sama ketika tentara sekutu juga mendarat di Ibu Kota Jawa Tengah.

Dari peperangan tersebut, lahirlah pertempuran di daerah Jatingaleh, Gombel, dan Ambarawa antara rakyat Indonesia melawan sekutu (Inggris). Pertempuran di Ambarawa pada Desember 1945 dikenal dengan nama Palagan Ambarawa.

Jenderal Sudirman berkunjung ke kediaman Kiai Subchi untuk meminta doa berkah dan bantuan. Jenderal Sudirman sering berperang dalam keadaan suci, untuk mengamalkan doa dari Kiai Subchi. Dari narasi ini, dapat diketahui bahwa Jenderal Sudirman merupakan santri Kiai Subchi.

Kabar pecahnya peperangan di sejumlah daerah tersebut juga tersiar ke daerah Parakan.

Dengan niat jihad fi sabilillah untuk memperoleh kemerdekaan, Laskar Hizbullah dan Sabilillah Parakan ikut bergabung bersama pasukan lain dari seluruh daerah Kedu.

Setelah berhasil bergabung dengan ribuan tentara lain, mereka berangkat ke medan pertempuran di Surabaya, Semarang dan Ambarawa. Namun sebelum berangkat, mereka terlebih dahulu mampir ke Kawedanan Parakan guna mengisi dan memperkuat diri oleh berbagai macam ilmu kekebalan dari Kiai Haji Subchi.

Artikel Asli