Sejarah Haji Pertama di Indonesia, Gunakan Kapal Laut hingga Makan Waktu Berbulan-bulan

okezone | Muslim | Published at 13/07/2021 13:23
Sejarah Haji Pertama di Indonesia, Gunakan Kapal Laut hingga Makan Waktu Berbulan-bulan

PERJALANAN ibadah haji 2021 atau beberapa tahun sebelumnya sudah lebih baik dengan menggunakan berbagai maskapai penerbangan. Waktu tempuhnya pun hitungan jam saja, tidak seperti tempo dulu menggunakan kapal laut dengan waktu tempuh hingga berbulan-bulan untuk sampai ke Tanah Suci, Arab Saudi

Nah jika menengok sejarah ibadah haji dari umat Islam Indonesia tentu tidak akan pernah luput dari perjalanan dahulu menggunakan kapal laut. Tercatat momen itu terjadi pada era 1960. Moda transportasi via jalur laut di masa tersebut memang menjadi favorit karena biayanya yang terjangkau.

Namun sebenarnya pada 1952 sudah ada layanan pemberangkatan jamaah ibadah haji menggunakan pesawat terbang. Tapi ternyata sepi peminat, akibat biayanya yang jauh lebih mahal. Umat pun memutuskan tidak mengapa menggunakan kapal laut, meskipun harus menguras energi dan durasi perjalanan yang mencapai 9 bulan pergi-pulang.

Lalu tahukan Anda, perusahaan pertama yang menyediakan pemberangkatan jamaah calon haji menggunakan kapal laut? Jawabannya adalah PT Arafat. Perusahaan di bidang pelayaran yang khusus melayani perjalanan haji (laut) ini dibentuk pada 1 Desember 1964. Pembentukan PT Arafat merupakan kelanjutan dari Keputusan Presiden Nomor 122 Tahun 1964 tentang Penyelenggaraan Urusan Haji.

Mengutip dari berbagai sumber, Sabtu (2/9/2017), seiring perjalanannya waktu, Ketua Dewan Urusan Haji (Duha) sekaligus Menteri Komparten Kesejahteraan Rakyat H Moeljadi Djojomartono pada 1964 menginstruksikan pendirian PT Arafat dengan bentuk saham umat. Perusahaan ini pun menjadi milik bersama yang sahamnya dimiliki 554.947 jamaah Tanah Air. Setiap jamaah membeli saham PT Arafat senilai Rp50 ribu.

PT Arafat diketahui memiliki lima kapal laut untuk memberangkatkan ribuan jamaah calon haji setiap tahunnya. Kelimanya adalah KM Gunung Djati, Tjut Njak Dhien, Pasific Abeto, Mei Abeto, dan Le Havre Abeto. Di atas kapal selama berbulan-bulan perjalanan laut itulah para jamaah melakukan aktivitas sehari-hari hingga manasik haji agar di Tanah Suci bisa beribadah secara mandiri.

Perusahaan swasta inisiasi pemerintah ini pun menjadi sangat tangguh dan berpengalaman dalam penyelenggaraan ibadah haji via laut. Hampir tidak ada kendala berarti yang dialami. Kemudian sistem penyelenggaraan haji oleh PT Arafat juga cukup menjanjikan. Jamaah dapat mudah mendaftarkan diri berhaji, hanya membayar uang muka Rp17.000. Sedangkan pelunasannya dapat diangsur sesuai waktu yang ditentukan.

Namun keperkasaan PT Arafat tidaklah absolut. Sejumlah masalah mereka alami, mulai adanya calo-calo haji di daerah, bencana yang menimpa kapal-kapalnya sampai memakan biaya besar, hingga pemerintah yang memutuskan mendorong perjalanan haji menggunakan moda transportasi pesawat terbang. Jamaah calon haji Tanah Air pun memutuskan lebih memilih berangkat haji via jalur udara karena sudah mudah dan efektif waktu.

Akibat sejumlah permasalahan tersebut, PT Arafat mengalami banyak kerugian materi maupun imaterial. Lalu ujungnya, ribuan jamaah calon haji gagal mereka berangkatkan. Bahkan, PT Arafat sempat terlilit utang mencapai Rp12,5 miliar yang sudah sangat sulit dicicil karena ketiadaan pendapatan lagi.

Puncaknya pada 1979, angkutan haji laut harus terhenti seiring dinyatakan pailitnya PT Arafat oleh Kementerian Perhubungan melalui Surat Keputusan Nomor SK-72/OT.001/Phb-79. Langkah ini ditetapkan karena kala itu PT Arafat sudah tidak dapat bersaing lagi dengan penyedia layanan berhaji menggunakan moda pesawat terbang.

Artikel Asli