Keutamaan Puasa Arafah Hapuskan Dosa 2 Tahun

okezone | Muslim | Published at 13/07/2021 08:42
Keutamaan Puasa Arafah Hapuskan Dosa 2 Tahun

KEUTAMAAN Puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjahdilaksanakan bagi kaum muslimin yang tidak melaksanakan ibadah haji. Puasa Arafah memiliki keutamaan yang semestinya tidak ditinggalkan seorang muslim pun.

Nah berikut penjelasan keutamaan puasa arafah.

Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu. (HR. Muslim no. 1162)

Imam Nawawi dalam Al Majmu (6: 428) berkata, Adapun hukum puasa Arafah menurut Imam Syafii dan ulama Syafiiyah: disunnahkan puasa Arafah bagi yang tidak berwukuf di Arafah. Adapun orang yang sedang berhaji dan saat itu berada di Arafah, menurut Imam Syafi secara ringkas dan ini juga menurut ulama Syafiiyah bahwa disunnahkan bagi mereka untuk tidak berpuasa karena adanya hadits dari Ummul Fadhl.

Ibnu Muflih dalam Al Furu -yang merupakan kitab Hanabilah- (3: 108) mengatakan, Disunnahkan melaksanakan puasa pada 10 hari pertama Dzulhijjah, lebih-lebih lagi puasa pada hari kesembilan, yaitu hari Arafah. Demikian disepakati oleh para ulama.

Adapun orang yang berhaji tidak disunnahkan untuk melaksanakan puasa Arafah.

Dari Ummul Fadhl binti Al Harits, bahwa orang-orang berbantahan di dekatnya pada hari Arafah tentang puasa Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Sebagian mereka mengatakan, Beliau berpuasa. Sebagian lainnya mengatakan, Beliau tidak berpuasa. Maka Ummul Fadhl mengirimkan semangkok susu kepada beliau, ketika beliau sedang berhenti di atas unta beliau, maka beliau meminumnya. (HR. Bukhari no. 1988 dan Muslim no. 1123).

Dari Maimunah radhiyallahu anha, ia berkata bahwa orang-orang saling berdebat apakah Nabi shallallahu alaihi wa sallam berpuasa pada hari Arafah. Lalu Maimunah mengirimkan pada beliau satu wadah (berisi susu) dan beliau dalam keadaan berdiri (wukuf), lantas beliau minum dan orang-orang pun menyaksikannya. (HR. Bukhari no. 1989 dan Muslim no. 1124).

Artikel Asli