Pakar Psikologi Forensik Bilang Penyerangan Polisi Termasuk Hate Crime

Kriminal | jawapos | Published at Jumat, 26 November 2021 - 09:52
Pakar Psikologi Forensik Bilang Penyerangan Polisi Termasuk Hate Crime

JawaPos.com Polisi dalam melaksanakan tugasnya menciptakan ketertiban dan kepastian hukum, rawan menjadi sasaran kekerasan. Sebab, pihak-pihak yang tidak tertib dan tidak taat hukum biasanya akan melawan ketika mereka menjadi sasaran kerja polisi tersebut.

Sebetulnya polisi memang rawan diserang. Karena secara normatif polisi bekerja dalam rangka menegakkan kepastian hukum, ujar pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel, Jumat (26/11).

Dengan kata lain, menurut dia, mereka yang melawan atau menyerang polisi sangat mungkin sebelumnya adalah pihak yang merusak ketertiban atau melakukan pelanggaran hukum. Penyerangan itu bisa makin tidak terkendali jika penyerang berada di bawah pengaruh miniman keras atau narkoba.

Dalam situasi semacam itu, diserang merupakan salah satu risiko tugas polisi yang bisa terjadi sewaktu-waktu, tutur Reza.

Pada sisi lain, lanjut Reza, untuk kepentingan pembenahan SDM, perlu dicari tahu apa saja gerangan kondisi sesaat sebelum terjadinya penyerangan terhadap polisi. Adakah tindak-tanduk atau pun tutur kata personel yang menyinggung pihak penyerang, tambah dia.

Selain itu, seberapa jauh sikap personel pada situasi tertentu. Alih-alih menenangkan, justru mengeskalasi kemungkinan benturan. Mungkinkah personel tidak sensitif dalam mengukur tingkat kekritisan yang sedang berlangsung di lapangan, lanjut Reza.

Misalnya, kata dia, dalam keadaan sesungguhnya yang sudah makin genting, tapi personel bersangkutan tetap menerapkan pola penanganan yang biasa-biasa saja. Hal tersebut menurut dia, berarti penyerangan terhadap polisi merupakan buah dari cara kerja yang keliru kalkulasi, tidak prosedural atau pun tidak humanis dari individu personel polisi itu sendiri.

Dia meminta kekerasan terhadap polisi tidak disikapi cuma dengan bingkai hitam putih. Melainkan lebih sebagai produk interaksi. Yakni interaksi antara personel polisi dan pihak yang sedang dihadapinya.

Jangan-jangan penganiayaan dilakukan karena si penyerang secara mendasar sudah punya sentimen negatif terhadap polisi, ucap Reza.

Dia menambahkan, terlepas apa pun situasinya, si penyerang sudah punya mindset pokoknya setiap polisi adalah tak ada baiknya. Polisi dalam pandangan penyerang adalah musuhnya, sehingga adalah sah-sah saja dilawan.

Penyerangan terhadap polisi, jika dilatari oleh sikap batin seperti itu, tergolong paling berat. Bahkan di beberapa negara, penyerangan dengan latar sedemikian rupa digolongkan sebagai hate crime dan itu sangat serius. Sekelas dengan hate crime terhadap, misalnya, orang berwajah Timur Tengah, berpenampilan religius, dan semacamnya, terang Reza.

Dari kondisi itu, menurut dia, bisa dipahami bahwa andai si penyerang polisi kelak dihukum, penilaian tentang bobot kekerasan terhadap polisi tidak sebatas ditentukan keparahan cedera yang personel polisi alami. Lebih esensial, penilaian ditentukan keadaan yang menyebabkan peristiwa penyerangan itu.

Situasional ataukah cara pandang radikal terhadap profesi dan jati diri polisi, ujar Reza.

Artikel Asli