3 Solusi Psikolog Soal Kasus Persetubuhan Anak Anggota DPRD Bekasi

Kriminal | jawapos | Published at Jumat, 28 Mei 2021 - 10:42
3 Solusi Psikolog Soal Kasus Persetubuhan Anak Anggota DPRD Bekasi

JawaPos.com – Psikolog Universitas Pancasila Jakarta, Aully Grashinta memandang kekerasaan seksual yang menimpa remaja berinisial PU, 15, dari AT, 21 akan berdampak besar untuk kehidupan korban. Namun, menikahkan keduanya dianggap tidak menjadi solusi yang baik atas peristiwa ini.

Aully berpandangan, setidaknya ada 3 solusi utama dalam kasus pemerkosaan. Pertama yakni penyembuhan psikologi terhadap korban. Kepercayaan diri korban harus dibangun ulang, supaya peristiwa ini tidak membuatnya depresi.

“Pertama adalah untuk mengembalikan perasaan-perasaan negatif dalam dirinya,” kata Aully saat dihubungi JawaPos.com , Jumat (28/5).

Kedua yakni penyembuhan dari aspek psikososial. Dalam hal ini, harus ada pemulihan agar korban bisa kembali hidup di tengah-tengah masyarakat secara normal. Sebab, korban pemerkosaan akan selalu merasa dirinya kotor, dan khawatir tidak akan diterima oleh lingkungan tempat tinggal.

“Walaupun dia itu korban tentu orang akan merasa dia tidak suci, stigma seperti ini harus dibantu dengan psikososial,” imbuh Aully.

Sedangkan aspek ketiga yakni korban harus mendapat keadilan atas kasus yang menimpanya. Pelaku harus diadili seadil-adilnya. Dengan begitu, psikologi korban bisa terbantu pemulihannya.

“Melihat kejadian-kejadian yang menyakitkan bisa diadili bisa dibalas akan membuat dia semakin percaya diri. Paling tidak akan meringankan beban dari dalam dirinya ketika dia merasa saat ini tidak nyaman, ketika keadilan ini ada akan membantu psikologis korban,” pungkas Aully.

Sebagai informasi, D, Ayah korban pemerkosaan anak Anggota DPRD Bekasi, menolak menikahkan anaknya, PU, 15, dengan tersangka. Dia menginginkan pelaku dihukum sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku di Indonesia.

D menolak keinginan pihak tersangka kasus pemerkosaan anak di bawah umur itu untuk menikahi putrinya yang masih remaja. Selaku warga negara yang baik dan taat hukum, ayah korban keberatan karena itu jelas melanggar undang-undang perkawinan.

D juga meragukan niat AT dan tidak ingin anaknya merasakan sakit jika hubungannya tidak bertahan lama. “Dari segi moral, anak saya sudah dirusak begitu biadabnya dia, kemudian akhlak dia dimana?. Apa mungkin kedepannya bisa langgeng (jika menikah),” tegasnya.

Artikel Asli