Loading...
Loading…
Diisukan Jadi Menteri Kesehatan, Ini Deretan Fakta Dokter Terawan

Diisukan Jadi Menteri Kesehatan, Ini Deretan Fakta Dokter Terawan

Kesehatan | inewsid | Selasa, 22 Oktober 2019 - 12:27

JAKARTA, iNews.id - Kepala RSPAD Gatot Soebroto Mayjen TNI dr Terawan Agus Putranto Sp Rad (K) baru saja memenuhi panggilan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) ke Istana Negara pada Selasa (22/10/2019). Terawan yang tampak mengenakan atasan kemeja berwarna putih tersebut, dirumorkan akan mengisi jabatan sebagai Menteri Kesehatan di Kabinet Kerja jilid II.

Walaupun demikian, belum ada keterangan resmi dari Terawan atas pemenuhan panggilan dari Presiden Jokowi. Pria yang memiliki profesi tentara, serta dokter tersebut memiliki riwayat karier yang panjang, termasuk di dunia medis. Salah satu karya dr Terawan yang kontroversial adalah metode digital substraction angiography (DSA) atau cuci otak.

Berikut deretan fakta seputar Dokter Terawan seperti dirangkum iNews.id , Selasa (22/10/2019).

Lahir di Yogyakarta

Terawan Agus Putranto adalah putra kelahiran Sitisewu di Yogyakarta, Jawa Tengah yang lahir pada 5 Agustus 1964. Lahir dan tinggal di Yogyakarta, Terawan menempuh pendidikan tingginya di salah satu universitas negeri paling bergengsi di sana, yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM).

Menempuh Pendidikan Kedokteran

Kuliah di UGM, Terawan menempuh pendidikannya di Fakultas Kedokteran (S1). Kemudian dia melanjutkan lagi ke Fakultas Kedokteran di Universitas Airlangga (Unair) untuk S2-nya. Terakhir dia menempuh pendidikan S3 di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar.

Dokter Adalah Cita-citanya

Salah satu alasan terbesar mengapa dirinya masuk ke Fakultas Kedokteran hingga mengambil gelar doktornya adalah sejak kecil, dia sudah bercita-cita menjadi seorang dokter. Dia berhasil menyandang gelar sarjana kedokteran pada 1990 dan mengabdikan diri di TNI Angkatan Darat.

Terkenal dengan Metode Penyembuhan yang Kontroversial

Terawan terkenal dengan metode penyembuhannya berupa cuci otak atau brain wash. Ini menciptakan kontroversi lantaran metode tersebut tidak dikenal dalam dunia kedokteran. Istilah medis, lebih mengenal sebagai digital substraction angiography (DSA).

Walaupun metode ini pernah dipertanyakan sejumlah kalangan hingga membuatnya diberhentikan sementara oleh Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), namun metode ini berhasil menyembuhkan penderita stroke ringan ataupun berat.

Original Source

Topik Menarik