Obat dan Alkes Masih Impor, Inovasi Dalam Negeri Dorong Kemandirian

Kesehatan | jawapos | Published at Minggu, 14 November 2021 - 13:13
Obat dan Alkes Masih Impor, Inovasi Dalam Negeri Dorong Kemandirian

JawaPos.com Indonesia masih menghadapi tantangan dalam pemenuhan stok obat dan alat kesehatan (alkes). Bahan baku obat dan alkes dalam negeri rata-rata masih impor. Para ahli dan praktisi kesehatan tanah air dirodorong untuk terus berinovasi.

Dalam ajang Indonesia Healthcare Innovation Awards V-2021, inovasi di bidang kesehatan dipertandingkan dalam kompetisi dan sudah memasuki babak final 10 besar. Selanjutnya akan dilakukan proses penilaian untuk menetapkan peraih Platinum award, Gold award & Silver award.

Kami berusaha untuk terus mendukung dan berkontribusi terhadap pembangunan kesehatan Indonesia untuk mewujudkan bangsa yang maju, mandiri serta sejahtera lahir dan batin, ungkap Ketua Umum IndoHCF, Dokter Spesialis Paru Dr. dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS secara virtual baru-baru ini.

Menurut dr. Supriyantoro, situasi pandemi Covid-19 yang telah melanda di Indonesia, tidak membuat inovasi-inovasi kesehatan mengendur. Sebaliknya, pandemi Covid-19 mampu menjadi katalis atau faktor yang mempercepat lahirnya berbagai inovasi dan teknologi kesehatan.

Ini menjadi titik tolok bagi inovator-inovator Indonesia untuk membangun industri alat kesehatan dan obat yang selama ini masih banyak bergantung pada impor. Sehingga kita bisa mewujudkan kemandirian dalam hal sarana, prasarana, serta infrastruktur kesehatan yang kuat, katanya.

Ada lima kategori inovasi yang diusung. Yaitu Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT), Mutu Pelayanan Kesehatan (MPK), Alat Kesehatan (ALKES) dan Teknologi Informasi Kesehatan (TIK). Sementara itu, masyarakat umum bisa berpartisipasi dalam pemilihan juara favorit.

Terpisah, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Herbuwono mendorong pengembangan fitofarmaka menjadi fokus utama dalam mengatasi impor obat. Menurutnya pengembangan fitofarmaka juga sejalan dengan transformasi sistem kesehatan nasional.

Ini akan menjamin keamanan kita dalam melakukan transformasi kesehatan di masa depan, kata Dante pada webinar Forum Nasional Kemandirian Farmasi dan Alat Kesehatan dalam rangka menyambut Hari Kesehatan Nasional, baru-baru ini.

Fitofarmaka merupakan obat dari bahan alami yang telah melalui proses uji klinis sehingga memiliki khasiat setara dengan obat. Dante kemudian menyebut beberapa fitofarmaka yang telah dikembangkan dan diproduksi di Indonesia yakni untuk immunomodulator, obat tukak lambung, antidiabetes, antihipertensi, obat untuk melancarkan sirkulasi darah, dan obat untuk meningkatkan kadar albumin.

Selain itu ada pula fitofarmaka yang akan dikembangkan yakni obat pelancar ASI, antihiperlipidemia-kolesterol, hepatoprotektor, pengobatan nyeri sendi, diare, peningkatan fungsi kognitif, percepatan penyembuhan luka, mengurangi nyeri haid, serta obat untuk meredakan gejala batuk dan pilek.

Prosesnya tentu tidak sederhana, butuh proses analisis, proses penelitian dan ini akan melibatkan berbagai macam sektor untuk bekerja sama secara sinergis. Baik dengan peneliti, industri, perguruan tinggi, dan Kemenkes, ujar Dante.

Artikel Asli