Kanker Payudara Serang Generasi Muda, Upaya Preventif Harus Masif

jawapos | Kesehatan | Published at Kamis, 14 Oktober 2021 - 13:59
Kanker Payudara Serang Generasi Muda, Upaya Preventif Harus Masif

JawaPos.com Ancaman kanker payudara mulai menghampiri kalangan usia muda dan generasi Z. Sistem kesehatan nasional harus memiliki cetak biru yang jelas untuk menekan angka kematian akibat kanker.

Pihak civil society , government , dan kalangan bisnis harus berkolaborasi dengan baik dalam mengupayakan tercapainya tingkat kesehatan masyarakat yang lebih baik, kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat saat membuka diskusi daring bertema Edukasi Pita Merah Pink: Remaja Z dan Perempuan Milenial dalam rangka Bulan Kanker Payudara yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (13/10).

Menurut Rerie, sapaan akrabnya, pemerintah harus memberi perhatian khusus dan ruang lebih luas dalam kebijakan anggaran agar upaya-upaya pencegahan kanker bisa dilakukan secara masif. Ia berharap kesadaran terhadap ancaman kanker payudara pada kalangan perempuan usia muda bisa terus ditingkatkan lewat edukasi secara menyeluruh terhadap masyarakat.

Berbagai upaya dalam bentuk penyuluhan dan deteksi dini kanker payudara harus bisa disosialisasikan dan dipahami secara luas oleh masyarakat, ujarnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia, Linda Agum Gumelar sependapat bila tingginya ancaman kanker payudara harus diatasi sejak di hulu. Sehingga upaya-upaya preventif harus dilakukan untuk mencegah kanker payudara sejak dini.

Diakui Linda, terjadi hambatan informasi terkait proses pemahaman masyarakat di Indonesia tentang upaya-upaya preventif seperti Sadari dan Sadanu, yang disebabkan kendala geografis.

Karena itu, berbagai upaya untuk mengatasi hambatan tersebut harus segera dilakukan agar upaya preventif dapat dilakukan secara masif, kata Linda.

Di momen yang sama, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam berpendapat bahwa problem yang tengah dihadapi saat ini adalah bertebarannya berita-berita hoax tentang kesehatan, termasuk tentang kanker payudara di masyarakat.

Akibatnya banyak pasien kanker terlambat mendapat pengobatan secara medis. Padahal keterlambatan pasien kanker dalam menerima pengobatan berdampak buruk dari sisi kesehatan dan finansial, katanya.

Ari menyarankan, untuk mengatasi serbuan berita hoax, edukasi terhadap masyarakat dan kalangan muda harus dilakukan secara lebih luas dengan memanfaatkan media sosial.

Tenaga kesehatan dan institusi kesehatan, ujar Ari, diharapkan juga memanfaatkan media sosial untuk berpartisipasi dalam mengedukasi masyarakat lewat menyebarkan informasi kesehatan yang benar dan mudah dipahami.

Pekerjaan rumah bagi kita adalah bagaimana masyarakat mampu memilah antara berita-berita yang benar dan hoax. Karena berdasarkan survei Masyarakat Telekomunikasi pada 2017, 41,2% berita hoax terkait tentang informasi kesehatan, ujar Ari.

Artikel Asli