Kelas-Kelas Mandiri Bantu Lebih Peduli

jawapos | Kesehatan | Published at Minggu, 10 Oktober 2021 - 16:37
Kelas-Kelas Mandiri Bantu Lebih Peduli

INISIATIF untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental kian menjamur. Berbagai kelas meditasi dan stress release dibuka untuk umum. Pandemi Covid-19 yang memaksa publik lebih melek digital juga membuat kelas-kelas semacam itu hadir secara daring. Mereka yang tertarik bergabung bisa ikut secara mandiri dengan mendaftarkan diri.

Bentara Bumi, junior facilitator Rumah Remedi, mengakrabi meditasi sejak 2013. Pernah merasa terpuruk dan mampu bangkit kembali dengan bantuan meditasi, dia kini menularkan metode itu untuk membantu banyak orang yang merasa kepayahan dengan kondisi mental mereka.

Pada era pandemi, kelas meditasi melepas stres yang Bumi ampu secara daring itu menjangkau lebih banyak peserta. Jauh lebih banyak dari kelas reguler alias tatap muka yang maksimal hanya 25 orang. Namun, mereka yang datang (pada kelas reguler, Red) cenderung membawa masalah yang spesifik, ungkapnya kepada Jawa Pos Jumat (8/10). Sebaliknya, mereka yang bergabung pada kelas daring biasanya adalah yang burned-out atau dilanda cemas.

Kelas yang Bumi pandu tiap Selasa malam itu diawali dengan sesi berbagi alias sharing. Peserta yang berasal dari dalam dan luar ibu kota bisa bercerita dengan bebas tentang beban mental yang mereka tanggung. Tidak perlu khawatir. Semua yang dibagikan dalam kelas tersebut bersifat rahasia. Sesi berbagi kemudian dilanjutkan dengan sesi meditasi dengan teknik Sedona untuk melepaskan tekanan mental.

Founder Remedi Indonesia Ferry Fibriandani mengatakan bahwa Rumah Remedi punya misi memberdayakan masyarakat, mempromosikan kesehatan mental, dan mengayomi lingkungan dengan cinta dan kasih. Memberikan layanan well-being. Keselarasan hidup, kesehatan, kebahagiaan, kesejahteraan, kebijaksanaan, dan hidup yang berarti, ungkapnya.

Sementara itu, Elizabeth Novarina memperkenalkan mindfulness writing sebagai metode untuk melepas stres. Kita menyadari bahwa sedang mencoba mengalami kejadian itu kembali. Kita gunakan pancaindra dan pikiran untuk kembali menghidupkannya, ungkap perempuan yang akrab disapa Elnov itu.

Dengan menghadirkan kembali masalah yang membebani mental, Elnov mengajak peserta kelasnya membereskan beban tersebut. Menuliskan peristiwa itu menjadi cara yang dipilih untuk memoles masalah dengan pikiran positif. Output-nya adalah bisa melihat masalah dan menyikapinya dengan lebih bijaksana, ucapnya.

Karena metode menulis alias journaling itu hanyalah sarana menuju pelepasan stres, dia selalu menekankan kepada peserta kelasnya untuk tidak perlu malu dengan kemampuan menulis mereka. (lyn/c6/hep)

Artikel Asli