Loading...
Loading…
Akses Kontrasepsi Terbatas Saat Pandemi Picu Kehamilan Tak Terencana

Akses Kontrasepsi Terbatas Saat Pandemi Picu Kehamilan Tak Terencana

Kesehatan | jawapos | Jumat, 24 September 2021 - 15:20

JawaPos.com Selama pandemi Covid-19, sejumlah pasangan suami istri lebih banyak berada di rumah. Dalam rangka Hari Kontrasepsi Sedunia, terungkap sebuah survei bahwa banyak perempuan melaporkan kehamilan tak terencana.

Dalam diskusi bersama Bayer dengan tema No Woman Left Behind : Covid-19 dan Kehamilan Tidak Direncanakan , disorotidampak mendesak Covid-19 terhadap akses perempuan ke layanan kesehatan dan sumber daya keluarga berencana. Selain itu, juga beban kehamilan yang tidak direncanakan saat ini.

Data dari International Planned Parenthood menyatakan bahwa 5.633 klinik statis dan bergerak, serta layanan perawatan berbasis komunitas di 64 negara telah ditutup pada April 2020 karena wabah tersebut.

Kami telah mengamati tiga poin keterlambatan utama yang semakin diperparah oleh wabah. Ini menyebabkan peningkatan kehamilan yang tidak direncanakan, kata Direktur Program dan Kinerja, East South East Asia and Oceania Region (ESEAOR), Malaysia, International Planned Parenthood Federation Jameel Zamir, secara daring , Jumat (24/9).

Hal itu memicu keterlambatan perempuan dalam mendapatkan informasi keluarga berencana, keterlambatan perempuan untuk dapat mengakses fasilitas medis secara fisik, dokter dan obat-obatan karena pembatasan gerakan.

Di lapangan, saya telah melihat masalah rantai pasokan, fasilitas kesehatan yang kewalahan, dan perempuan takut mencari perawatan kesehatan, dan ketika akses ke keluarga berencana terganggu, seluruh keluarga berjuang untuk mengatasinya, ujarnya.

Saat ini, banyak perempuan di Filipina yang memanfaatkan fasilitas daring, dan saya telah melihat perubahan sikap dan permintaan untuk lebih banyak dokter dengan jasa daring, tambah Obgyn & Digital Thought Leader, President of Quezon City Medical Society District IV (Filipina), Michelle Dado dalam acara yang sama.

Pendidikan adalah satu-satunya cara untuk mendorong profesional kesehatan menjadi lebih paham secara digital, dan menerjemahkan apa yang mereka lakukan dalam konsultasi tatap muka ke platform daring. Ini akan membantu memutus siklus informasi yang salah secara daring yang berikutnya
dapat menyebabkan banyak perempuan muda membuat pilihan kontrasepsi berdasarkan informasi yang salah, katanya.

Sementara, Ketua Umum Ikatan Bidan Indonesia Emi Nurjasmi mengatakan, bidan harus memberdayakan perempuan sebelum dan sesudah melahirkan. Mereka juga memberi masukan dan pilihan penting sebelum bayi lahir dan pentingnya layanan kontrasepsi setelah bayi lahir (kontrasepsi pascamelahirkan).

Menjaga kesehatan perempuan dan menjaga kemajuan yang dicapai dalam akses kontrasepsi tetap menjadi prioritas utama kami di tengah Covid-19, kata Emi.

Original Source