Kabar Baik, Covid-19 Tak Terbukti Merusak Otak Berkepanjangan

jawapos | Kesehatan | Published at 09/09/2021 12:46
Kabar Baik, Covid-19 Tak Terbukti Merusak Otak Berkepanjangan

JawaPos.com Covid-19 tak hanya merusak organ paru-paru, tetapi bisa menyebabkan kerusakan organ lainnya. Dalam beberapa penelitian sebelumnya, Covid-19 disebut bisa merusak salah satu organ yakni otak. Tapi, hal tersebut kini tak perlu dikhawatirkan.

Sebab, dalam penelitian terbaru telah mengidentifikasi bahwa kerusakan otak terminal jarang terjadi di antara orang yang telah terinfeksi Covid-19, bahkan jika mereka mengalami gejala neurologis yang parah. Jikapun terjadi gangguan kognitif maka itu akan kembali pulih seperti dilansir dari diabetes.co.uk , Kamis (9/9).

Studi ini membantah studi sebelumnya bahwa individu yang dirawat telah menunjukkan tanda-tanda cedera otak, dengan biomarker berbasis darah sering muncul. Dalam studi sebelumnya disebutkan setelah terinfeksi, orang dapat mengalami gejala neurologis selama berbulan-bulan, termasuk kelelahan ekstrem, lesu, dan penurunan kognitif.

Namun penelitian terbaru menyebutkan, para ahli melihat bahwa kerusakan otak yang berlangsung lama tidak mungkin terjadi. Akademisi Profesor Magnus Gissln mengatakan komplikasi neurologis umum memang bisa terjadi pada Covid-19 namun bisa kembali pulih.

Sangat meyakinkan bahwa peningkatan konsentrasi cedera otak bida kembali normal 3-6 bulan setelah fase akut Covid-19. Ini menunjukkan bahwa tidak ada kerusakan otak berkelanjutan dan ada peluang bagus untuk pemulihan juga pada pasien, kata peneliti.

Peneliti Swedia dari Rumah Sakit Universitas di Gothenburg mempelajari darah 100 orang yang tertular Covid-19 untuk menilai lintasan longitudinal biomarker plasma. Peserta dibagi menjadi satu dari tiga kelompok, dengan masing-masing kelompok mewakili tingkat keparahan Covid-19 yang berbeda.

Tiga bulan kemudian, tes darah mengungkapkan bahwa individu yang dirawat di unit perawatan intensif memiliki lebih banyak protein rantai ringan neurofilamen dan protein asam fibrilar glial, keduanya menunjukkan cedera neurologis. Namun biomarker ini kembali normal dengan pemeriksaan lanjutan.

Menurut temuan, setengah dari peserta di ketiga kelompok mengalami gejala cedera otak, termasuk kelelahan, kebingungan otak atau penurunan kognitif. Ilmuwan utama studi tersebut, dr Nelly Kanberg mengatakan penelitian ini sangat penting dari sudut pandang ilmiah dan kesehatan masyarakat dalam mencari perawatan yang lebih baik.
Analisis penelitian lengkap sudah diterbitkan di jurnal biomedis EBioMedicine.

Artikel Asli