Korban Pandemi, Ribuan Anak Kehilangan Orang Tua

Infografis | katadata.co.id | Published at Sabtu, 04 September 2021 - 08:00
Korban Pandemi, Ribuan Anak Kehilangan Orang Tua

Anak-anak tak hanya berpotensi tertular Covid-19, namun juga kehilangan orang tua yang meninggal akibat terinfeksi virus tersebut. Berdasarkan studi oleh Susan D Hillis dan koleganya yang dipublikasikan di jurnal medis The Lancet , lebih dari 1,5 juta anak diperkirakan kehilangan wali utama (orang tua atau kakek dan nenek) karena corona di seluruh dunia.

Meski persoalan ini dihadapi oleh masyarakat di hampir seluruh belahan dunia, terdapat beberapa negara yang terdampak paling parah seperti Meksiko, Brasil, India, Amerika Serikat, dan Peru. Hingga Juli 2021, jumlah anak yang kehilangan wali utama akibat Covid-19 di Meksiko sebesar 141.132 anak (3 dari 1.000 anak). Jumlah tersebut lebih tinggi 7,6% dibandingkan dengan Brasil di posisi kedua sebesar 130.363 anak (2 dari 1.000 anak). (Baca: Potensi Masalah di Balik Rencana Atta Halilintar Punya 15 Anak)

India menjadi negara di Asia yang paling terdampak permasalahan anak kehilangan wali utama. Jumlah anak yang kehilangan wali utama di India sebesar 119.170 anak (0,3 dari 1.000 anak). Kemudian, Amerika Serikat sebanyak 113.708 anak (1 dari 1.000 anak) dan Peru sebanyak 98.975 anak (10 dari 1.000 anak). Akibat kejadian ini, beberapa negara telah melaporkan terjadi peningkatan penghuni panti asuhan sebanyak dua kali lipat.

Sementara di Indonesia, berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19, per 20 Juli 2021 diketahui terdapat 11.045 anak Indonesia menjadi yatim, piatu, atau yatim piatu. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bahkan memprediksi terdapat lebih dari 40.000 anak dan Kawal Covid-19 mengestimasi lebih dari 50.000 anak. (Baca: Gizi Anak Indonesia Berpotensi Memburuk saat Pandemi Covid-19)

Hilangnya wali utama yakni orang tua atau kakek dan nenek membuat masa depan anak-anak terancam. Tanpa kehadiran wali, anak-anak akan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan secara mandiri.(Baca: Risiko-risiko Masa Depan Pelajar Indonesia Pasca-Pandemi)

Tidak hanya itu, mereka juga terancam kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan yang sedang dienyam. Perkembangan mental anak-anak pun dapat terganggu karena kehilangan sosok yang senantiasa memberikan mereka perhatian dan kasih sayang. Selain itu, anak-anak menjadi rentan terhadap perkawinan anak, perdagangan anak, serta tindakan kekerasan dan kejahatan dari luar.

Artikel Asli