Trump Tetap Lanjutkan Perang Iran meski Kongres AS Dikuasai Partai Demokrat

Trump Tetap Lanjutkan Perang Iran meski Kongres AS Dikuasai Partai Demokrat

Terkini | inews | Kamis, 5 November 2026 - 07:55
share

WASHINGTON, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan tidak akan menghentikan perang melawan Iran meski Partai Republik kehilangan kendali atas Kongres AS dalam pemilu paruh waktu. Trump akan melanjutkan operasi militer terhadap Iran karena merasa harus dilakukan untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir.

Trump mengakui perang Iran ikut menyebabkan kekalahan Partai Republik dalam pemilu yang digelar Selasa (3/11/2026). Konflik selama 8 bulan tersebut memicu kenaikan harga bensin dan biaya hidup, sehingga memengaruhi pilihan politik masyarakat AS.

Namun, pengakuan itu tidak membuat Trump mengubah sikapnya. Dia menilai keputusan menyerang Iran tetap tepat dan sepadan dengan konsekuensi politik maupun ekonomi yang harus ditanggung pemerintahannya.

"Menurut saya, itu sebagian besar benar karena memang menyebabkan harga bensin naik," ujar Trump, seperti dikutip dari Anadolu, Kamis (5/11/2026).

Meski demikian, dia menegaskan tidak akan mengambil keputusan berbeda jika harus mengulang kebijakan tersebut.

"Di sisi lain, jika harus mengulanginya, saya akan tetap melakukan hal yang sama karena, dalam jangka panjang, itulah satu-satunya solusi. Kita tidak boleh membiarkan Iran memiliki senjata nuklir," ujarnya.

Trump blak-blakan memastikan operasi militer masih berlanjut meski hasil pemilu telah mengubah peta kekuatan politik di Kongres AS. Banyak politisi Partai Demokrat di DPR maupun Senat yang tak menghendaki perang berkepanjangan.

"Terkait Iran, langkah itu harus kami ambil, dan kami terus melanjutkannya," ujarnya.

JD Vance Salahkan Perang Iran atas Kekalahan Republik

Sikap Trump tersebut berseberangan dengan pernyataan Wakil Presiden JD Vance yang secara terbuka menyalahkan perang Iran sebagai penyebab kekalahan Partai Republik.

Vance menilai kemarahan pemilih terhadap konflik tersebut membuat sebagian pendukung Trump beralih memberikan suara kepada Partai Demokrat.

"Penyebab kekalahan kita adalah perang tersebut," tulis Vance, di akun media sosial X.

Trump merespons unggahan panjang Vance dengan satu kata, yakni "bagus". Namun, dia tetap tidak sependapat jika perang Iran harus dihentikan.

Trump juga mengeklaim Partai Republik sebenarnya bisa memperoleh hasil lebih baik apabila namanya ikut tercantum dalam surat suara. Menurut dia, dukungan besar yang dimilikinya tidak sepenuhnya berhasil dialihkan kepada para kandidat Partai Republik.

Trump Punya Kewenangan Melanjutkan Perang

Meski kehilangan dukungan mayoritas di Kongres, Trump masih memiliki kewenangan eksekutif sebagai presiden untuk menjalankan kebijakan luar negeri dan operasi militer.

Selain itu, presiden AS memiliki hak veto terhadap rancangan undang-undang (RUU) yang disahkan Kongres. Untuk melawan veto tersebut, DPR dan Senat harus memperoleh dukungan dua pertiga suara di masing-masing kamar.

Namun, kendali Demokrat atas Kongres tetap menjadi hambatan politik bagi Trump. Partai oposisi dapat menggunakan kewenangan pengawasan parlemen, memanggil pejabat pemerintahan untuk memberikan kesaksian, serta mempersulit persetujuan anggaran dan pendanaan operasi militer.

Kemenangan Demokrat di kedua kamar Kongres berpotensi memicu kebuntuan politik selama dua tahun terakhir masa jabatan Trump. Perselisihan mengenai anggaran pemerintah dan batas utang AS juga berpotensi menjadi persoalan besar.

Sementara itu, hasil pemilu tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai kelanjutan perang Iran. Sejumlah negara Teluk menilai kekalahan Partai Republik dapat meningkatkan dorongan bagi Trump untuk mencari kesepakatan damai dengan Teheran.

Meski demikian, Trump justru menyampaikan pesan berbeda. Dia menegaskan tidak akan mengubah kebijakan militernya dan tetap melanjutkan perang meskipun keputusan tersebut telah berkontribusi terhadap kekalahan partainya dalam pemilu.

Kekalahan Partai Republik dalam pemilu paruh waktu mengakhiri kendali partai tersebut atas dua kamar Kongres AS, yakni DPR dan Senat.

Partai Demokrat berhasil merebut sedikitnya tujuh kursi Senat dari Partai Republik, termasuk di Kansas, Iowa, Texas, Ohio, Maine, North Carolina, dan South Carolina.

Di DPR, Demokrat juga merebut 25 daerah pemilihan. Sejumlah kemenangan bahkan diraih di wilayah yang sebelumnya dimenangkan Trump dengan selisih suara besar pada pemilu presiden 2024.

Demokrat memperoleh mayoritas setidaknya 54-44 di Senat dan menambah sedikitnya 25 kursi di DPR. Hasil tersebut menjadi perubahan besar karena Trump untuk pertama kalinya dalam masa jabatan keduanya harus menghadapi Kongres yang dikuasai oposisi.

Topik Menarik