China Tegaskan Dukung Palestina, Desak Israel Setop Caplok Tepi Barat
BAKU, iNews.id - Menteri Luar Negeri China Wang Yi mendesak Israel menghentikan pembentukan paksa permukiman di Tepi Barat dan membatalkan tindakan tersebut. Wang juga menegaskan persoalan Palestina merupakan salah satu bentuk ketidakadilan sejarah terbesar pada abad ini.
Pernyataan tersebut disampaikan Wang saat bertemu Presiden Israel Isaac Herzog di sela-sela konferensi di Azerbaijan pada Kamis (15/10/2026) waktu setempat. Informasi itu disampaikan melalui pernyataan kantor Wang, sebagaimana dilansir BBC.
Dalam pertemuan tersebut, Wang menegaskan dukungan Beijing terhadap perjuangan Palestina. China juga tetap berpegang pada solusi dua negara sebagai jalan untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina.
Beijing selama ini berupaya memosisikan diri sebagai mediator dalam berbagai konflik di Timur Tengah. Pada 2023, China menengahi kesepakatan pemulihan hubungan diplomatik antara Iran dan Arab Saudi setelah kedua negara bertahun-tahun berselisih.
Awal 2026, China bersama Pakistan juga terlibat dalam upaya mengusulkan gencatan senjata dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Sementara itu, upaya Beijing dalam menangani konflik Gaza turut berfokus pada persatuan faksi-faksi Palestina. Pada 2024, China mendorong sejumlah faksi Palestina yang bersaing untuk menyepakati pembentukan pemerintahan rekonsiliasi nasional sementara bagi Tepi Barat dan Gaza setelah perang berakhir. Namun, kesepakatan tersebut pada akhirnya tidak diimplementasikan.
Dalam perkembangan terbaru, Wang menekankan prioritas mendesak saat ini adalah membuka akses penuh ke Gaza dan menghentikan bencana kemanusiaan yang terus berlangsung.
Dia menyatakan China bersedia bekerja sama dengan komunitas internasional untuk mendorong pihak-pihak yang bertikai kembali berdialog dan mencari solusi politik atas konflik tersebut.
Di sisi lain, Herzog menyampaikan tanggapannya melalui unggahan di platform X. Dia mengaku senang dapat bertemu Wang dan menyebut pembicaraan mereka berfokus pada hubungan bilateral serta situasi di Timur Tengah.
"Saya menekankan keinginan Israel untuk mewujudkan perdamaian di kawasan ini, di tengah ancaman strategis terhadap keamanan kami—terutama yang berasal dari Iran beserta kelompok-kelompok proksi terorisnya," tulis Herzog.
China diketahui menjalin hubungan erat dengan Iran dan menjadi pembeli terbesar minyak negara tersebut. Minyak Iran sebelumnya terkena sanksi Amerika Serikat terkait program nuklir Teheran.
Situasi Gaza Masih Memburuk
Satu tahun setelah gencatan senjata diberlakukan pada Oktober 2025, warga Gaza masih menghadapi ancaman serangan, pengungsian, dan persoalan ketahanan pangan.
Meski pengeboman berskala besar telah berakhir, Israel dilaporkan masih melancarkan serangan di Gaza hampir setiap hari. Lebih dari 1.400 warga Palestina disebut tewas akibat serangan Israel selama satu tahun sejak gencatan senjata dimulai.
Gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat tersebut merupakan fase pertama dari kesepakatan untuk mengakhiri perang di Gaza. Konflik itu dipicu serangan mematikan yang dipimpin Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.
Namun, pelaksanaan fase berikutnya dari kesepakatan tersebut masih terhenti. Israel dan Hamas saling menuduh pihak lawan melanggar ketentuan perjanjian yang telah disepakati.










