Pasokan BBM di Waingapu Sumba Timur Terbatas, Antrean Kendaraan Meluber ke Jalan
SUMBA TIMUR, iNews.id - Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), semakin parah dalam tiga hari terakhir. Kondisi ini terjadi di tengah terbatasnya pasokan bahan bakar minyak (BBM) yang membuat warga harus mengantre lebih lama untuk mendapatkan Pertalite dan solar bersubsidi.
Antrean sepeda motor hingga mobil mengular keluar dari area SPBU dan meluber ke jalan raya. Situasi tersebut tidak hanya mengganggu kelancaran lalu lintas, tetapi juga menyulitkan warga yang hendak membeli BBM nonsubsidi.
Sejumlah sepeda motor dengan tangki berkapasitas besar terlihat mendominasi antrean. Kendaraan tersebut diduga digunakan pengecer untuk membeli BBM yang kemudian dijual kembali. Namun, para pengecer menolak jika dianggap sebagai penyebab utama kelangkaan BBM yang terjadi di Waingapu.
Salah seorang pengecer Pertalite, Yeni Mira mengaku ikut merasakan sulitnya mendapatkan BBM setelah harus menunggu lama dalam antrean.
"Tolong sebagai pemangku jabatan lihat kami, kenapa ini?" kata Yeni di lokasi.
Bawa Kasus Febrie Adriansyah ke Penuntutan, Kejagung Dinilai Serius Bersih-bersih Internal
Pihak SPBU juga mengakui adanya keterbatasan pasokan. Admin dan pengawas SPBU Kambaniru, Ira dan Meki menyebut pengiriman BBM dari depo Pertamina Waingapu mengalami pengurangan dalam beberapa hari terakhir.
Jika biasanya setiap jenis BBM mendapat pasokan hingga 16 kiloliter per hari, kini jumlahnya hanya sekitar delapan kiloliter. Pengurangan pasokan tersebut berdampak pada ketersediaan BBM dan memicu antrean panjang di SPBU.
"Ini menjadi 8.000 liter setiap harinya yang biasanya 16.000 liter," ujar operator SPBU Kambaniru, Meki.
Di tengah kondisi tersebut, harga BBM di tingkat pengecer juga cukup tinggi. Pertalite dijual Rp20.000 per botol bekas air mineral berkapasitas 1,5 liter. Sementara itu, solar bersubsidi dijual Rp65.000 hingga Rp75.000 per jeriken berisi lima liter.










