Serangan Bom Rusia Hantam Bus Penuh Penumpang di Ukraina, 30 Orang Tewas
KYIV, iNews.id - Sebanyak 30 orang tewas setelah bom kendali Rusia meledak dekat bus yang dipenuhi penumpang di Kramatorsk, wilayah Donetsk, Ukraina, pada Kamis (8/10/2026) waktu setempat. Serangan tersebut juga menyebabkan layanan transportasi umum di wilayah itu dihentikan sementara.
Dikutip dari Associated Press (AP), serangan terjadi pada pagi hari di dekat halte bus di kota yang berada di garis depan perang tersebut. Kepala Administrasi Militer Kota Kramatorsk, Oleksandr Honcharenko, menuding Rusia sengaja menargetkan warga sipil.
"Tidak diragukan lagi bahwa Rusia secara sinis menargetkan warga sipil," ujar Honcharenko.
Dia menambahkan, upaya penyelamatan korban sempat terhambat akibat serangan lanjutan Rusia menggunakan pesawat nirawak (drone) kecil.
Serangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya intensitas serangan udara Rusia terhadap berbagai wilayah Ukraina. Kedua negara masih terlibat perang udara jarak jauh, sementara pergerakan pasukan darat di sebagian besar garis depan relatif mengalami kebuntuan.
Iran Klaim Hancurkan Pangkalan Militer AS di Yordania, Tempat Parkir Jet Tempur F-35 dan F-16
Lebih dari 4,5 tahun sejak invasi skala penuh Rusia, Moskow meningkatkan serangan udara dalam beberapa pekan terakhir. Serangan tersebut menambah tekanan bagi Ukraina yang bersiap menghadapi musim dingin dan berupaya mempertahankan infrastruktur penting di tengah perang.
Sejumlah sasaran serangan Rusia belakangan ini mencakup sistem energi, industri utama, jalur kereta api, kantor pos, pusat perbelanjaan, jaringan telekomunikasi, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), hingga fasilitas ekspor biji-bijian.
Serangan di Kramatorsk juga terjadi sehari setelah serangan rudal Rusia menghantam sebuah bangunan tempat tinggal di Pryluky, Ukraina utara, pada Rabu (7/10/2026). Sebanyak 22 orang tewas dalam serangan tersebut, termasuk lima anak-anak.
Selain korban tewas, sedikitnya 54 orang dilaporkan terluka. Tim penyelamat masih menyisir puing-puing bangunan yang hancur, sementara sejumlah penyintas terpaksa tidur di apartemen yang rusak parah karena tidak memiliki tempat berlindung lain.









