Kasus Influenza A (H3N2) Subclade K Tersebar di 20 Provinsi, DKI Jakarta Tertinggi!

Kasus Influenza A (H3N2) Subclade K Tersebar di 20 Provinsi, DKI Jakarta Tertinggi!

Terkini | inews | Kamis, 24 September 2026 - 12:45
share

JAKARTA, iNews.id - Kasus Influenza A (H3N2) Subclade K telah ditemukan di 20 provinsi di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) hingga minggu ke-36 tahun 2026, DKI Jakarta menjadi provinsi dengan catatan kasus Subclade K tertinggi.

Data tersebut merupakan hasil surveilans sentinel ILI-SARI periode 2025 hingga minggu ke-36 tahun 2026. Secara kumulatif, Kemenkes mencatat 184 kasus Influenza A (H3N2) Subclade K pada periode tersebut.

Dalam catatan persebaran per provinsi, DKI Jakarta mencatat 41 kasus, terdiri atas 28 kasus pada 2025 dan 13 kasus pada 2026.

Jawa Timur berada setelah DKI Jakarta dengan 27 kasus, disusul Kalimantan Selatan sebanyak 22 kasus. Kemudian Sumatera Utara mencatat 14 kasus, DI Yogyakarta 13 kasus, serta Sulawesi Selatan dan Jawa Barat masing-masing 12 kasus.

Kasus Influenza A (H3N2) Subclade K di Indonesia. (Foto: Kemenkes)

Sementara itu, Jawa Tengah tercatat memiliki sembilan kasus, yang terdiri atas enam kasus pada 2025 dan tiga kasus pada 2026.

Provinsi lainnya yang tercatat memiliki kasus Subclade K antara lain Nusa Tenggara Barat tujuh kasus, Sumatera Selatan enam kasus, Papua tiga kasus, Nusa Tenggara Timur tiga kasus, Kalimantan Barat tiga kasus, Bali dua kasus, Sulawesi Utara dua kasus, Sulawesi Barat satu kasus, Kalimantan Timur satu kasus, dan Aceh satu kasus.

Papua Selatan juga tercatat memiliki tiga kasus, yang seluruhnya merupakan kasus pada 2026.

Kasus 2026 Tersebar di 6 Provinsi

Khusus sepanjang minggu pertama hingga minggu ke-36 tahun 2026, Kemenkes mencatat 22 kasus Subclade K yang tersebar di enam provinsi.

Provinsi dengan catatan kasus terbanyak pada periode tersebut adalah DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Papua Selatan.

Berdasarkan kelompok usia, kasus Subclade K paling banyak ditemukan pada anak-anak. Dari total kasus yang tercatat sejak 2025 hingga minggu ke-36 2026, kelompok usia 0-4 tahun menyumbang 38 persen kasus.

Kemudian kelompok usia 5-9 tahun sebesar 23,4 persen dan usia 10-17 tahun sebanyak 21,2 persen. Sementara kelompok usia 18-59 tahun mencapai 15,8 persen dan usia di atas 60 tahun sebesar 1,6 persen.

Proporsi Influenza Meningkat

Di sisi lain, surveilans Kemenkes menunjukkan proporsi influenza pada minggu ke-36 mengalami peningkatan.

Dari pemeriksaan yang dilakukan di 13 B/BLKM, sembilan rumah sakit, dan Laboratorium Biologi Kesehatan, proporsi influenza meningkat menjadi 46 persen pada minggu ke-36, dibandingkan 35 persen pada minggu sebelumnya.

Dari 185 spesimen yang diperiksa pada minggu tersebut, ditemukan 86 kasus positif influenza. Rinciannya terdiri atas delapan kasus Influenza A(H3N2), 76 kasus Influenza A (H1N1pdm09), dan dua kasus Influenza B (Victoria).

Sebanyak 42 persen kasus influenza yang terdeteksi berasal dari kelompok usia 0-4 tahun.

Meski terdapat peningkatan proporsi kasus, Kemenkes menyebut tingkat aktivitas influenza secara keseluruhan masih berada dalam kategori rendah. Kondisi tersebut menunjukkan situasi influenza di Indonesia masih terkendali.

Surveilans puskesmas juga menunjukkan proporsi kasus Influenza Like Illness (ILI) meningkat menjadi 0,40 persen dari total kunjungan pada minggu ke-36, dibandingkan 0,31 persen pada minggu sebelumnya.

Kasus ILI paling banyak ditemukan pada kelompok usia 5-14 tahun, yakni mencapai 45 persen dari total kasus ILI.

Sementara berdasarkan data dari 35 rumah sakit sentinel Surveilans Severe Acute Respiratory Infection (SARI), proporsi kasus positif influenza meningkat menjadi 31,7 persen dari 20,4 persen pada minggu sebelumnya.

Dari 63 spesimen yang diperiksa di rumah sakit pada minggu ke-36, ditemukan 20 kasus positif influenza, terdiri atas 16 kasus Influenza A (H1N1pdm09), tiga kasus Influenza A (H3), dan satu kasus Influenza B (Victoria).

Kemenkes mencatat tidak terdapat kasus positif influenza yang dirawat di ICU pada minggu tersebut.

Data Kemenkes pada beberapa minggu terakhir masih bersifat sementara dan dapat mengalami perubahan seiring bertambahnya hasil pemeriksaan dan pembaruan surveilans.

Topik Menarik