Profil Eugene Panji, Sutradara yang Meninggal Dunia di Usia 52 Tahun

Profil Eugene Panji, Sutradara yang Meninggal Dunia di Usia 52 Tahun

Gaya Hidup | inews | Rabu, 26 Agustus 2026 - 08:42
share

JAKARTA, iNews.id – Dunia perfilman Indonesia tengah berduka. Sutradara sekaligus kreator Eugene Panji meninggal dunia pada Selasa (25/8/2026) pada usia 52 tahun.

Eugene Panji mengembuskan napas terakhir di RS Siloam Puri Cinere, Depok, Jawa Barat. Kabar kepergiannya disampaikan melalui pesan duka yang diterima sejumlah media. 

Hingga saat ini, penyebab meninggalnya Eugene belum disampaikan secara resmi oleh keluarga maupun pihak rumah sakit.

Kepergian Eugene menjadi kehilangan bagi industri kreatif Tanah Air. Semasa hidup, ia dikenal bukan hanya sebagai sutradara film, tetapi juga sosok yang telah lama berkarya di balik layar melalui produksi iklan, video klip musik, hingga berbagai proyek kreatif lainnya.

Profil Eugene Panji, Sutradara yang Meninggal Dunia

Eugene Panji lahir di Jakarta pada 29 Agustus 1973. Ia dikenal sebagai sutradara, produser, dan penata artistik yang memiliki perjalanan panjang di industri kreatif Indonesia.

Sebelum namanya dikenal melalui film layar lebar, Eugene lebih dahulu berkiprah di dunia iklan televisi dan video klip musik.

Namanya tercatat di balik sejumlah video klip musisi Indonesia. Ia pernah menggarap video musik Naif, Agnez Mo, Slank, Tompi, Ada Band, Cokelat, Ipang, Superglad hingga Govinda.

Salah satu karya awal yang tercatat adalah video klip “Piknik ’72” milik Naif pada 1999. Ia kemudian menggarap video klip “Jera” milik Agnez Mo pada 2004 serta sejumlah karya untuk Slank dan musisi lainnya.

Perjalanan panjang di dunia visual tersebut kemudian mengantarkan Eugene ke industri film layar lebar.

Debut Layar Lebar Lewat Film Bermisi Sosial

Eugene Panji memulai debutnya sebagai sutradara film panjang melalui Cita-Citaku Setinggi Tanah pada 2012.

Film tersebut memiliki cerita tersendiri dalam perjalanan karier Eugene. Proses produksinya berlangsung cukup panjang karena sempat menghadapi kendala pendanaan. 

Bahkan, Eugene dan timnya melakukan berbagai upaya untuk mengumpulkan biaya produksi dan membawa film tersebut ke festival internasional.

Yang membuat film ini semakin istimewa, seluruh keuntungan dari Cita-Citaku Setinggi Tanah didedikasikan untuk membantu anak-anak penderita kanker melalui Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI).

Film tersebut juga membawa nama Eugene ke panggung internasional. Cita-Citaku Setinggi Tanah masuk seleksi Festival Film Berlin ke-63 pada 2013 melalui program Generation. Film itu bersaing dengan puluhan film dari berbagai negara.

Bagi Eugene, keberangkatan ke Berlin bukan perkara mudah. Ia bahkan sempat menjual DVD film tersebut untuk membantu membiayai keberangkatan tim produksinya ke Jerman.

Menggarap Film dengan Beragam Genre

Setelah Cita-Citaku Setinggi Tanah, Eugene melanjutkan kiprahnya di layar lebar dengan menggarap Naura & Genk Juara the Movie pada 2017.

Film musikal yang menyasar penonton anak dan keluarga tersebut memperlihatkan sisi lain Eugene sebagai sutradara. Ia kemudian beralih ke genre yang jauh berbeda lewat 22 Menit pada 2018.

Film yang disutradarai bersama Myrna Paramita tersebut mengangkat peristiwa serangan bom Thamrin yang terjadi di Jakarta pada Januari 2016. Judul 22 Menit merujuk pada waktu yang dibutuhkan aparat untuk menangani dan melumpuhkan para pelaku dalam peristiwa tersebut.

Dari film anak dan keluarga, Eugene kemudian kembali menghadirkan drama romantis melalui Bangsatnya Cinta Pertama pada 2023.

Film tersebut merupakan adaptasi dari komik karya Mice Cartoon yang dikerjakan bersama Eugene Panji. Lembaga Sensor Film mencatat Eugene sebagai sutradara film yang dibintangi Adinda Thomas, Elang El Gibran, Rania Putrisari, dan Annette Edoarda tersebut.

Rangkaian karya itu menunjukkan luasnya eksplorasi Eugene dalam dunia penyutradaraan. Ia tidak terpaku pada satu genre, mulai dari cerita anak, drama sosial, film aksi hingga kisah percintaan.

Eugene Panji Tak Hanya Aktif di Dunia Film

Kiprah Eugene Panji ternyata tidak berhenti di balik kamera.

Ia juga dikenal aktif membangun ruang kreatif dan tempat berkumpul yang mempertemukan berbagai komunitas. Eugene turut mendirikan Paviliun 28 di Jakarta dan Longkang Kotagede di Yogyakarta. Kedua ruang tersebut menjadi bagian dari aktivitasnya dalam mengembangkan ekosistem kreatif sekaligus bisnis lokal.

Dengan demikian, perjalanan Eugene selama lebih dari dua dekade tidak hanya meninggalkan karya di layar, tetapi juga ruang bagi orang-orang kreatif untuk bertemu, berkolaborasi, dan menghasilkan karya.

Topik Menarik