Tak Hanya Lansia, Penyakit Jantung Kini Incar Anak Muda akibat Gaya Hidup

Tak Hanya Lansia, Penyakit Jantung Kini Incar Anak Muda akibat Gaya Hidup

Gaya Hidup | inews | Jum'at, 7 Agustus 2026 - 23:36
share

JAKARTA, iNews.id – Penyakit jantung kini tidak lagi identik dengan kelompok lanjut usia (lansia). Gaya hidup tidak sehat yang banyak dijalani anak muda, khususnya Generasi Z (Gen Z), membuat risiko penyakit kardiovaskular meningkat sejak usia produktif dan berpotensi berkembang menjadi gagal jantung di masa mendatang.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr Bobby Arfhan Anwar, mengingatkan bahwa sejumlah kebiasaan yang dianggap sepele justru menjadi pemicu utama kerusakan jantung dalam jangka panjang. Melalui edukasi di akun Instagram pribadinya, dia menyoroti empat kebiasaan yang perlu segera dihentikan.

Kebiasaan pertama adalah merokok, termasuk penggunaan rokok elektrik atau vape yang kian populer di kalangan anak muda. Menurut dr Bobby, keduanya sama-sama dapat merusak pembuluh darah jantung.

"Merokok itu warisan kuno generasi milenial dan di atasnya. Tidak ada manfaatnya, melainkan memicu kecanduan dan merusak pembuluh darah jantung. Ngevape pun bukan berarti lebih aman, karena yang dibutuhkan tubuh hanyalah udara bersih," ujarnya, dikutip Kamis (6/8/2026).

Selain itu, konsumsi makanan dan minuman manis secara berlebihan juga menjadi perhatian. Kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko diabetes melitus yang merupakan salah satu faktor penyebab penyakit jantung.

"Gen Z yang hobi makan dan minum manis, tiap hari harus ada yang manis-manis. Konsumsi gula yang melebihi batas rekomendasi harian (maksimal 50 gram/hari) membuat kita berisiko terkena diabetes. Diabetes inilah yang meningkatkan risiko sakit jantung di kemudian hari," katanya.

Tak hanya gula, konsumsi makanan cepat saji dan ultra-processed food (UPF) yang tinggi garam juga berpotensi memicu hipertensi. Jika tidak dikendalikan, tekanan darah tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada jantung dan pembuluh darah.

"Makanan cepat saji dan UPF tinggi akan garam. Kelebihan konsumsi garam harian (lebih dari 5 gram/hari) meningkatkan risiko hipertensi. Hipertensi yang tidak dikontrol bisa berujung pada sakit jantung," ujarnya.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah minimnya aktivitas fisik. Gaya hidup sedentari atau terlalu banyak duduk membuat berat badan meningkat dan memicu sindrom metabolik yang memperberat kerja jantung.

"Gen Z yang hobinya mager dan tidak ada waktu khusus olahraga, lingkar perutnya akan bertambah. Lama-lama ini memicu sindrom metabolik. Jantung yang tidak pernah dilatih dengan olahraga kardio sangat rentan sakit. Makin gemuk seseorang, kerja jantungnya pun makin berat," katanya.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut kebiasaan-kebiasaan tersebut dapat memicu penyakit jantung kronis hingga gagal jantung, yakni kondisi ketika jantung tidak mampu memompa darah secara optimal ke seluruh tubuh.

Sebab itu, para ahli mengingatkan pentingnya menerapkan pola hidup sehat sejak usia muda. Menghindari rokok, membatasi konsumsi gula dan garam, mengurangi makanan cepat saji, serta rutin berolahraga menjadi langkah sederhana yang dapat membantu menekan risiko penyakit jantung di masa depan.

Topik Menarik