Di Depan PM Anutin, Hashim Ajak Thailand Perkuat Investasi dan Manfaatkan Pasar Karbon RI
JAKARTA, iNews.id - Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Perubahan Iklim, Hashim Djojohadikusumo mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang aman untuk berinvestasi, termasuk bagi investor asal Thailand. Di hadapan Perdana Menteri (PM) Thailand Anutin Charnvirakul, Hashim menegaskan Indonesia konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif demi menjaga iklim bisnis yang kondusif.
Pernyataan ini disampaikan Hashim dalam Indonesia-Thailand Business Forum yang diselenggarakan Kamar Dagang dan Industri Indonesia bersama Thailand. Forum ini merupakan lanjutan dari rangkaian kunjungan Anutin beserta delegasi bisnis Thailand ke Indonesia setelah bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Senin (3/8/2026).
"Kami menyambut baik perusahaan dari seluruh dunia dan dapat meyakinkan seluruh investor atas keandalan kami. Investasi Anda aman dan akan selamanya aman di Indonesia," ujar Hashim dalam Indonesia-Thailand Business Forum di Jakarta, Selasa (4/8/2026).
Rayakan 80 Tahun Pengabdian untuk Negeri, BNI Hadirkan Ragam Promo Spesial: Terus Ada, Ada Terus
Hashim menambahkan, landasan politik luar negeri Indonesia memberikan ruang yang terbuka bagi kemitraan ekonomi global tanpa diskriminasi. Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto melanjutkan prinsip para pendiri bangsa untuk menjaga kepercayaan investor di berbagai sektor.
"Presiden Prabowo selalu menyampaikan bahwa kebijakannya melanjutkan prinsip 'seribu teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak' sehingga pemerintah selalu menghormati komitmen investor baik di industri ekstraktif, manufaktur, hingga perbankan," kata dia.
Dia menjelaskan, prinsip netralitas yang dijalankan Indonesia selama 75 tahun membuat iklim investasi terbuka bagi korporasi dari Rusia, China, Amerika Serikat, Eropa, Jepang, hingga Australia. Kepastian tersebut, kata dia, menjadi jaminan bagi pelaku usaha untuk berinvestasi di Indonesia.
Selain menjamin keamanan investasi, Hashim juga mengajak pelaku industri dan korporasi Thailand memanfaatkan pasar karbon Indonesia. Menurutnya, perdagangan karbon dapat menjadi sarana bagi perusahaan global untuk memenuhi kebutuhan kredit pengimbangan emisi (carbon offset).
Vietnam dan Filipina Naik Kelas Jadi Negara Berpendapatan Menengah ke Atas, Bagaimana Indonesia?
"Kami telah memulai pasar karbon sejak 9 Juli agar mereka yang perlu mengompensasi emisi dapat membeli kredit melalui pasar karbon Indonesia, dan hal ini tentu ditawarkan kepada perusahaan serta manufaktur Thailand," tuturnya.
Hashim menambahkan, penguatan pasar karbon didukung oleh regulasi nasional di bidang iklim serta partisipasi aktif Indonesia dalam forum COP31.
Di akhir paparannya, Hashim menilai hubungan Indonesia dan Thailand telah teruji dalam berbagai krisis, mulai dari krisis keuangan Asia 1997 hingga tantangan kenaikan harga energi global akibat penutupan Selat Hormuz. Karena itu, dia mendorong kedua negara memperkuat kolaborasi untuk menghadapi guncangan ekonomi global.
"Kita berbagi nasib yang sama, mulai dari krisis sejarah hingga dampak penutupan Selat Hormuz pada harga energi dan komoditas, sehingga ada dorongan lebih besar bagi kita untuk berkolaborasi membentengi diri dari guncangan eksternal," ucap Hashim.









